DNR PROFIL

DNR  PROFIL

Pengelola sanggar seni dnr

Foto Saya
kuningan, Jawa Barat, Indonesia
NAMA PANGGILAN Dede dnr, AGAMA Islam, SUKU Sunda,PEKERJAAN pns pada Dinas Pariwisata dan Kebudayan Kab Kuningan, TEMPAT TANGGAL LAHIR Bandung 2 Juli 1970 PENDIDIKAN Akademi Seni Tari Indonesia ( Bandung ),Sekolah Tinggi Seni Indonesia ( Denpasar ),ALAMAT jLN. R.E. Martadinata Sebelah Timur Kantor Bapeda no.1 Kuningan - Jawa Barat - Indonesia

Minggu, 22 Agustus 2010

d223

Classical Degung

*
Pencarian:

*
Kategori
Uncategorized
*
Arsip
April 2009
*
Tautan
WordPress.com
WordPress.org


Musik Degung Sunda
21 April 2009, 4:52 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized | Tag: degung klasik, degung sunda, musik tradisi, musik tradisi indonesia, sunda

Musik Degung Klasik Sunda

oleh: Rachmat Herawan, S.Sn*
1. Asal Mula Musik Degung

Jaap Kunst dalam bukunya Toonkunst van Java (Kunst, 1934), mencatat bahwa awal perkembangan Degung adalah sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Dalam studi literaturnya, disebutkan bahwa kata “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “de gong” (gamelan: Belanda) dalam kamus ini terkandung pengertian: penclon-penclon yang digantung[1]. Menurut Entjar Tjarmedi dalam bukunya Pangajaran Degung, waditra (instrumen: Sunda) ini berbentuk 6 buah gong kecil yang biasanya digantung pada sebuah gantungan yang disebut dengan rancak. Menurut beliau istilah “gamelan Degung” diambil dari nama waditra tersebut, yang kini lebih dikenal dengan istilah jenglong (Tjarmedi, 1974: 7).

Adapun mengenai waktu kemunculannya belum ada literatur yang akurat selain kamus H.J. Oosting di atas. Namun sebagaimana Jaap Kunst, Enip Sukanda pun berpendapat dalam karya penelitiannya tentang Dedegungan pada Tembang Sunda Cianjuran, bahwa ketika kamus itu dicetak berarti gamelan Degung-nya sudah ada terlebih dahulu, katakanlah sekitar 100 tahun sebelumnya (Sukanda, 1984:15).

Ada pendapat lain yaitu dari Atik Soepandi, dalam tulisannya mengenai Perkembangan Seni Degung Di Jawa Barat, bahwa gamelan Degung adalah istilah lain dari Goong Renteng, mengingat banyak persamaan antara lagu-lagu Degung Klasik dengan lagu-lagu goong renteng (Soepandi, 1974). Perbedaannya adalah apabila Goong Renteng kebanyakan ditemukan di kalangan masyarakat petani (rakyat), maka gamelan Degung ditemukan di lingkungan bangsawan (menak).

2. Istilah “Degung”

Istilah “degung” memiliki dua pengertian: pertama, adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda, yakni gamelan-degung. Gamelan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gamelan pelog-salendro, baik dari jenis instrumennya, lagu-lagunya, teknik memainkannya, maupun konteks sosialnya; kedua, adalah nama laras (tangga nada) yang merupakan bagian dari laras salendro berdasarkan teori R. Machjar Angga Koesoemahdinata. Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk nada mi (2) dan la (5)) dan degung triswara (tumbuk nada da (1), na (3), dan ti (4))[2]. Karena perbedaan inilah maka Degung dimaklumi sebagai musik yang khas dan merupakan identitas masyarakat Sunda.

Dihubungkan dengan kirata basa[3], kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E.Sutisna, salah seorang nayaga (penabuh) grup Degung “Parahyangan”, mengatakan bahwa gamelan Degung dulunya hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam buku Sejarah Seni Budaya Jawa Barat Jidlid II yang disusun oleh Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, disebutkan bahwa:

“Pada mulanya pemanggungan gamelan Degung terbatas di lingkungan pendopo-pendopo kabupaten untuk mengiringi upacara-upacara yang bersifat resmi. Menurut riwayat, gamelan Degung yang masuk ke kabupaten Bandung berasal dari kabupaten Cianjur. Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V yang kemudian dikenal dengan julukan Dalem Haji sebelum menjadi bupati Bandung pernah berkedudukan sebagai bupati Cianjur. Pada waktu itu di kabupaten Cianjur telah berkembang seni Degung. Pada tahun 1920 R.A.A. Wiranatakusumah V mulai diangkat menjadi bupati Bandung, ketika itu beberapa orang pemain seni Degung Cianjur ada yang ikut serta ke Bandung.” (1977: 69)

Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa pada awalnya gamelan ini merupakan musik keraton atau kadaleman, di mana nilai-nilai etika sosial dan estetika dijunjung tinggi. Pada saat itu musik Degung merupakan musik gendingan (instrumental) untuk mengiringi momen-momen yang sakral. Namun kepindahannya secara politis dari kabupaten Cianjur ke kabupaten Bandung, menyebabkan perubahan-perubahan penting yang akan diterangkan pada bagian setelah ini.

3. Struktur Waditra/Instrumen

Pada awal pemerintahan Dalem Haji[4] sebagai bupati Bandung, ensambel gamelan Degung hanya terdiri dari alat-alat instrumen: bonang, cecempres (saron/panerus), jengglong (degung), dan goong. Namun atas usul Abah Iyam dan putra-putranya, yaitu Abah Idi, Abah Oyo, dan Abah Atma, para seniman musik Bandung yang sudah membentuk grup “Pamagersari” (Abah Idi, 1918) dan “Purbasasaka” (Abah Oyo, 1919), perangkatnya ditambah dengan: peking, kendang, dan suling. Usul ini disampaikan setelah diadakan Cuultuurcongres Java Instituut pada tanggal 18 Juni 1921 yang di dalamnya menampilkan Goong Renteng dari desa Lebakwangi, kecamatan Banjaran, kabupaten Bandung[5].

Pada tahun 1961 oleh R.A. Darya atau R.A. Mandalakusuma (kepala RRI Bandung), ketika menggunakan musik Degung untuk mendukung gending karesmen[6] berjudul “Mundinglayadikusumah” garapan Wahyu Wibisana, waditra Degung ditambah lagi dengan gambang dan rebab. Lalu pada tahun 1962, ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam ensambel Degung. Nano S. dalam karya-karya Degung Baru bahkan memasukkan waditra kacapi. Namun penambahan beberapa waditra ini tidak bertahan lama, hanya bersifat situasional dan kondisional pada garapan tertentu, kecuali waditra peking, kendang, dan suling yang masih bertahan sampai sekarang.

Dilihat dari bentuknya, waditra bonang, jenglong, dan goong berbentuk penclon, yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon (alat pukul) dengan sub klasifikasi gong chime. Sedangkan waditra cecempres dan peking berbentuk wilahan (bilah), yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon dengan sub klasifikasi metalofon. Sementara waditra suling termasuk aerofon, dan kendang termasuk membranofon. Klasifikasi ini berdasarkan terjemahan Rizaldi Siagian dari teori Sachs/Hornbostel (1914:6)[7].

Banyaknya penclon pada waditra bonang biasanya antara 14 sampai dengan 16 buah, dimulai dengan nada 1 (da) tertinggi sampai nada 1 (da) terendah sebanyak 3 gembyang (oktaf). Penclon-penclon ini disusun di atas rancak (penyangga), dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) di ujung sebelah kanan pemain, berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) di ujung sebelah kiri pemain. Hal ini disesuaikan dengan urutan nada pada laras (tangga nada) Degung[8]. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra lainnya. Pangkat (intro) lagu Degung dimulai dari waditra ini.

Penclon pada waditra jenglong berjumlah 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la) hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang), dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. Penclon-penclon ini digantung dengan tali pada rancak yang berbentuk tiang gantungan (lihat gambar 4 di belakang-kanan). Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass; penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang.

Gong yang terdiri dari 2 buah penclon, yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak (lihat gambar 8 di belakang-kiri). Kempul berada di sebelah kiri pemain, sementara goong di sebelah kanan pemain. Ambitus nada gong sangat rendah, bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu.

Jumlah wilahan pada cecempres adalah 14 buah, disusun di atas rancak yang dimulai dari nada 2 (mi) tertinggi di ujung sebelah kanan pemain hingga nada 5 (la) terendah di ujung sebelah kiri pemain. Cecempres bertugas sebagai rithm (patokan nada) yang menegaskan melodi bonang, yang dipukul dengan pola yang konstan.

Adapun jumlah wilahan pada peking adalah sama dengan cecempres, namun nada-nada peking memiliki ambitus (wilayah nada) yang lebih tinggi dari cecempres (biasanya antara sakempyung: kira-kira 1 kwint hingga sagembyang: kira-kira 1 oktav). Tugas peking agak berbeda dari cecempres, yakni sebagai pengiring melodi. Apabila jenglong dan cecempres dipukul tandak (konstan menurut ketukan), maka peking terkesan lebih ber-improvisasi. Peking sering juga disebut sebagai pameulit/pamanis lagu. Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, peking merupakan waditra tambahan.

Seperti halnya peking, waditra kendang dan suling juga merupakan tambahan. Pada awalnya kendang tidak dimainkan seperti pada lagu-lagu berlaras pelog/salendro, tetapi hanya sebagai penjaga ketukan saja seperti pada orkestra Barat. Namun permainan kendang pada lagu-lagu Degung sekarang lebih variatif, sehingga menurut penulis hal ini menyebabkan penonjolan melodi bonang jadi ‘tersaingi’. Begitupun dalam permainan suling. Walaupun dengan timbre (warna suara) yang berbeda, namun kedudukannya sama seperti vokal sehingga pendengar jadi kurang menikmati melodi bonang. Namun pada lagu-lagu Degung Baru kehadiran peking, kendang, dan suling ini menjadi hal biasa, apalagi bagi apresiator yang belum pernah mendengar lagu-lagu Degung.

Bahan dasar pembuatan bonang, cecempres, peking, jenglong, dan goong yang paling baik kualitas suaranya adalah dari logam perunggu (campuran timah dan tembaga dengan perbandingan 1 : 3). Ada yang menggunakan bahan dasar logam kuningan dan besi. Namun kedua logam tersebut kualitas suaranya lebih rendah daripada logam perunggu[9]. Kualitas logam ini pun berpengaruh kepada daya tahan terhadap cuaca.

4. Laras/Tangga Nada

Laras (berasal dari bahasa Jawa) mengandung pengertian yang sama dengan tangga nada pada musik Barat, yakni: deretan nada-nada, baik turun maupun naik, yang disusun dalam satu gembyang (oktav) dengan swarantara (interval) tertentu. Satu gembyang adalah jarak antara satu nada ke nada yang sama di atasnya (misalnya dari 1 ke 1’ tinggi). Seperti kita ketahui bahwa pada teori musik Barat, satu gembyang berjarak 1200 sen.

Sementara swarantara adalah jarak antara nada satu ke nada berikutnya (misalnya 1 ke 2, 2 ke 3, dan seterusnya). Perbedaan laras Sunda dengan tangga nada musik Barat adalah, apabila pada tangga nada musik Barat penomoran nada diatur naik dari nada rendah ke nada tinggi (berjumlah 7 nada pokok), maka pada laras Sunda penomoran diatur menurun dari nada tinggi ke nada rendah (berjumlah 5 nada pokok).

Dalam karawitan Sunda dikenal empat laras pokok, yaitu: laras pelog, laras salendro (yang keduanya dikenal juga di Jawa dan Bali), laras madenda/sorog, dan laras Degung (yang kedua terakhir ini hanya dikenal di daerah Sunda). Keempat laras ini masing-masing memiliki perbedaan pada swarantaranya. Raden Machjar Angga Koemoemadinata dalam buku Ilmu Seni Raras (1969) telah membagi perbedaan swarantara pada laras-laras tersebut, namun uraian mengenai hal itu akan memerlukan pembahasan yang terlalu panjang. Dalam tulisan ini, yang diperlukan adalah perbedaan swarantara pada laras Degung.

Laras Degung:

Seperti pada laras Pelog, swarantara pada laras Degung dari nada yang satu ke nada berikutnya juga berbeda-beda. Namun laras Degung menurut Rd. Machjar merupakan keturunan dari laras Salendro, sehingga 1 gembyangnya dibagi menjadi 15 garis jarak, jadi masing-masing jaraknya adalah 1200/15 = 80 sen. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik berikut ini:

1 (da)














2 (mi)






























































3 (na)




















1 gembyang













= 1200 sen







4 (ti)














5 (la)






























































1 (da)


Keterangan:

Swarantara antar nada-nada pada laras Degung adalah sebagai berikut:

- Swarantara nada 1 (da) ke 2 (mi) adalah 80 sen.

- Swarantara nada 2 (mi) ke 3 (na) adalah 400 sen.

- Swarantara nada 3 (na) ke 4 (ti) adalah 240 sen.

- Swarantara nada 4 (ti) ke 5 (la) adalah 80 sen.

- Swarantara nada 5 (la) ke 1 (da) adalah 400 sen.

Namun beberapa tahun terakhir ini banyak peneliti yang mengkritisi teori Rd. Machjar, di antaranya adalah tulisan Heri Herdini pada Jurnal Seni STSI Bandung, Panggung, edisi XXXII yang berjudul “Peninjauan Ulang Terhadap Teori Laras dan Surupan Karya Raden Machjar Angga Koesoemadinata”. Tulisan itu merupakan hasil penelitian terhadap 52 alat musik yang terdiri dari 30 instrumen gamelan, 10 instrumen tarawangsa (rebab dan kacapi), 7 instrumen kacapi indung, dan 5 instrumen rebab. Penelitian ini dipimpin oleh Deni Hermawan dengan bantuan sponsor dari The Toyota Foundation.

Setelah dilakukan pengukuran frekuensi nada-nada pada gamelan, kacapi, dan rebab tersebut dengan menggunakan alat ukur frekuensi bernama Dual Channel Real-Time Frequency Analyzer tipe 2144, diperoleh data-data sebagai berikut:

Tabel 2.1.

Data interval laras Degung, Madenda, dan Salendro

NO.


NAMA LARAS


SUSUNAN INTERVAL NADA

1


Laras Degung


1


2








3




4


5








1

99,65 398,64 199,31 99,65 398,64

2


Laras Madenda


3


4




5








1


2








3

99,72 199,31 398,66 99,65 398,65

3


Laras Salendro


1


2


3


4


5


1

249,11 249,14 199,31 249,13 249,14


Tabel 2.2.

Interval dari ketiga laras tersebut apabila dibulatkan menjadi:

NO.


NAMA LARAS


SUSUNAN INTERVAL NADA

1


Laras Degung


1


2








3




4


5








1

100 400 200 100 400

2


Laras Madenda


3


4




5








1


2








3

100 200 400 100 400

3


Laras Salendro


1


2


3


4


5


1

250 250 200 250 250


Dari data-data hasil penelitian tersebut, maka Herdini menarik kesimpulan sebagai berikut:

“Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa laras salendro yang sebenarnya adalah ‘bedantara’ dengan susunan interval 250 – 250 – 200 – 250 – 250. Dengan demikian, laras salendro padantara sebagaimana yang dinyatakan dalam teori laras Raden Machjar Angga Koesoemadinata sesungguhnya tidak ada. Kesimpulan kedua, pendapat Raden Machjar Angga Koesoemadinata tentang laras Degung dan madenda sebagai turunan dari laras salendro sesungguhnya perlu dipertanyakan dan dikaji ulang kembali, oleh karena interval 250 sen pada laras salendro bila dibagi oleh interval 100 sen pada laras Degung dan madenda tidak menghasilkan jumlah yang bulat. Dengan demikian, dilihat dari proses pembentukannya, laras Degung dan madenda merupakan laras yang mandiri bukan merupakan keturunan dari laras salendro.” (Herdini, 2004:65-66)

Pada kenyataannya sistem pelarasan dalam karawitan (musik) Sunda memang tidak ada yang persis sama. Kenyataan ini akan semakin terasa apabila kita mencoba membandingkan antara instrumen yang satu dengan lainnya, misalnya: antara laras goong renteng Embah Bandong desa Lebakwangi-Batukarut di Bandung selatan, berbeda dengan laras goong renteng Panggugah Manah desa Cigugur di Kuningan; antara kacapi indung Cianjuran dengan Jentreng Tarawangsa; antara gamelan Degung di Bandung dengan di Cirebon; dan sebagainya.

5. Pola Tabuhan

Karakteristik yang paling menonjol – dan jarang ditemukan pada ensambel gamelan lain – dari musik Degung adalah pola tabuhan bonangnya yang menggunakan teknik gumekan[10]. Pola tabuhan bonang inilah yang mewakili ekspresi melodi utama musik instrumental Degung seperti permainan piano pada musik klasik Barat[11]. Ketrampilan kedua tangan pemain bonang memegang peranan yang penting sebagai ‘komando’ pada orkestra ini.

Pada gamelan pelog/salendro pola tabuhan bonang dan rincik[12] menggunakan teknik dikemprang[13] atau dicaruk[14]. Namun teknik dicaruk lebih sering digunakan pada pola tabuhan saron I dan saron II. Jadi, perlu digarisbawahi bahwa apabila kita menemukan pola tabuhan bonang yang dikemprang ataupun peking dan saron yang dicaruk pada lagu Degung, sesungguhnya hal itu adalah pengaruh dari jenis kesenian lain yang menggunakan gamelan pelog/salendro, seperti: kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan.

Teknik gumekan bonang inilah yang menjadi ciri khas lagu-lagu Degung sekaligus yang membedakannya dengan teknik kemprangan atau carukan pada lagu-lagu kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan. Degung adalah orkestra yang berbentuk instrumental dengan bonang sebagai ‘induk’nya, sementara kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan musik pengiring untuk sekar atau tarian.

6. Repertoar Degung

Repertoar gamelan Degung dibagi menjadi dua jenis: pertama, repertoar Degung klasik yang masih mempertahankan teknik gumekan bonang sebagai ekspresi melodi; kedua, repertoar Degung non klasik – oleh Soepandi disebut dengan Degung Baru – yang sudah dipengaruhi oleh pola tabuhan gamelan pelog/salendro (dikemprang atau dicaruk).

Kalimat lagu pada Degung klasik (intrumentalia) umumnya panjang-panjang, karena itu sering disebut juga dengan ‘lagu ageung’. Sementara pola lagu-lagu Degung Baru merupakan pirigan[15] untuk mengiringi sekar, karena itu sering disebut juga dengan ‘lagu alit’. Namun dalam perkembangannya, beberapa lagu ageung pun sekarang sudah ada yang diisi rampak sekar (vokal grup).

Struktur garapan pada repertoar Degung terdiri dari: pangkat, eusi, dan madakeun. Struktur ini sama dengan istilah overture, interlude, dan coda pada musik Barat. Pangkat adalah kalimat pembuka lagu yang dimainkan oleh waditra bonang. Eusi adalah melodi pokok yang merupakan isi lagu itu sendiri. Madakeun adalah kalimat penutup lagu. Kalimat pangkat dan madakeun lebih pendek daripada eusi.

Melodi pangkat dan madakeun kebanyakan berakhir pada nada 5 (la) dengan pukulan goong (gong besar) yang juga biasanya bernada 5 (la) rendah. Di dalam eusi lagu-lagu pun akan banyak kita temui nada 5 (la) sebagai akhir kalimat lagu (titik), sementara nada 2 (mi) biasanya dijadikan akhir melodi pada pertengahan lagu (koma). Ini menunjukkan bahwa nada 2 (mi) dan nada 5 (la) merupakan nada yang penting dan menjadi ciri khas lain pada repertoar Degung.

Beberapa contoh repertoar Degung yang diciptakan oleh R.A.A. Koesoemahningrat V (Dalem Pancaniti: 1834-1868) dan R.A.A. Prawadiredja II (Dalem Bintang: 1868-1910) pada Album Serial Degung produksi PT. Gema Nada Pertiwi tahun 2002 adalah: 1) Mangari, 2) Maya Selas, 3) Lalayaran, 4) Palsiun, 5) Genye, 6) Paturay, 7) Ayun Ambing, 8) Sang Bango, 9) Paksi Tuwung, 10) Lambang, 11) Manintin, 12) Jipang Prawa, 13) Palwa, 14) Kadewan, 15) Banteng Wulung, 16) Beber Layar, 17) Kulawu, 18) Padayungan, 19) Ladrak, 20) Balenderan, 21) Papalayon, 22) Mangu-Mangu Degung, 23) Jipang Lontang, 24) Gegot, 25) Sulanjana, 26) Karang Mantri Kajineman, 27) Gunung Sari, 28) Banjaran, 29) Kunang-Kunang, 30) Celementre, 31) Renggong Buyut, dan 32) Senggot (Volume 1 s/d 7). Beberapa merupakan hasil recomposed (arransemen ulang) oleh Abah Idi[16].

Abah Idi dalam perjalanannya sebagai tokoh Degung awal abad XX, pernah membuat ciptaan asli (bukan recomposed), yakni: 1) Sangkuratu, 2) Duda, 3) Galatik Mangut, dan 4) Ujung Laut. Sementara Entjar Tjarmedi, sebagai salah seorang tokoh yang pernah ‘menyelamatkan’ Degung pada awal tahun 1950-an dengan siaran rutinnya di RRI Bandung, tercatat juga sebagai komposer repertoar Degung dengan lagu-lagu: 1) Kahyangan, 2) Layungsari, 3) Pajajaran, 4) Kidang Mas, 5) Lengser Midang, 6) Pulo Ganti, 7) Kajajaden, 8) Lambang Parahyangan, dan 9) Purbasaka. Nama-nama komposer lainnya yaitu: Abah Atma yang menciptakan lagu 1) Maya Selas dan 2) Paron; Abah Absar lagu 1) Karang Kamulyan dan 2) Hayam Sabrang; U. Tarya lagu 1) Seler Degung; Hj. Siti Rokayah lagu 1) Sinangling Degung.

Adapun repertoar non klasik/Degung Baru sangat banyak jumlahnya. Sangatlah tidak mungkin untuk dituliskan semuanya dalam paper ini. Namun sebagai sekedar contoh yang paling mewakili jenis tersebut adalah karya Nano S. dengan grup “Gentra Madya”nya berupa album kaset Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980), Tamperan Kaheman (1981), Anjeun (1984), dan Kalangkang (1986) yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana.

Dari judul-judul repertoar musik Degung di atas (dalam bahasa Sunda), bisa kita lihat bahwa musik Degung hampir seluruhnya menggambarkan suasana alam pegunungan, apalagi setelah kita mendengarkan lagu-lagunya yang mengalun lembut. Namun sangat disayangkan, bahwa musik Degung pada zaman sekarang sudah jarang diminati oleh masyarakat Sunda sendiri, sehingga keasliannya terancam punah. Yang disebut musik Degung sekarang hanyalah waditra gamelannya, sedangkan lagu-lagunya kebanyakan sudah bukan lagu-lagu Degung klasik dalam bentuk musik intrumentalia lagi. Para pangrawit Degung juga kebanyakan adalah para pangrawit gamelan Pelog-Salendro.

[1] Disarikan dari situs www.westjava-indonesia.com/2004/thevoyage/cultural.

[2] Lihat Kurnia & Nalan (2003: 40); lihat juga Hermawan (2002: 57).

[3] Kirata dalam pengertian masyarakat Sunda adalah singkatan dari: dikira-kira tapi nyata.

[4] Julukan bagi R.A.A. Wiranatakusumah V.

[5] Lihat Tjarmedi (1974: 10); lihat juga Soepandi (1974: 8).

[6] Semacam opera (sandiwara) Sunda, yang terdiri dari nyanyian (sekar) dan permainan instrumen (gending).

[7] Lihat Herdini (1992: 47).

[8] Lihat pembahasan berikutnya tentang laras (tangga nada) Degung.

[9] Di Propinsi Jawa Barat bengkel (pabrik) gong terbesar dan tertua terdapat di daerah Pancasan – Kotamadya Bogor. Harga seperangkat gamelan Degung yang terbuat dari bahan perunggu ini berkisar antara 20 hingga 30 juta rupiah. Selain yang terbuat dari perunggu, ada juga perangkat gamelan Degung yang terbuat dari kuningan dengan harga 10 hingga 15 juta rupiah, atau besi dengan harga 5 hingga 10 juta rupiah. Harga-harga tersebut lengkap dengan rancak, satu set kendang, dan suling. Lamanya pembuatan berkisar antara satu minggu hingga sebulan (bergantung jenis pesanan) (hasil wawancara penulis ketika melakukan riset dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Seni di Jurusan Karawitan – STSI Bandung).

[10] Gumek adalah ketangkasan/keterampilan sahut menyahut antara tangan kanan dan kiri dalam memainkan bonang musik Degung Klasik (Soepandi, 1988: 70).

[11] Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena pengaruh hubungan dengan pemerintahan Belanda, yang di dalamnya pasti terkait juga aspek komunikasi para seniman Barat dengan seniman Sunda. Lihat Sumarsam (2003: bab 3).

[12] sejenis bonang dengan oktav lebih tinggi.

[13] Teknik dikemprang adalah suatu cara menabuh bonang dengan menggunakan kedua tangan dengan jarak satu gembyang. Umumnya tabuhan kemprangan jatuh pada ketukan ganjil (ke-1 dan ke-3).

[14] Teknik dicaruk adalah dua instrumen yang dipukul bersahutan, bila yang satu jatuh pada ketukan ganjil (ke-1 dan ke-3), maka yang lainnya jatuh pada ketukan genap (ke-2 dan ke-4).

[15] Kalimat lagu dengan motif-motif pendek dan berulang-ulang pada posisi nada tumbuk yang terpola sebagai koma dan titik.

[16] Sangat sulit menemukan rekaman repertoar Degung asli, karena teknologi rekaman pada saat itu baru sebatas piringan hitam. Tidak ada lembaga atau instansi yang masih menyimpannya. Kalaupun masih ada mungkin disimpan sebagai koleksi perorangan, dan ini sulit untuk dilacak (wawancara dengan Enip Sukanda dan pegawai RRI Bandung, pada kesempatan terpisah).

note: kontak penulis, *mamarahmat@gmail.com, Jurusan Karawitan STSI Bandung, atau 0818210303
1 Komentar

1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Punten nembe ngawaler, Ki! Tos lami teu muka, hilap passwordna. Eta seratan teu acan aya versi basa Sundana. Insya Allah ka payun urang pilari. Manawi Ki Harsono tiasa ngalihkeun kana basa Sunda? Kacida sim kuring atoh pisan. Hatur nuhun sateuacanna!
Komentar oleh degung2009 27 Agustus 2009 @ 12:22 am
Balas
dnr

देगुंग 22

Classical Degung

*
Pencarian:

*
Kategori
Uncategorized
*
Arsip
April 2009
*
Tautan
WordPress.com
WordPress.org


Musik Degung Sunda
21 April 2009, 4:52 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized | Tag: degung klasik, degung sunda, musik tradisi, musik tradisi indonesia, sunda

Musik Degung Klasik Sunda

oleh: Rachmat Herawan, S.Sn*
1. Asal Mula Musik Degung

Jaap Kunst dalam bukunya Toonkunst van Java (Kunst, 1934), mencatat bahwa awal perkembangan Degung adalah sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Dalam studi literaturnya, disebutkan bahwa kata “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “de gong” (gamelan: Belanda) dalam kamus ini terkandung pengertian: penclon-penclon yang digantung[1]. Menurut Entjar Tjarmedi dalam bukunya Pangajaran Degung, waditra (instrumen: Sunda) ini berbentuk 6 buah gong kecil yang biasanya digantung pada sebuah gantungan yang disebut dengan rancak. Menurut beliau istilah “gamelan Degung” diambil dari nama waditra tersebut, yang kini lebih dikenal dengan istilah jenglong (Tjarmedi, 1974: 7).

Adapun mengenai waktu kemunculannya belum ada literatur yang akurat selain kamus H.J. Oosting di atas. Namun sebagaimana Jaap Kunst, Enip Sukanda pun berpendapat dalam karya penelitiannya tentang Dedegungan pada Tembang Sunda Cianjuran, bahwa ketika kamus itu dicetak berarti gamelan Degung-nya sudah ada terlebih dahulu, katakanlah sekitar 100 tahun sebelumnya (Sukanda, 1984:15).

Ada pendapat lain yaitu dari Atik Soepandi, dalam tulisannya mengenai Perkembangan Seni Degung Di Jawa Barat, bahwa gamelan Degung adalah istilah lain dari Goong Renteng, mengingat banyak persamaan antara lagu-lagu Degung Klasik dengan lagu-lagu goong renteng (Soepandi, 1974). Perbedaannya adalah apabila Goong Renteng kebanyakan ditemukan di kalangan masyarakat petani (rakyat), maka gamelan Degung ditemukan di lingkungan bangsawan (menak).

2. Istilah “Degung”

Istilah “degung” memiliki dua pengertian: pertama, adalah nama seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat Sunda, yakni gamelan-degung. Gamelan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan gamelan pelog-salendro, baik dari jenis instrumennya, lagu-lagunya, teknik memainkannya, maupun konteks sosialnya; kedua, adalah nama laras (tangga nada) yang merupakan bagian dari laras salendro berdasarkan teori R. Machjar Angga Koesoemahdinata. Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk nada mi (2) dan la (5)) dan degung triswara (tumbuk nada da (1), na (3), dan ti (4))[2]. Karena perbedaan inilah maka Degung dimaklumi sebagai musik yang khas dan merupakan identitas masyarakat Sunda.

Dihubungkan dengan kirata basa[3], kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa fungsi kesenian ini dahulunya digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E.Sutisna, salah seorang nayaga (penabuh) grup Degung “Parahyangan”, mengatakan bahwa gamelan Degung dulunya hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam buku Sejarah Seni Budaya Jawa Barat Jidlid II yang disusun oleh Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, disebutkan bahwa:

“Pada mulanya pemanggungan gamelan Degung terbatas di lingkungan pendopo-pendopo kabupaten untuk mengiringi upacara-upacara yang bersifat resmi. Menurut riwayat, gamelan Degung yang masuk ke kabupaten Bandung berasal dari kabupaten Cianjur. Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V yang kemudian dikenal dengan julukan Dalem Haji sebelum menjadi bupati Bandung pernah berkedudukan sebagai bupati Cianjur. Pada waktu itu di kabupaten Cianjur telah berkembang seni Degung. Pada tahun 1920 R.A.A. Wiranatakusumah V mulai diangkat menjadi bupati Bandung, ketika itu beberapa orang pemain seni Degung Cianjur ada yang ikut serta ke Bandung.” (1977: 69)

Dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa pada awalnya gamelan ini merupakan musik keraton atau kadaleman, di mana nilai-nilai etika sosial dan estetika dijunjung tinggi. Pada saat itu musik Degung merupakan musik gendingan (instrumental) untuk mengiringi momen-momen yang sakral. Namun kepindahannya secara politis dari kabupaten Cianjur ke kabupaten Bandung, menyebabkan perubahan-perubahan penting yang akan diterangkan pada bagian setelah ini.

3. Struktur Waditra/Instrumen

Pada awal pemerintahan Dalem Haji[4] sebagai bupati Bandung, ensambel gamelan Degung hanya terdiri dari alat-alat instrumen: bonang, cecempres (saron/panerus), jengglong (degung), dan goong. Namun atas usul Abah Iyam dan putra-putranya, yaitu Abah Idi, Abah Oyo, dan Abah Atma, para seniman musik Bandung yang sudah membentuk grup “Pamagersari” (Abah Idi, 1918) dan “Purbasasaka” (Abah Oyo, 1919), perangkatnya ditambah dengan: peking, kendang, dan suling. Usul ini disampaikan setelah diadakan Cuultuurcongres Java Instituut pada tanggal 18 Juni 1921 yang di dalamnya menampilkan Goong Renteng dari desa Lebakwangi, kecamatan Banjaran, kabupaten Bandung[5].

Pada tahun 1961 oleh R.A. Darya atau R.A. Mandalakusuma (kepala RRI Bandung), ketika menggunakan musik Degung untuk mendukung gending karesmen[6] berjudul “Mundinglayadikusumah” garapan Wahyu Wibisana, waditra Degung ditambah lagi dengan gambang dan rebab. Lalu pada tahun 1962, ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam ensambel Degung. Nano S. dalam karya-karya Degung Baru bahkan memasukkan waditra kacapi. Namun penambahan beberapa waditra ini tidak bertahan lama, hanya bersifat situasional dan kondisional pada garapan tertentu, kecuali waditra peking, kendang, dan suling yang masih bertahan sampai sekarang.

Dilihat dari bentuknya, waditra bonang, jenglong, dan goong berbentuk penclon, yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon (alat pukul) dengan sub klasifikasi gong chime. Sedangkan waditra cecempres dan peking berbentuk wilahan (bilah), yang secara organologis termasuk ke dalam klasifikasi idiofon dengan sub klasifikasi metalofon. Sementara waditra suling termasuk aerofon, dan kendang termasuk membranofon. Klasifikasi ini berdasarkan terjemahan Rizaldi Siagian dari teori Sachs/Hornbostel (1914:6)[7].

Banyaknya penclon pada waditra bonang biasanya antara 14 sampai dengan 16 buah, dimulai dengan nada 1 (da) tertinggi sampai nada 1 (da) terendah sebanyak 3 gembyang (oktaf). Penclon-penclon ini disusun di atas rancak (penyangga), dengan menempatkan penclon terkecil (nada tertinggi) di ujung sebelah kanan pemain, berurutan hingga penclon terbesar (nada terendah) di ujung sebelah kiri pemain. Hal ini disesuaikan dengan urutan nada pada laras (tangga nada) Degung[8]. Bonang bertugas sebagai pembawa melodi pokok yang merupakan induk dari semua waditra lainnya. Pangkat (intro) lagu Degung dimulai dari waditra ini.

Penclon pada waditra jenglong berjumlah 6 buah yang terdiri dari nada 5 (la) hingga 5 (la) di bawahnya (1 gembyang), dengan ambitus (wilayah nada) yang lebih rendah dari bonang. Penclon-penclon ini digantung dengan tali pada rancak yang berbentuk tiang gantungan (lihat gambar 4 di belakang-kanan). Jenglong bertugas sebagai balunganing gending (bass; penyangga lagu) yakni sebagai penegas melodi bonang.

Gong yang terdiri dari 2 buah penclon, yakni kempul (gong kecil) dan goong (gong besar) digantung dengan tali secara berhadapan pada rancak (lihat gambar 8 di belakang-kiri). Kempul berada di sebelah kiri pemain, sementara goong di sebelah kanan pemain. Ambitus nada gong sangat rendah, bertugas sebagai pengatur wiletan (birama) atau sebagai tanda akhir periode melodi dan penutup kalimat lagu. Goong disebut juga sebagai pamuas lagu.

Jumlah wilahan pada cecempres adalah 14 buah, disusun di atas rancak yang dimulai dari nada 2 (mi) tertinggi di ujung sebelah kanan pemain hingga nada 5 (la) terendah di ujung sebelah kiri pemain. Cecempres bertugas sebagai rithm (patokan nada) yang menegaskan melodi bonang, yang dipukul dengan pola yang konstan.

Adapun jumlah wilahan pada peking adalah sama dengan cecempres, namun nada-nada peking memiliki ambitus (wilayah nada) yang lebih tinggi dari cecempres (biasanya antara sakempyung: kira-kira 1 kwint hingga sagembyang: kira-kira 1 oktav). Tugas peking agak berbeda dari cecempres, yakni sebagai pengiring melodi. Apabila jenglong dan cecempres dipukul tandak (konstan menurut ketukan), maka peking terkesan lebih ber-improvisasi. Peking sering juga disebut sebagai pameulit/pamanis lagu. Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, peking merupakan waditra tambahan.

Seperti halnya peking, waditra kendang dan suling juga merupakan tambahan. Pada awalnya kendang tidak dimainkan seperti pada lagu-lagu berlaras pelog/salendro, tetapi hanya sebagai penjaga ketukan saja seperti pada orkestra Barat. Namun permainan kendang pada lagu-lagu Degung sekarang lebih variatif, sehingga menurut penulis hal ini menyebabkan penonjolan melodi bonang jadi ‘tersaingi’. Begitupun dalam permainan suling. Walaupun dengan timbre (warna suara) yang berbeda, namun kedudukannya sama seperti vokal sehingga pendengar jadi kurang menikmati melodi bonang. Namun pada lagu-lagu Degung Baru kehadiran peking, kendang, dan suling ini menjadi hal biasa, apalagi bagi apresiator yang belum pernah mendengar lagu-lagu Degung.

Bahan dasar pembuatan bonang, cecempres, peking, jenglong, dan goong yang paling baik kualitas suaranya adalah dari logam perunggu (campuran timah dan tembaga dengan perbandingan 1 : 3). Ada yang menggunakan bahan dasar logam kuningan dan besi. Namun kedua logam tersebut kualitas suaranya lebih rendah daripada logam perunggu[9]. Kualitas logam ini pun berpengaruh kepada daya tahan terhadap cuaca.

4. Laras/Tangga Nada

Laras (berasal dari bahasa Jawa) mengandung pengertian yang sama dengan tangga nada pada musik Barat, yakni: deretan nada-nada, baik turun maupun naik, yang disusun dalam satu gembyang (oktav) dengan swarantara (interval) tertentu. Satu gembyang adalah jarak antara satu nada ke nada yang sama di atasnya (misalnya dari 1 ke 1’ tinggi). Seperti kita ketahui bahwa pada teori musik Barat, satu gembyang berjarak 1200 sen.

Sementara swarantara adalah jarak antara nada satu ke nada berikutnya (misalnya 1 ke 2, 2 ke 3, dan seterusnya). Perbedaan laras Sunda dengan tangga nada musik Barat adalah, apabila pada tangga nada musik Barat penomoran nada diatur naik dari nada rendah ke nada tinggi (berjumlah 7 nada pokok), maka pada laras Sunda penomoran diatur menurun dari nada tinggi ke nada rendah (berjumlah 5 nada pokok).

Dalam karawitan Sunda dikenal empat laras pokok, yaitu: laras pelog, laras salendro (yang keduanya dikenal juga di Jawa dan Bali), laras madenda/sorog, dan laras Degung (yang kedua terakhir ini hanya dikenal di daerah Sunda). Keempat laras ini masing-masing memiliki perbedaan pada swarantaranya. Raden Machjar Angga Koemoemadinata dalam buku Ilmu Seni Raras (1969) telah membagi perbedaan swarantara pada laras-laras tersebut, namun uraian mengenai hal itu akan memerlukan pembahasan yang terlalu panjang. Dalam tulisan ini, yang diperlukan adalah perbedaan swarantara pada laras Degung.

Laras Degung:

Seperti pada laras Pelog, swarantara pada laras Degung dari nada yang satu ke nada berikutnya juga berbeda-beda. Namun laras Degung menurut Rd. Machjar merupakan keturunan dari laras Salendro, sehingga 1 gembyangnya dibagi menjadi 15 garis jarak, jadi masing-masing jaraknya adalah 1200/15 = 80 sen. Untuk lebih jelasnya perhatikan grafik berikut ini:

1 (da)














2 (mi)






























































3 (na)




















1 gembyang













= 1200 sen







4 (ti)














5 (la)






























































1 (da)


Keterangan:

Swarantara antar nada-nada pada laras Degung adalah sebagai berikut:

- Swarantara nada 1 (da) ke 2 (mi) adalah 80 sen.

- Swarantara nada 2 (mi) ke 3 (na) adalah 400 sen.

- Swarantara nada 3 (na) ke 4 (ti) adalah 240 sen.

- Swarantara nada 4 (ti) ke 5 (la) adalah 80 sen.

- Swarantara nada 5 (la) ke 1 (da) adalah 400 sen.

Namun beberapa tahun terakhir ini banyak peneliti yang mengkritisi teori Rd. Machjar, di antaranya adalah tulisan Heri Herdini pada Jurnal Seni STSI Bandung, Panggung, edisi XXXII yang berjudul “Peninjauan Ulang Terhadap Teori Laras dan Surupan Karya Raden Machjar Angga Koesoemadinata”. Tulisan itu merupakan hasil penelitian terhadap 52 alat musik yang terdiri dari 30 instrumen gamelan, 10 instrumen tarawangsa (rebab dan kacapi), 7 instrumen kacapi indung, dan 5 instrumen rebab. Penelitian ini dipimpin oleh Deni Hermawan dengan bantuan sponsor dari The Toyota Foundation.

Setelah dilakukan pengukuran frekuensi nada-nada pada gamelan, kacapi, dan rebab tersebut dengan menggunakan alat ukur frekuensi bernama Dual Channel Real-Time Frequency Analyzer tipe 2144, diperoleh data-data sebagai berikut:

Tabel 2.1.

Data interval laras Degung, Madenda, dan Salendro

NO.


NAMA LARAS


SUSUNAN INTERVAL NADA

1


Laras Degung


1


2








3




4


5








1

99,65 398,64 199,31 99,65 398,64

2


Laras Madenda


3


4




5








1


2








3

99,72 199,31 398,66 99,65 398,65

3


Laras Salendro


1


2


3


4


5


1

249,11 249,14 199,31 249,13 249,14


Tabel 2.2.

Interval dari ketiga laras tersebut apabila dibulatkan menjadi:

NO.


NAMA LARAS


SUSUNAN INTERVAL NADA

1


Laras Degung


1


2








3




4


5








1

100 400 200 100 400

2


Laras Madenda


3


4




5








1


2








3

100 200 400 100 400

3


Laras Salendro


1


2


3


4


5


1

250 250 200 250 250


Dari data-data hasil penelitian tersebut, maka Herdini menarik kesimpulan sebagai berikut:

“Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa laras salendro yang sebenarnya adalah ‘bedantara’ dengan susunan interval 250 – 250 – 200 – 250 – 250. Dengan demikian, laras salendro padantara sebagaimana yang dinyatakan dalam teori laras Raden Machjar Angga Koesoemadinata sesungguhnya tidak ada. Kesimpulan kedua, pendapat Raden Machjar Angga Koesoemadinata tentang laras Degung dan madenda sebagai turunan dari laras salendro sesungguhnya perlu dipertanyakan dan dikaji ulang kembali, oleh karena interval 250 sen pada laras salendro bila dibagi oleh interval 100 sen pada laras Degung dan madenda tidak menghasilkan jumlah yang bulat. Dengan demikian, dilihat dari proses pembentukannya, laras Degung dan madenda merupakan laras yang mandiri bukan merupakan keturunan dari laras salendro.” (Herdini, 2004:65-66)

Pada kenyataannya sistem pelarasan dalam karawitan (musik) Sunda memang tidak ada yang persis sama. Kenyataan ini akan semakin terasa apabila kita mencoba membandingkan antara instrumen yang satu dengan lainnya, misalnya: antara laras goong renteng Embah Bandong desa Lebakwangi-Batukarut di Bandung selatan, berbeda dengan laras goong renteng Panggugah Manah desa Cigugur di Kuningan; antara kacapi indung Cianjuran dengan Jentreng Tarawangsa; antara gamelan Degung di Bandung dengan di Cirebon; dan sebagainya.

5. Pola Tabuhan

Karakteristik yang paling menonjol – dan jarang ditemukan pada ensambel gamelan lain – dari musik Degung adalah pola tabuhan bonangnya yang menggunakan teknik gumekan[10]. Pola tabuhan bonang inilah yang mewakili ekspresi melodi utama musik instrumental Degung seperti permainan piano pada musik klasik Barat[11]. Ketrampilan kedua tangan pemain bonang memegang peranan yang penting sebagai ‘komando’ pada orkestra ini.

Pada gamelan pelog/salendro pola tabuhan bonang dan rincik[12] menggunakan teknik dikemprang[13] atau dicaruk[14]. Namun teknik dicaruk lebih sering digunakan pada pola tabuhan saron I dan saron II. Jadi, perlu digarisbawahi bahwa apabila kita menemukan pola tabuhan bonang yang dikemprang ataupun peking dan saron yang dicaruk pada lagu Degung, sesungguhnya hal itu adalah pengaruh dari jenis kesenian lain yang menggunakan gamelan pelog/salendro, seperti: kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan.

Teknik gumekan bonang inilah yang menjadi ciri khas lagu-lagu Degung sekaligus yang membedakannya dengan teknik kemprangan atau carukan pada lagu-lagu kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan. Degung adalah orkestra yang berbentuk instrumental dengan bonang sebagai ‘induk’nya, sementara kiliningan, ketuk tiluan, dan jaipongan musik pengiring untuk sekar atau tarian.

6. Repertoar Degung

Repertoar gamelan Degung dibagi menjadi dua jenis: pertama, repertoar Degung klasik yang masih mempertahankan teknik gumekan bonang sebagai ekspresi melodi; kedua, repertoar Degung non klasik – oleh Soepandi disebut dengan Degung Baru – yang sudah dipengaruhi oleh pola tabuhan gamelan pelog/salendro (dikemprang atau dicaruk).

Kalimat lagu pada Degung klasik (intrumentalia) umumnya panjang-panjang, karena itu sering disebut juga dengan ‘lagu ageung’. Sementara pola lagu-lagu Degung Baru merupakan pirigan[15] untuk mengiringi sekar, karena itu sering disebut juga dengan ‘lagu alit’. Namun dalam perkembangannya, beberapa lagu ageung pun sekarang sudah ada yang diisi rampak sekar (vokal grup).

Struktur garapan pada repertoar Degung terdiri dari: pangkat, eusi, dan madakeun. Struktur ini sama dengan istilah overture, interlude, dan coda pada musik Barat. Pangkat adalah kalimat pembuka lagu yang dimainkan oleh waditra bonang. Eusi adalah melodi pokok yang merupakan isi lagu itu sendiri. Madakeun adalah kalimat penutup lagu. Kalimat pangkat dan madakeun lebih pendek daripada eusi.

Melodi pangkat dan madakeun kebanyakan berakhir pada nada 5 (la) dengan pukulan goong (gong besar) yang juga biasanya bernada 5 (la) rendah. Di dalam eusi lagu-lagu pun akan banyak kita temui nada 5 (la) sebagai akhir kalimat lagu (titik), sementara nada 2 (mi) biasanya dijadikan akhir melodi pada pertengahan lagu (koma). Ini menunjukkan bahwa nada 2 (mi) dan nada 5 (la) merupakan nada yang penting dan menjadi ciri khas lain pada repertoar Degung.

Beberapa contoh repertoar Degung yang diciptakan oleh R.A.A. Koesoemahningrat V (Dalem Pancaniti: 1834-1868) dan R.A.A. Prawadiredja II (Dalem Bintang: 1868-1910) pada Album Serial Degung produksi PT. Gema Nada Pertiwi tahun 2002 adalah: 1) Mangari, 2) Maya Selas, 3) Lalayaran, 4) Palsiun, 5) Genye, 6) Paturay, 7) Ayun Ambing, 8) Sang Bango, 9) Paksi Tuwung, 10) Lambang, 11) Manintin, 12) Jipang Prawa, 13) Palwa, 14) Kadewan, 15) Banteng Wulung, 16) Beber Layar, 17) Kulawu, 18) Padayungan, 19) Ladrak, 20) Balenderan, 21) Papalayon, 22) Mangu-Mangu Degung, 23) Jipang Lontang, 24) Gegot, 25) Sulanjana, 26) Karang Mantri Kajineman, 27) Gunung Sari, 28) Banjaran, 29) Kunang-Kunang, 30) Celementre, 31) Renggong Buyut, dan 32) Senggot (Volume 1 s/d 7). Beberapa merupakan hasil recomposed (arransemen ulang) oleh Abah Idi[16].

Abah Idi dalam perjalanannya sebagai tokoh Degung awal abad XX, pernah membuat ciptaan asli (bukan recomposed), yakni: 1) Sangkuratu, 2) Duda, 3) Galatik Mangut, dan 4) Ujung Laut. Sementara Entjar Tjarmedi, sebagai salah seorang tokoh yang pernah ‘menyelamatkan’ Degung pada awal tahun 1950-an dengan siaran rutinnya di RRI Bandung, tercatat juga sebagai komposer repertoar Degung dengan lagu-lagu: 1) Kahyangan, 2) Layungsari, 3) Pajajaran, 4) Kidang Mas, 5) Lengser Midang, 6) Pulo Ganti, 7) Kajajaden, 8) Lambang Parahyangan, dan 9) Purbasaka. Nama-nama komposer lainnya yaitu: Abah Atma yang menciptakan lagu 1) Maya Selas dan 2) Paron; Abah Absar lagu 1) Karang Kamulyan dan 2) Hayam Sabrang; U. Tarya lagu 1) Seler Degung; Hj. Siti Rokayah lagu 1) Sinangling Degung.

Adapun repertoar non klasik/Degung Baru sangat banyak jumlahnya. Sangatlah tidak mungkin untuk dituliskan semuanya dalam paper ini. Namun sebagai sekedar contoh yang paling mewakili jenis tersebut adalah karya Nano S. dengan grup “Gentra Madya”nya berupa album kaset Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980), Tamperan Kaheman (1981), Anjeun (1984), dan Kalangkang (1986) yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana.

Dari judul-judul repertoar musik Degung di atas (dalam bahasa Sunda), bisa kita lihat bahwa musik Degung hampir seluruhnya menggambarkan suasana alam pegunungan, apalagi setelah kita mendengarkan lagu-lagunya yang mengalun lembut. Namun sangat disayangkan, bahwa musik Degung pada zaman sekarang sudah jarang diminati oleh masyarakat Sunda sendiri, sehingga keasliannya terancam punah. Yang disebut musik Degung sekarang hanyalah waditra gamelannya, sedangkan lagu-lagunya kebanyakan sudah bukan lagu-lagu Degung klasik dalam bentuk musik intrumentalia lagi. Para pangrawit Degung juga kebanyakan adalah para pangrawit gamelan Pelog-Salendro.

[1] Disarikan dari situs www.westjava-indonesia.com/2004/thevoyage/cultural.

[2] Lihat Kurnia & Nalan (2003: 40); lihat juga Hermawan (2002: 57).

[3] Kirata dalam pengertian masyarakat Sunda adalah singkatan dari: dikira-kira tapi nyata.

[4] Julukan bagi R.A.A. Wiranatakusumah V.

[5] Lihat Tjarmedi (1974: 10); lihat juga Soepandi (1974: 8).

[6] Semacam opera (sandiwara) Sunda, yang terdiri dari nyanyian (sekar) dan permainan instrumen (gending).

[7] Lihat Herdini (1992: 47).

[8] Lihat pembahasan berikutnya tentang laras (tangga nada) Degung.

[9] Di Propinsi Jawa Barat bengkel (pabrik) gong terbesar dan tertua terdapat di daerah Pancasan – Kotamadya Bogor. Harga seperangkat gamelan Degung yang terbuat dari bahan perunggu ini berkisar antara 20 hingga 30 juta rupiah. Selain yang terbuat dari perunggu, ada juga perangkat gamelan Degung yang terbuat dari kuningan dengan harga 10 hingga 15 juta rupiah, atau besi dengan harga 5 hingga 10 juta rupiah. Harga-harga tersebut lengkap dengan rancak, satu set kendang, dan suling. Lamanya pembuatan berkisar antara satu minggu hingga sebulan (bergantung jenis pesanan) (hasil wawancara penulis ketika melakukan riset dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Seni di Jurusan Karawitan – STSI Bandung).

[10] Gumek adalah ketangkasan/keterampilan sahut menyahut antara tangan kanan dan kiri dalam memainkan bonang musik Degung Klasik (Soepandi, 1988: 70).

[11] Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena pengaruh hubungan dengan pemerintahan Belanda, yang di dalamnya pasti terkait juga aspek komunikasi para seniman Barat dengan seniman Sunda. Lihat Sumarsam (2003: bab 3).

[12] sejenis bonang dengan oktav lebih tinggi.

[13] Teknik dikemprang adalah suatu cara menabuh bonang dengan menggunakan kedua tangan dengan jarak satu gembyang. Umumnya tabuhan kemprangan jatuh pada ketukan ganjil (ke-1 dan ke-3).

[14] Teknik dicaruk adalah dua instrumen yang dipukul bersahutan, bila yang satu jatuh pada ketukan ganjil (ke-1 dan ke-3), maka yang lainnya jatuh pada ketukan genap (ke-2 dan ke-4).

[15] Kalimat lagu dengan motif-motif pendek dan berulang-ulang pada posisi nada tumbuk yang terpola sebagai koma dan titik.

[16] Sangat sulit menemukan rekaman repertoar Degung asli, karena teknologi rekaman pada saat itu baru sebatas piringan hitam. Tidak ada lembaga atau instansi yang masih menyimpannya. Kalaupun masih ada mungkin disimpan sebagai koleksi perorangan, dan ini sulit untuk dilacak (wawancara dengan Enip Sukanda dan pegawai RRI Bandung, pada kesempatan terpisah).

note: kontak penulis, *mamarahmat@gmail.com, Jurusan Karawitan STSI Bandung, atau 0818210303
1 Komentar

1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Punten nembe ngawaler, Ki! Tos lami teu muka, hilap passwordna. Eta seratan teu acan aya versi basa Sundana. Insya Allah ka payun urang pilari. Manawi Ki Harsono tiasa ngalihkeun kana basa Sunda? Kacida sim kuring atoh pisan. Hatur nuhun sateuacanna!
Komentar oleh degung2009 27 Agustus 2009 @ 12:22 am
Balas
dnr

Minggu, 08 Agustus 2010

Goong renteng
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Goong Renteng merupakan salah satu jenis gamelan khas masyarakat Sunda yang sudah cukup tua. Paling tidak, goong renteng sudah dikenal sejak abad ke-16, dan tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat. Menurut Jaap Kunst (1934:386), goong renteng dapat ditemukan di Cileunyi dan Cikebo (wilayah Tanjungsari, Sumedang), Lebakwangi (wilayah Pameungpeuk, Bandung), dan Keraton Kanoman Cirebon. Selain itu, goong renteng juga terdapat di Cigugur (Kuningan), Talaga (Majalengka), Ciwaru (Sumedang), Tambi (Indramayu), Mayung, Suranenggala, dan Tegalan (Cirebon).
[sunting] Bentuk kesenian
Istilah "goong renteng" merupakan perpaduan dari kata "goong" dan "renteng". Kata ‘goong’ merupakan istilah kuno Sunda yang berarti gamelan, sedangkan kata ‘renteng’ berkaitan dengan penempatan pencon-pencon kolenang (bonang) yang diletakkan secara berderet/berjejer, atau ngarenteng dalam bahasa Sunda. Jadi, secara harfiah goong renteng adalah goong (pencon) yang diletakkan/disusun secara berderet (ngarenteng).
Goong renteng memiliki dua macam laras; ada yang berlaras salendro dan ada yang berlaras pelog. Peralatannya terdiri dari kongkoang, cempres, paneteg, dan goong. Kongkoang (alat musik berpencon), cempres (alat musik bilah), dan goong diklasifikasikan sebagai idiofon; sementara paneteg (semacam kendang) diklasifikasikan sebagai membranofon. Ditinjau dari cara memainkannya, kongkoang, cempres, dan goong diklasifikasikan sebagai alat pukul; sedangkan paneteg sebagai alat tepuk. Dalam ensambel, kongkoang dan cempres berfungsi sebagai pembawa melodi, kendang sebagai pembawa irama, dan goong sebagai penutup lagu atau siklus lagu.
Repertoar pada goong renteng pada umumnya tidak bertambah. Lagu-lagu pada Goong Renteng Embah Badong di Lebakwangi – Batukasut, Bandung; Goong Renteng Panggugah Manah di Sukamulya, Kuningan; dan Goong Renteng Talagamanggung di Majalengka (bahkan tidak pernah di tabuh lagi), lagu-lagunya masih tetap itu-itu juga.
Secara fisik, goong renteng mempunyai kemiripan dengan gamelan degung, tetapi dalam hal usia, goong renteng dianggap lebih tua keberadaannya daripada degung, sehingga ada yang menduga bahwa gamelan degung merupakan pengembangan dari goong renteng. Mungkin karena ketuaannya, pada umumnya goong renteng sekarang dianggap sebagai gamelan keramat, sehingga pemeliharaannya diperlakukan khusus secara adat (ritual; kepercayaan). Kelengkapan waditra gamelan renteng tidak sama di setiap tempat, demikian pula lagu-lagunya.
[sunting] Fungsi sosial
Fungsi goong renteng yang sebenarnya dalam kebudayaan Sunda pada masyarakat dulu belum diketahui secara pasti. Kita hanya bisa mengatakan berdasarkan cerita serta fungsi yang masih berlangsung pada beberapa kelompok goong renteng sekarang. Goong renteng ditabuh setelah perangkat gamelan itu dibersihkan, misalnya pada goong renteng Embah Bandong ketika digunakan untuk memeriahkan acara Muludan (peringatan hari lahirnya Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w.) dan acara ngebakan (memandikan; membersihkan) pusaka-pusaka pada setiap tanggal 12 Mulud. Penabuhan ini bagi masyarakat sekaligus merupakan suatu bukti bagaimana pusaka yang berusia ratusan tahun ini masih bisa mengeluarkan bunyi, di samping adanya keanehan lain yang berbau mistik.
Dulu, goong renteng biasa pula digunakan untuk memeriahkan pesta-pesta kenegaraan di kabupaten. Goong renteng Embah Bandong ditabuh pada acara Congres Java Instituut (17 Juni 1921) di Bandung. Pada 4 Juli 2001, gamelan pusaka ini digunakan untuk memeriahkan hajatan khitanan. Goong renteng di daerah Indramayu secara tradisi biasa dipakai pada satu hari sebelum hari hajatan, ketika orang sibuk bekerja untuk persiapan hajatan. Ini sebagai tanda bahwa besok pagi merupakan hari puncak hajatan. Lagu-lagunya ada yang berfungsi khusus, misalnya lagu Wong Miang Ngangsu digunakan ketika orang-orang mengambil air ke sungai atau sumur, lagu Mususi Beras digunakan ketika wanita-wanita mencuci beras, lagu Rimpang-rimpung digunakan jika hajat diselenggarakan secara besar-besaran, sampai memotong kerbau. Di samping penyajian lagu-lagu (instrumental), tarian kuda lumping juga ikut memeriahkan hajatan, diiringi dengan goong renteng ini. Pada upacara adat Ngunjung di astana Buyut Tambi, goong renteng Cinangnang ditabuh untuk penyambutan tamu. Goong renteng Ciwaru lagu-lagunya seringkali diibingan (memakai tarian).
Goong renteng sampai sekarang tidak populer. RRI, TVRI, dan radio swasta tidak pernah berusaha memperkenalkan dan mempopulerkannya. Oleh karena itu goong renteng sebagai gamelan khas Sunda kini hampir tidak dikenal oleh orang Sunda sendiri jika bukan oleh pengurus atau orang kampung, tempat gamelan tersebut berada.
[sunting] Sumber rujukan
Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Goong_renteng"
Kategori: Seni di Indonesia

dnr

Seni Tradisonal Membangkitkan Seni Budaya Lokal

Seni Tradisonal
Membangkitkan Seni Budaya Lokal

Akhir-akhir ini banyak muncul kekhawatiran bahwa keadaan seni budaya lokal semakin memprihatinkan. Sedikit dan perlahan seni budaya lokal mulai terpinggirkan oleh seni budaya luar yang masuk dengan berbagai macam tawaran yang menggiurkan. Lihat saja, kita semakin jarang menemukan pergelaran wayang golek di kampung-kampung. Padahal, pada dekade 1980-an masih semarak kita saksikan pergelaran wayang golek semalam suntuk.

Memang, pergelaran wayang golek masih kita jumpai sesekali di televisi. Namun, durasi yang terbatas membuat pergelaran wayang golek ini sangat terbatas pula pengaksesannya oleh masyarakat.

Perjalanan spiral turun yang dialami seni budaya lokal diindikasikan telah mencapai titik rawan punah. Memanglah naif jika kita selalu mengambinghitamkan bahwa seni budaya lokal oleh masyarakat pada era globalisasi-yang sekarang sedang mewabah dalam pola pikir dan tindakan-(semakin) tak tersentuh. Seyogianya kita berkaca pada diri sendiri, pada keinginan kita untuk menjaga dan melestarikan seni budaya lokal.

Rasa bangga yang berkurang dalam diri masyarakat terhadap seni budaya lokal bisa dipahami tatkala tumbuh rasa malu dalam diri masyarakat saat bersentuhan dengan seni budaya lokal. Hal ini diakibatkan karena masyarakat beranggapan bahwa seni budaya lokal merupakan budaya yang ketinggalan zaman, kuno, dan monoton.

Artinya, ada kejenuhan dalam masyarakat kita ketika terus disuguhkan dengan seni budaya yang itu-itu terus tanpa adanya perubahan signifikan dalam content itu sendiri ataupun dalam kemasannya. Namun, itu dilakukan dengan tidak mengubah akar dan nilai-nilai yang terkandung dalam seni budaya lokal tersebut. Selain itu, aroma mistis yang kadang dilibatkan dalam seni budaya lokal menjadi faktor lain yang tak kalah pentingnya, yang mengakibatkan masyarakat "enggan" bersentuhan dengan seni budaya lokal. Tengok saja seni budaya kuda lumping yang pada setiap pergelarannya kerap menghadirkan nuansa mistis.

Kejenuhan masyarakat terhadap seni budaya lokal memang berdampak signifikan terhadap kelangsungan seni budaya lokal itu sendiri. Jika tidak diantisipasi dan tidak ada langkah-langkah konkret untuk kembali menggairahkan seni budaya lokal, tidak menutup kemungkinan seni budaya lokal akan segera menemui kepunahan. Berharap kepada pemerintah?

Pemerintah sebagai pihak yang dianggap memiliki otoritas kebijakan dalam setiap hal yang berkaitan dengan masyarakat-termasuk seni budaya di dalamnya-ternyata belum bisa berbuat banyak dalam menangani persoalan yang membelit seni budaya lokal ini, terutama dalam hal semakin berkurangnya minat masyarakat terhadap seni budaya lokal. Tak urung hal ini mengakibatkan banyak pihak semakin khawatir akan punahnya seni budaya lokal.

Untuk mempertahankan seni budaya lokal agar terus bisa tersentuh masyarakat, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai macam cara. Salah satunya, dengan memasukkan seni budaya lokal dalam kurikulum pendidikan. Masuknya seni budaya lokal ke dalam kurikulum diharapkan mampu mengatasi semakin "lemahnya" daya tawar seni budaya lokal.

Akan tetapi, masuknya seni budaya lokal dalam kurikulum pendidikan belum bisa menjawab semua itu. Kepedulian siswa (sebagai pihak yang terlibat dalam proses belajar-mengajar) terhadap seni budaya lokal hanya terbatas dalam proses belajar-mengajar. Di luar itu sangat jarang ditemui implementasi yang diharapkan menjadi hasil proses belajar-mengajar seni budaya lokal tersebut.

Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan dan menggantungkan harapan kepada siapa pun. Permasalahan eksistensi seni budaya lokal adalah persoalan kita semua sebagai masyarakat yang tidak menghendaki punahnya seni budaya lokal.

Karena pemerintah masih kurang mampu mengangkat seni budaya lokal masyarakat, kondisi ini harus bisa dimanfaatkan para seniman-pihak yang berkompeten-sebagai celah untuk membangun komunikasi dengan masyarakat dan mengangkatnya menjadi hasil seni (Kompas, 4/6/2007). Seniman Putu Wijaya pernah berujar bahwa seniman memiliki tugas ganda dalam kesehariannya, yaitu selain mengaktualisasikan pendapat pribadi untuk disajikan dalam hasil seninya, para seniman juga menjadi corong bagi masyarakat kecil, termasuk terhadap kelangsungan budaya lokal di masyarakat.

Dari sini kita sebagai masyarakat yang tidak mau menyaksikan kepunahan seni budaya lokal harus mampu membaca, memahami, dan mencoba menemukan solusi agar seni budaya lokal ini tetap eksis dan diminati masyarakat secara umum. Peran masyarakat

Masyarakat merupakan elemen yang paling penting dalam penentuan apakah seni budaya lokal ini akan punah atau tidak. Hal ini bisa dipahami karena masyarakatlah yang terlibat, baik sebagai pelaku seni maupun aspresiator seni. Peran aktif masyarakat adalah harga mati yang harus ditempuh jika seni budaya lokal tidak ingin terpuruk dan mati.

Penghayatan dan kesadaran subyektif dalam setiap individu masyarakat untuk melihat secara obyektif kondisi dan keberadaan seni budaya lokal diharapkan mampu menjadi pemecah persoalan semakin suramnya nasib seni budaya lokal.

Dengan demikian, kekhawatiran akan punahnya seni budaya lokal akan hilang dengan sendirinya seiring kembalinya seni budaya lokal dirangkul dan dihangatkan masyarakat. Semoga.

ANDI SUTISNO Koordinator Komunitas Lumpur Literer; Anggota Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan UPI Bandung
Seni Tradisional Sunda
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari




Artikel ini memerlukan paragraf perkenalan untuk pembaca yang awam

Alih "Gombel" seorang seniman kreatif di Kabupaten Karawang berhasil menciptakan sebuah teknik penjarian baru pada alat musik kacapi siter, yaitu kacapi jaipongan. Dimana dalam pertunjukannya ia mampu memainkan ritmis dari tepukan-tepukan kendang jaipongan.
[sunting] Kacapi jaipongan

Kacapi jaipongan merupakan sebuah kesenian khas masyarakat karawang Kesenian ini lahir dari seorang seniman tuna netra yang bernama Alih "Gombel" atau yang bernama lengkap “Alih Hidayat” yang lahir pada tanggal 14 september 1945di sebuah desa bernama Kampung Sawah Kec. Rengasdengklok Kab. Karawang.

Keunikan dari kesenian ini adalah; pengadaptasian bunyi instrumen kedalam instrumen kendang sunda kacapi siter yang mempunyai dawai 20 utas. sehingga secara audiotif petikan kacapi Alih selintas seperti tepukan kendang Sunda.





Ditulis oleh M. Arpan Rachman

Kamis, 19 Juni 2008 06:54

Bagaimana karya seni jadi alasan yang masuk akal? Sulitkah teater dilogikakan?




Teater tanpa Manajemen

AP Bayu menulis artikel berjudul Membaca Teater Hari Ini di harian lokal milik grup Jawa Pos News Network (18/5/2008). Dipinjamnya mulut tokoh Atmadi untuk menyatakan pikiran tentang tiga persoalan.

Pertama, katanya, "Teater tanpa manajemen dia akan seperti kuda pusing di dalam pasar malam." Jadi, grup teater idealnya toleran dengan orientasi bisnis dan massal melalui pengetahuan ekonomi-sosial secara luas. Ilmu itu tentunya mudah diterapkan spesialis oleh yang berkompeten.


Di satu sisi, manajemen seni pertunjukan hari ini di Tanah Air masih mengusung semangat gotong-royong kebersamaan mirip lima belas tahun silam. Ada para pengharap dana pariwisata, tapi banyak pula yang tidak. Ada yang berhubungan erat dengan penguasa dan pihak asing, namun ada juga yang tidak.

Pameran lukisan, diskusi novel, dan pementasan teater merupakan seni pertunjukan yang dikelola baik. Pelukis, novelis, dan para dramawan gigih melawan siasat, aksi, dan intrik di luar produksi karya dari para penggelap sejarah, penjahat asal-usul, bandit seni yang mengoncer ponjen dana kesenian dari anggaran-anggaran yang seharusnya disalurkan kepada rakyat, seperti Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Tak jarang muncul kolaborator yang bermain di taring hegemoni pusat-pusat Balai Bahasa.

Pameran lukis, diskusi novel, pentas teater jadi pertunjukan rendah hati yang menjaga pelbagai kota dan provinsi lokal dari kesombongan “budaya tinggi” yang sok pintar. Arogansi budaya sempalan itu berpotensi mengelirukan logika dengan cara mengantarkan teori-anti-teori kepada khalayak, lewat misalnya sebuah artikel di koran.

Sementara itu, stok keuntungan finansial dan penikmat baru di dunia teater hari ini mungkin masih saja didominasi oleh siswa, pelajar, mahasiswa, selebihnya kalangan tanpa juntrungan identitas. Penonton jenis "sekolahan" bahkan ada yang diduga muncul lantaran "dipaksa" guru untuk mengerjakan "tugas" kesenian. Sedangkan pendatang baru, karcis, dan sponsor barangkali terus merupakan tiga anasir jahat dalam
teater modern di Indonesia.

Teater Berhadapan dengan Film dan Sepakbola

Kedua dan ketiga – kata Bayu, teater saat ini berhadapan dengan film-film Amerika, India, Hongkong, plus sinetron di televisi, tari perut, triping..., juga sepakbola. Dilogikakan "berhadapan", maka bukan saat ini saja. Sejak dulu kala teater berhadapan dengan film domestik atau asing, olahraga, dan lain-lain.

Tapi penonton teater, film, sepakbola masing-masing sangat mungkin berbeda orangnya. Apakah bijak dan elok kiranya bila kita memperhadapkan teater-film-sepakbola dengan cara menyimpan kesan bahwa film, sepakbola, dan lain-lain itu merupakan "kompetitor mumpuni" bagi teater?

Sementara kaca besar dari fenomena konsumerisme memantulkan wajah chaos dalam jagad karya seni di masyarakat kita hari ini. Tenggelamnya Titanic jadi sejarah, sedangkan film cinta yang merendengi insiden karamnya kapal itu adalah sejarah lain. Maka, jangankan memperhadapkan karya-karya di bidang sosial-ekonomi berbeda yang dipertunjukkan dengan cara yang tak sama. Karya sama yang dimodifikasi lalu ditunjukkan dengan cara berbeda pun menghadapi dilema. Mana yang lebih unggul? Atau lebih baik dan benar?

Novel Ayat-ayat Cinta apa sebanding antara buku dengan filmnya? Apa ada fakta keterkaitan antara enterpreneur Adrie Subono (keponakan BJ Habibie) saat hendak mendatangkan rapper Eminem dengan dilarangnya Denada Tambunan menyanyikan lagu hip-hop oleh Habibie saat jadi presiden?

Pernahkah Anda membaca trilogi JRR Tolkien tentang perjalanan jauh empat hobbit asal Shire untuk melemparkan cincin kutukan ke gunung api? Secara pribadi, menurut hemat saya, buku terjemahannya bertele-tele, melulu berkisah tentang perjalanan setengah tamasya separuh petualangan, dipermainkan tempo menyenangkan-mencekam yang silih-berganti penuh suspensi. Namun tiga film sekuel the Lord of the Ring yang kolosal mengudak-aduk emosi dan kocek penonton bioskop dan DVD bajakan.



***



Seni pertunjukan yang banyak massanya, menguntungkan secara ekonomis, dan bahkan politik, diselenggarakan oleh event organizer zaman Romawi. Mereka mengundang penonton datang ke Koloseum. Anak-anak, remaja, perempuan, ibu-ibu, dan orang tua menonton riuh-ribut dan melupakan sejenak persoalan hidup mereka. Di tempat lain, para lelaki kuat, kecuali para budak gladiator, saat itu bertempur di negeri-negeri yang jauh lantaran watak agresif Imperium Roma menjajah dunia.



Di tribun Koloseum, sekeping memori tentang ayah yang gugur di medan perang, kekasih yang dijemput maut di Anatolia, lelaki yang pergi tak jua pulang dari Turki, kaum suami yang tak tentu rimbanya di Asia Kecil, dan remaja yang kehilangan orang tua – sesaat terhapuskan, tatkala roti-roti dilemparkan dari podium ke segala arah penonton yang berperut lapar.



Hingga detik ini, suka atau tidak, seni pertunjukan ala Romawi telah menghiasi hidup sebagian orang kita. Seni pengekornya kemudian jadi hilang pesona. Apa menariknya kesenian yang diproyekkan penguasa?



Kekuasaan selalu memproyeksikan kebudayaan. Yang menolak arogansi tersebut, terpaksa menerima nasib buruk, tak pernah dibagi proyek. Tapi, mungkin tak apa-apa, sebab yang melawannya masih banyak berderet ke belakang. Deret itu pasti beralih posisi sejajar, berpindah tempat, merebut senjata kekuasaan dengan revolusi.



Yang patut diusut nanti, adalah para pengelompok definisi. Mereka termasuk yang mengatakan bahwa teater, film, dan sepakbola tak lebih seperti "para pengamuk" yang harus bertempur satu sama lain demi enaknya nafsu berkuasa. Mereka pikir, seninya terjadi saat gladiator bertanding dan roti dilemparkan. Mereka juga berpikir, kita tak lebih dari serabut otak dan keringat yang hanya mencari makanan dan mainan.



Salah seorang dari yang bernafsu itu pernah menulis logika irrasional di koran grup JPNN beberapa waktu lalu.[end]


M. Arpan Rachman, kontributor Mediabersama.com












MEMEKARKAN KESENIAN DUNDA


SEORANG gadis kecil berkulit langsat dan mata sipit agak terbata-bata menembangkan Lokatmala, sebuah tembang Sunda ciptaan Mang Bakang (alm). Saudaranya, juga perempuan dalam usia yang tidak jauh berbeda, duduk agak di belakang memetik kecapi indung. Sedangkan Tan De Seng, ayah mereka, berada di sisi kiri meniup suling.

Itulah salah satu peristiwa seni yang berlangsung suatu hari Minggu siang di lantai tiga gedung Bank NISP di Jl. Taman Cibeunying Selatan Bandung. Sebelumnya, telah berlangsung rampak sekar (ibu-ibu) dan jaipongan (para remaja). Yang punya hajatnya adalah Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan, sebuah lembaga yang bergerak di bidang budaya yang diprakarsai komunitas Tionghoa di kota Bandung. Hari itu Mekar Parahyangan, bekerjasama dengan Penerbit Kiblat Buku Utama, PPSS (Paguyuban Panglawungan Sastra-Sunda) dan Bank NISP, menyerahkan hadiah kepada para pemenang Pasanggiri Ngajen Carpon Mini. Setahun sebelumnya, lembaga ini pula yang menyelenggarakan pasanggiri menulis carpon mini dalam bahasa Sunda yang hasilnya kemudian dibukukan dengan judul Ti Pulpen nepi ka Pajaratan Cinta. Kumpulan karya para pemenang inilah yang kemudian dilombakan untuk dikritik.

Menurut Karmaka Surjaudaja, Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan didirikan 24 Juni 2004. Tujuannya antara lain untuk mewadahi berbagai kegiatan seni tradisional Sunda yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa di Bandung. Kegiatan seperti itu selama ini terkesan sepi dari publikasi. “Kami memang baru dalam tarap belajar, sehingga hasilnya pun belum bagus untuk ditampilkan,” kata Surjadisastra agak merendah. Pak Surja, demikianlah sehari-hari dia dipanggil, mengaku punya hobi terhadap seni, khususnya sastra.

Belajar seni Sunda

Tapi mengapa mereka kemudian merasa perlu belajar seni tradisional Sunda?

“Kami memang lahir sebagai orang Tionghoa,” kata Karmaka, “tapi kami hidup di Tanah Sunda, yang kami minum setiap saat pun adalah air yang ada di Tanah Sunda. Jadi kami merasa berkewajiban untuk memekarkan tradisi di mana kami berada”. Nama Mekar Parahyangan pun, menurutnya, berasal dari usulan Barli Sasmitawinata, seorang pelukis senior di Bandung yang sudah lama menjadi teman dekatnya. Karena tujuannya memekarkan kesenian tradisional Sunda, Pak Barli mengusulkan nama tersebut. “Cucu kami sekarang belajar melukis pada beliau,” kata Karmaka.

Dalam pandangannya, kesenian tradisional Sunda adalah kekayaan yang harus terus dipelihara dan dibantu oleh semua pihak. Ia melihat kegiatan kesenian seperti kegiatan olahraga. “Para seniman dan olahragawan itu harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya,” katanya. Ia menyebut contoh yang terjadi di RRC, di mana seniman dan olahragawan dijamin kebutuhan hidupnya sehingga mereka tidak perlu risau memikirkan hari depannya. Salah seorang putranya, Pramana (kini sudah almarhum) sempat aktif membina olahraga softbol secara intensif. Hasilnya ternyata di luar dugaan. “Atlet-atlit kita itu bisa mengalahkan tim Filipina yang sebelumnya selalu menjadi juara di tingkat Asia” katanya. Karmaka bahkan dengan tegas berpendapat bahwa atlet dan seniman kita sebenarnya jauh lebih hebat. “Tanpa didukung seperti di negeri lain, prestasinya sudah tinggi, apalagi kalau mereka bisa berkonsentrasi pada bidangnya,” tambahnya.

Lewat Mekar Parahyangan, Karmaka dkk ingin memberikan dukungan akan pentingnya memelihara seni tradisional Sunda. “Mereka harus dibantu” katanya berulang-ulang, tanpa menyembunyikan kesannya sejauh ini di mana kehadiran masyarakat Tionghoa di tengah masyarakat hampir selalu dipandang dengan sikap curiga. Baik Karmaka maupun Surjadisastra, terkesan sangat ingin hati-hati. Dalam bahasa Karmaka, yang di masa mudanya pernah jadi atlet, kemudian jadi guru olahraga serta sempat bekerja di pabrik tekstil milik H. Syukur di Majalaya itu, “kami tidak ingin dikesankan mau menonjolkan diri”.

Yang bergabung dengan Mekar Parahyangan sekarang, sebagaimana dikatakan oleh Surjadisastra, adalah berbagai kelompok yang sering melakukan latihan. Ada yang latihan rampak sekar, ada yang latihan jaipongan. Sayang, katanya, latihannya sendiri belum terjadwal dengan baik. Maklum amatiran, sehingga Nano S yang sempat melatihnya pun, harus beberapa kali menangguhkan jadwal latihannya.

Di tengah berbagai keluh-kesah terhadap keadaan kesenian tradisional Sunda yang memprihatinkan saat ini, apa yang dikerjakan oleh komunitas Mekar Parahyangan itu tampaknya boleh juga diperhatikan. Rachmat Taufik Hidayat dari penerbit Kiblat Buku Utama misalnya melihat kerja mereka itu sistematis. “Mula-mula mereka menyelenggarakan sayembara penulisan karya sastra,” katanya, “kemudian disusul dengan sayembara penulisan kritik”.

Yang juga menarik, mereka mencoba sedapat mungkin menumbuhkan perhatian dan apresiasi yang sama terhadap generasi di bawahnya. Apresiasi seperti ini memiliki arti tersendiri ketimbang, misalnya, semata-mata mengukur tinggi rendahnya kualitas yang sudah mereka hasilkan.

Secara vokal, masyarakat kita sudah berteriak keras-keras bahwa kesenian tradisional Sunda sudah sangat terancam oleh berbagai jenis kesenian lain yang lebih diminati oleh masyarakat. Kecilnya penonton pertunjukan wayang golek, kurangnya minat terhadap Tembang Sunda, adalah dua contoh yang sudah lebih dari cukup dijadikan bukti bahwa minat masyarakat terhadap kesenian tradisional Sunda sekarang cukup parah. Banyak pihak yang juga sepakat bahwa keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan. Artinya harus ada sikap, kebijakan serta kerja nyata untuk mendukung dan membangkitkannya kembali. Tapi sampai sejauh ini belum ada jalan keluar yang benar-benar dilaksanakan secara benar. Kegiatan-kegiatan yang ada umumnya hanya terbatas sebagai sebuah peristiwa yang tidak berlanjut secara sistematis.

Apa yang dilakukan oleh komunitas Mekar Parahiangan, betapapun kecilnya, tidak ada salahnya kalau dijadikan semacam pendorong untuk sama-sama mengembangkan tujuan yang sama tersebut. Di masa lalu komunitas pencinta seni tradisional Sunda di kalangan masyarakat Tionghoa di kota Bandung ini sempat mengadakan kolaborasi pertunjukan seni tradisional Sunda dengan seni tradisional Tionghoa. Menurut Surjadisastra minat masyarakat terhadap pertunjukan seperti itu ternyata cukup bagus. Kalau demikian, pasti tidak ada salahnya kalau pertunjukan sejenis bisa diselenggarakan secara berkala. Momen-momen seperti itu mungkin akan memberikan efek ganda. Masyarakat akan memperoleh kesempatan untuk menyaksikan dan menikmati sebuah pertunjukan kesenian yang jarang dipertontonkan. Di samping itu, para senimannya sendiri akan bisa bertemu dan bertukar gagasan. Tidak mustahil dari kesempatan-kesempatan seperti itu akan muncul gagasan-gagasan baru yang lebih positif.

Seperti berulang-ulang dikatakan oleh Karmaka Surjaudaja yang sehari-hari menjadi Komisarus Utama (Chairman) Bank NISP, kesenian tradisional di mana pun (termasuk kesenian tradisional Sunda, tentu saja) harus didukung dan dibantu oleh banyak pihak. Capaiannya tak lain, agar para seniman tradisional Sunda bisa mengembangkan kreasinya secara maksimal dan masyarakat mengapresiasinya dengan baik. (Abdullah Mustappa)***

Kajian tentang Falsafah Sunda

Kategori: Makalah » Dilihat: 491 kali » Diposting: 30-07-2008

Oleh Ajip Rosidi

Makalah Pelatihan Kepemimpinan Putra Sunda yang diadakan oleh Gema Jabar tanggal 21 Agustus 2006

Panitia meminta saya berbicara tentang “Kajian Sejarah dan Falsafah Sunda”. Sejarah dan Falsafah adalah dua bidang kajian yang berlainan dan masing-masing memerlukan keahlian sendiri, sedangkan saya bukan ahli dalam keduanya. Saya mau menerima permintaan Panita, namun hanya mengenai salah satu bidang saja, ialah tentang Falsafah Sunda. Bukan karena saya merasa tahu tentang falsafah Sunda, melainkan karena belakangan ini saya dengar banyak sekali orang yang berbicara tentang “falsafah Sunda” yang menimbulkan tandatanya pada diri saya. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan “falsafah Sunda”? Yang saya tangkap kalau saya dengar orang berbicara atau menulis tentang “fasafah Sunda” hanyalah pikiran-pikiran orang itu sendiri yang sering tidak rasional, tidak sistimatis dan tidak jelas metodologinya. Biasanya merupakan campuran mitos, mistik dan kirata basa saja. Ngawur!

Panitia sendiri menulis dalam Term of reference-nya, bahwa “Sunda dan kesundaan sangat kaya akan pelajaran dan falsafah hidup.” Tidak tahu dari mana kesimpulan itu diperolehnya. Saya sendiri sampai sekarang tidak berhasil menemukan “kekayaan” itu. Banyak hal yang dibanggakan sebagai milik orang Sunda atau warisan dari karuhun Sunda, setelah dikaji agak mendalam ketahuan bawa sebenarnya hanya cangkokan saja dari India, dari Jawa, atau dari Islam. Pencangkokan yang sering tidak pula dilakukan secara profesional.

“Falsafah” atau “palasipah”, “filsafah”, “filsafat” artinya sama dengan istilah “philosophy” dalam bahasa Inggris. Menurut The Oxford Companion to Philosophy (ed. Ted Honderich, New York, Oxford University Press, 1995), definisi “philosophy” yang paling singkat dan tepat ialah berpikir tentang berpikir (thinking about thinking). Adapun definisi yang lebih rinci menurut buku itu ialah: berpikir secara kritis dan rasional, secara kurang lebih sistimatis mengenai keadaan umum dunia (metafisik atau tiori tentang eksistensi), pembenaran atas kepercayaan (epistemologi atau teori tentang ilmu pengetahuan) serta cara hidup sehari-hari (etika atau teori nilai).

Apakah orang Sunda mempunyai tradisi berpikir tentang berpikir? Pertanyaan sederhana ini susah dijawab, karena dalam tradisi filsafah, berpikir itu tidak hanya yang dilakukan dalam kepala seseorang, melainkan harus ditulis, sehingga bukan saja dapat diketahui oleh orang yang tidak berkenalan langsung dengan orang itu, melainkan juga kebenaran dan ketelitiannya dapat diukur dan diuji setiap saat. Harus diakui bahwa tradisi menulis di kalangan orang Sunda, walaupun ada naskah bahasa Sunda yang berasal dari abad ke-16 dan sejak abad ke-19 banyak sekolah didirikan di Tatar Sunda sehingga orang Sunda termasuk yang pertama mendapat kesempatan untuk menuliskan bahasa ibunya dengan huruf Latin dan menggunakannya dalam buku-buku yang tercetak, namun kebiasaan menulis, apalagi menuliskan pikiran-pikiran secara kritis dan rasional mengenai eksistensi kehidupan, dan mengenai teori ilmu pengetahuan tidak pernah berkembang. Yang kita temui dalam naskah-naskah kuna Sunda terutama tentang etika. Hal itu nampak dalam naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa dan huruf Sunda Kuna - yang sekarang hanya bisa dibaca dan dimengerti oleh beberapa orang saja, tidak akan lebih dari 10 orang! Begitu juga dalam naskah-naskah yang lebih kemudian yang ditulis dalam bahasa Sunda dengan huruf Pegon, huruf Hanacaraka, maupun dengan huruf Latin. Sejak abad ke-19, orang Sunda menuliskan bahasa Sunda yang diterbitkan berupa buku, tetapi seperti juga naskah-naskah isi buku-buku itu kebanyakan berupa cerita atau uraian tentang agama. Hampir tidak ada yang bersifat hasil pemikiran, apalagi yang kritis! Bersikap kritis dalam masyarakat Sunda dianggap kurang ajar. Henteu Nyunda.

Satu-satunya kekecualian mungkin hanyalah H. Hasan Mustapa (1852-1930) yang banyak menuliskan renungan dan pendapatnya yang kritis, terutama dalam bentuk puisi, walaupun banyak juga yang berbentuk prosa. Tetapi karya-karyanya kebanyakan disalurkan melalui cara pesantrén tradisional, yaitu beredar dengan disalin melalui tulisan tangan dari seorang kepada yang lainnya. Hanya tiga buah karyanya yang dicetak selama hidupnya yaitu Bab Adat Urang Priangan jeung Sunda Lianna ti Éta (1913) dan Buku Leutik Pertélaan Adat Jalma-jalma di Pasundan (1916). Keduanya merupakan deskripsi étnografis, bukan hasil renungan dan pemikirannya. Yang satu lagi, walaupun terbit ketika HHM masih hidup, namun disusun oleh W.A. (Wangsaatmadja), berjudul Balé Bandung (1924), yang merupakan kumpulan surat-menyurat antara HHM dengan Kiai Kurdi dari pesantrén Sukawangi, Singaparna. Surat-menyurat itu terutama membahas masalah ketuhanan (tauhid) dalam bentuk puisi rakyat.

Di samping itu masih dapat dipersoalkan apakah ada “falsafah” sesuatu bangsa atau suku bangsa? Kalau kita berbicara tentang falsafah Yunani misalnya, yang muncul adalah pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh banyak filosof: Sokrates, Plato, Aristoteles, Anaxagoras, Aristippus, Protagoras dll. Di samping itu ada juga falsafah Yunani modern yang berkembang pada zaman modern yang juga diwakili oleh banyak pemikir yang tidak selalu sejalan seperti Peter Vrailas-Armenis, Konstantine Tsatsos, Panayotis Kanellopoulos, Teophilos Voreas, Christos Androutsos dll. Keseluruhan pemikiran para filosof itulah yang membangun apa yang disebut “falsafah Yunani”. Di antara mereka pemikirannya bukan saja tidak selalu sejalan, melainkan sering juga bertentangan satu sama lain. Jadi bukan hanya satu macam pemikiran yang bulat menjadi hasil pemikiran orang Yunani. Hal yang sama terjadi juga kalau kita mau berbicara tentang “falsafah Cina”, “falsafah India”, “falsafah Jepang”, dll. Yang dimaksud selalu berarti seluruh pemikiran yang timbul di masing-masing negara itu dan tidak selalu merupakan kesatuan yang bulat, karena terdapat perbedaan bahkan pertentangan paham satu sama lain. Dengan demikian “falsafah orang Sunda” harusnya terdiri dari semua pemikiran yang dikemukakan orang Sunda selama sejarahnya tentang hidup, tentang mati, tentang seni, tentang agama dll. Masalahnya ialah karena orang Sunda tidak (banyak) meninggalkan naskah tertulis mengenai hal itu, sehingga kita sulit menjejakinya.

Kalau kita hendak berbicara tentang “filsafah Sunda” atau “falsafah orang Sunda”, kita tidak akan banyak menemukan hasil pemikiran orang Sunda yang tertulis. Memang pemikiran manusia tidak hanya dalam bentuk tulisan saja. Yang lisan pun bukannya tidak berharga. Tradisi lisan menurunkan pemikiran nenek moyang kepada anak cucunya melalui berbagai cara. Niscaya orang Sunda terutama mempergunakan cara lisan dalam menyampaikan kearifan hidupnya, karena tradisi tulisan belum melembaga dalam masarakat. Tapi sejak beberapa dasawara lembaga-lembaga lisan yang dahulu menjadi cara menurunkan kearifan hidup orang Sunda sudah tidak berfungsi lagi. Kearifan hidup dari nenek moyang tidak lagi disampaikan kepada anak cucu, karena masarakat Sunda mengalami perubahan yang sangat mendasar. Hanya sebagian kecil saja kearifan nenek moyang orang Sunda yang sempat dicatat dan dengan demikian tersimpan. Itu pun tidak dapat disalurkan untuk diketahui oleh anak-cucunya, karena lembaga-lembaga pendidikan dan komunikasi yang sekarang dikenal tidak memberi tempat untuk hal-hal demikian. Artinya kalaupun ada apa yang disebut “falsafah Sunda”, namun hampir tidak dikenal lagi oleh komunitas manusia yang sekarang disebut orang Sunda. Karena “falsafah” itu merupakan pandangan tentang hidup (dan juga tentang mati) yang dianut seseorang atau sekelompok orang, maka kadang-kadang “falsafah” diartikan sama dengan “pandangan hidup”. Istilah “pandangan hidup orang Sunda” pernah dijadikan kajian satu tim peneliti yang dilaksanakan kl. 20 tahun yl.

Proyék Sundanologi ketika dipimpin oleh Prof. Dr. Édi Ékadjati pada paruh kedua tahun 1980-an mengadakan penelitian tentang “Pandangan hidup Orang Sunda” dan menghasilkan tiga judul buku yang masing-masing dikerjakan oleh tim peneliti yang berlain-lainan. Yang pertama Pandangan Hidup orang Sunda seperti tercermin dalam Tradisi lisan dan Sastra Sunda (1987) yang ditulis oleh Tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Suwarsih Warnaén dengan anggota Dr. Yus Rusyana, Drs. Wahyu Wibisana, Drs. Yudistira K. Garna dan Dodong Djiwapradja SH. Yang kedua sama judulnya (1987), hanya dengan keterangan tambahan “Konsistensi dan Dinamika” dan walaupun Ketua Tim tetap, namun anggotanya berubah menjadi Dodong Djiwapradja SH, Drs. H. Wahyu Wibisana, Drs. Kusnaka Adimihardja MA, Dra Nina Herlina Sukmana dan Dra Ottih Rostoyati. Sedang yang ketiga judulnya berubah menjadi Pandangan Hidup Orang Sunda seperti tercermin dalam kehidupan Masyarakat Dewasa Ini (1988/1989) dengan Tim yang terdiri dari Dr. Yus Rusyana, Drs. Yugo Sariyun MA, Dr. Edi S. Ekadjati, dan Drs. Undang Ahmad Darsa.

Ketiga buku itu sampai sekarang merupakan hasil kajian yang boleh dikatakan cukup mendalam tentang pandangan hidup orang Sunda, baik yang tertulis dalam naskah-naskah dan buku-buku, maupun yang terdapat dalam tradisi lisan dan berdasarkan hasil wawancara terhadap orang-orang Sunda dewasa ini - yaitu pada masa penelitian itu dilangsungkan kl. 20 tahun yl. Penelitian tahap I sampai pada kesimpulan yang ternyata konsisten dengan hasil penelitian pada tahap II, namun kesimpulan pada tahap III menunjukkan terjadi pergeseran-pergeseran dalam berbagai hal.

Dalam kesempatan ini saya ingin menjadikan hasil penelitian itu sebagai pegangan kita dalam mencari jawaban atas pertanyaan apa dan bagaimana gerangan yang disebut “falsafah Sunda” tanpa terjebak dalam persoalan apakah istilah “falsafah” yang dimaksud oleh Panitia sama dengan istilah “pandangan hidup”, tidakkah “pandangan hidup” lebih sempit dari “falsafah” dan sebagainya.

*

Penelitian tentang Pandangan hidup Orang Sunda seperti tercermin dalam tradisi lisan dan sastera Sunda, dibagi menjadi lima kelompok, yaitu:

1. pandangan hidup tentang manusia sebagai pribadi;
2. pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan masyarakat;
3. pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan alam;
4. pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan Tuhan;
5. pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.

Pada tahap pertama penelitian dilakukan terhadap tradisi lisan dan sastera Sunda, yaitu yang berupa ungkapan tradisional, carita pantun Lutung Kasarung, naskah Sanghyang Kanda ng Karesian, sawér pangantén, roman Pangéran Kornél (1930) dan Mantri Jero (1928) karya R. Méméd Sastrahadiprawira. Pada tahap kedua penelitian dilakukan terhadap uga, Bab Adat Urang Priangan jeung Sunda lian ti éta (1913) karya H. Hasan Mustapa, cerita-cerita si Kabayan, cerita rakyat (yang sudah dibukukan), roman Rusiah nu Goréng Patut (1928, harusnya 1927) karya Yuhana, Lain Éta (1934) karya Moh. Ambri, Maot dina Dahan Jéngkol (1986) karya Ahmad Bakri.

Menurut kesimpulan para peneliti, tidak banyak berbeda hasil penelitian tahap I dan tahap II, kecuali bahwa penelitian tahap I memberikan gambaran tentang pandangan hidup orang Sunda golongan élit, sedangkan penelitian tahap II memberikan gambaran tentang pandangan hidup orang Sunda kebanyakan (balaréa).

Penelitian tahap III dilakukan dengan mengajukan kuesioner kepada sejumlah orang Sunda kontemporer (yang hidup pada waktu penelitian dilangsungkan), sebagai sampel diambil beberapa wilayah di Tatar Sunda, ialah Kotamadya Bandung, Sumedang Kota, Cianjur Kota, Sumedang pedesaan, Garut pedesaan, Tasikmalaya pedesaan dan Sukabumi pedesaan. Semua responden dari seluruh wilayah jumlahnya 7 X 48 orang = 336 orang, berusia antara 17 - 60 tahun, baik orang yang mampu maupun yang tidak mampu, baik pegawai negeri atau pun bukan. Tim peneliti menganggap bahwa sampel 336 orang itu representatif mewakili orang Sunda masa penelitian dilakukan yang jumlahnya pasti di atas 20 juta orang.

Ternyata pada umumnya pandangan hidup orang Sunda kontemporer itu umumnya masih tetap sama dengan pandangan hidup orang Sunda hasil penelitian tahap I dan tahap II, kecuali pada beberapa hal terjadi pergeseran bahkan perubahan.

Secara singkat, akan saya rumuskan isi hasil penelitian tersebut sebagai berikut:

1. Pandangan hidup tentang manusia sebagai pribadi

Orang Sunda berpandangan bahwa manusia harus punya tujuan hidup yang baik, dan senantiasa sadar bahwa dirinya hanya bagian kecil saja dari alam semesta. Sifat-sifat yang dianggap baik al. harus sopan, sederhana, jujur, berani dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan, baik hati, bisa dipercaya, menghormati dan menghargai orang lain, waspada, dapat mengendalikan diri, adil dan berpikiran luas serta mencintai tanahair dan bangsa. Untuk mempunyai tujuan hidup yang baik, harus punya guru yang akan menuntunnya ke jalan yang benar. Guru dihormati dalam masyarakat Sunda. Bahkan Tuhan Yang Maha Esa juga disebut Guru Hyang Tunggal. Dalam naskah Siksa Kandang Karesian dikatakan bahwa orang dapat berguru kepada siapa saja. Dianjurkan agar bertanya kepada orang yang ahli dalam bidangnya. Teladani orang yang berkelakuan baik. Terimalah kritik dengan hati terbuka. Ambil manfaatnya dari teguran dan nasihat orang lain.

2. Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan masyarakat

Tujuan hidup yang dianggap baik oleh orang Sunda ialah hidup sejahtera, hati tenang dan tenteram, mendapat kemuliaan, damai, merdeka dan mencapai kesempurnaan di akhirat. Sejahtera berarti hidup berkecukupan. Tenang dan tenteram berarti merasa bahagia. Mendapat kemuliaan berarti disegani dan dihormati orang banyak, terhindar dari hidup hina, nista dan tersesat. Hidup damai artinya rukun, akrab dengan tetangga dan lingkungan. Orang yang merdeka artinya terlepas dari ujian dan terbebas dari hidup tanpa tujuan. Dan kesempurnaan akhirat ialah terhindar dari kema’siatan dunia dan ancaman neraka di akhirat.

Untuk mencapai tujuan hidup itu orang harus taat kepada ajaran-ajaran karuhun, pesan orangtua dan warisan ajaran yang tercantum dalam cerita-cerita pantun, dan yang berbentuk naskah seperti Siksa Kandang Karesian. Ajaran-ajaran itu punya tiga fungsi: (1) sebagai pedoman dalam menjalani hidup; (2) sebagai kontrol sosial terhadap kehendak dan nafsu yang timbul pada diri seseorang dan (3) sebagai pembentuk suasana dalam masyarakat tempat seseorang lahir, tumbuh dan dibesarkan yang secara tak sadar meresap ke dalam diri semua anggota masyarakat.

Semangat bekerjasama dalam masyarakat harus dipupuk dan dikembangkan. Harus saling hormat dan bertatakrama, sopan dalam berkata, sikap dan kelakuan. Harus saling sayangi sesama anggota masyarakat.

3. Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan alam

Orang Sunda beranggapan bahwa lingkungan alam memberikan manfaat yang maksimal kepada manusia apabila dijaga kelestariannya, dirawat serta dipelihara dengan baik dan digunakan hanya secukupnya saja. Kalau alam digunakan secara berlebihan apalagi kalau tidak dirawat dan tidak dijaga kelestariannya, maka akan timbul malapetaka dan kesengsaraan.

Dalam Siksa Kandang Karesian misalnya terdapat ungkapan, “makan sekedar tidak lapar, minum sekedar tidak haus, berladang sekedar cukup untuk makan, dll. ” yang berarti tidak boleh berlebihan. Orang Sunda dianjurkan agar “siger tengah” atau “siniger tengah”, yaitu tidak kekurangan tetapi tidak berlebihan. Samasekali bukan untuk kemewahan, melainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian tidak menguras atau memeras alam secara berlebihan, sehingga terjaga kelestariannya.

4. Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan Tuhan

Sejak pra-Islam, orang Sunda percaya akan adanya Tuhan dan percaya bahwa Tuhan itu Esa. Meskipun pernah memeluk agama Hindu, namun dewa-dewa Hindu ditempatkan di bawah Hyang Tunggal, Guriang Tunggal atau Batara Tunggal. Tuhan Maha Mengetahui, mengetahui apa yang diperbuat mahlukNya, karena itu manusia wajib berbakti dan mengabdi kepada Tuhan. Tuhan disebut juga Nu Murbéng Alam (Yang Menguasai Alam), Nu Mahawisésa (Yang Mahakuasa), Nu Mahaasih (Maha Pengasih), Gusti Yang Widi (Yang Maha Menentukan), Nu Mahasuci (Yang Maha Suci), dll. Tuhan menghidupi mahlukNya, memberi kesehatan, memberi rizki dan mematikannya pada waktunya.

5. Pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.

Orang Sunda menghindari persaingan, lebih mengutamakan kerjasama untuk kepentingan bersama. Lebih menghargai musyawarah. Bekerja keras dan tidak mudah menyerah. Lebih mengutamakan mutu hasil kerja daripada kecepatan menyelesaikannya. Tidak menunda pekerjaan yang belum selesai apalagi menyerahkannya kepada orang yang bukan ahlinya. Mau mengerjakan yang baik meskipun pekerjaan kasar. Kesehatan dipelihara, makan cukup, pakaian bersih dan pantas, punya kedudukan, punya harta kekayaan. Tidak buru-buru menerima yang baru yang belum tentu baik dan tidak mudah meninggalkan yang berharga warisan nenekmoyang. Memperlihatkan rasa tanggungjawab, tidak boros, selalu mengukur keinginan dan keperluan dengan penghasilan, dan selalu hidup sederhana. Kreatif mencari lapangan kerja sendiri dan percaya pada kekuatan sendiri, menyesuaikan diri dengan lingkungan, dengan perkembangan zaman dan dengan kebiasaan yang berlaku di tempat hidupnya. Berusaha mencapai hari depan yang lebih baik. Mempelajari ilmu sampai mendasar sehingga dapat diamalkan.

Pergeseran dan perubahan

Dari hasil penelitian tahap III yang berupa kuesioner terhadap sejumlah sampel, di sejumlah daerah, terlihat adanya nilai-nilai yang tetap dipertahankan, ada yang bergeser dan ada pula yang berubah. Pada pandangan hidup manusia sebagai pribadi terdapat pergeseran mengenai pantangan (harus ada alasan yang masuk akal), hidup berkumpul dengan keluarga, membela kehormatan, hidup selamat dan hidup sederhana. Pandangan semula tidak ditolak sama sekali, tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman. Yang mengalami perubahan adalah mengenai bicara arif, bertindak hati-hati, ramah kepada pedatang, pengalihan kebiasaan dan tentang hidup yang dicita-citakan. Orang bicara tak usah lagi malapah gedang, lebih baik blak-blakan, tak usah terlalu menenggang perasaan orang lain. Terhadap para pedatang, sekarang menjadi harus waspada. Kebiasaan dirubah sesuai dengan kebutuhan, misalnya kebiasaan menanam padi, kalau ternyata memelihara ikan lebih menguntungkan, maka kebiasaan itu ditinggalkan.

Pada pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan masyarakat, cenderung terjadi pergeseran dan perubahan dalam semua hal. Misalnya tentang membantu anggota keluarga yang miskin, sewaktu-waktu dan seperlunya saja, jangan sampai yang ditolong menggantungkan diri pada orang lain. Terhadap orang tua tidak lagi menuruti segala keinginan dan nasihatnya, bergeser menjadi asal tidak melupakan dan menghargai jasa-jasanya. Dalam menghadapi hal yang tidak disetujui, kalau semula diam, sekarang menyatakan pendapat dan merundingkannya, bahkan memerotesnya. Yang berubah ialah tentang perkawinan dengan orang daerah lain (menjadi terbuka), tentang tugas isteri terhadap suami (menjadi setara sebagai teman hidup).

Pada pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan Tuhan, terjadi penguatan dan pergeseran. Kepercayaan orang Sunda akan Tuhan dan akan keesaan Tuhan, sekarang menjadi lebih kuat. Keyakinan akan Tuhan Mahakuasa kian kuat. Manusia harus berusaha dan berdo’a tapi pasrah akan hasilnya. Pendidikan agama dianggap kian penting baik di rumah, di sekolah, di madrasah, maupun di masjid. Yang bergeser adalah yang bertalian dengan upacara adat seperti membuat sasajén, dan sikap terhadap uga.

Pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah mengalami sedikit pergeseran. Umumnya nilai-nilai lama dipertahankan. Hanya kekayaan yang semula dipandang sebagai hal yang menimbulkan ketenteraman dan kebahagiaan sekarang dipandang sebagai hal yang mendorong orang untuk menyegani pemiliknya.

Dengan demikian Tim Peneliti berkesimpulan bahwa “pandangan hidup orang Sunda dengan tetap berakar pada tradisinya telah dan sedang mengalami pergeseran dan perubahan, setidak-tidaknya dialami oleh orang-orang yang menetap di kawasan sampel penelitian. ……………. Nampak pergeseran dan perubahan ke arah pandangan yang lebih waspada, yang lebih bertauhid dalam agama, yang lebih realistis dalam bermasyarakat dan lebih memahami aturan alam.” (jilid III h. 259).

Pareumeun Obor

Melihat bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian tahap I dan II, kita dapat diyakinkan bahwa hasilnya dapat dikatakan representatif mewakili alam pikiran orang Sunda seperti yang tercermin dalam tradisi lisan dan sastera Sunda - walaupun menimbulkan tandatanya mengapa dari H. Hasan Mustapa yang dijadikan bahan adalah Bab Adat Urang Priangan jeung urang Sunda Lian ti Éta saja yang merupakan deskripsi etnografis, dan tidak satu pun karyanya yang merupakan hasil pemikiran baik yang berbentuk prosa maupun yang berbentuk puisi dijadikan sumber. Tapi hal itu mungkin disebabkan karena karya-karya HHM umumnya belum diterbitkan sebagai buku - yang menimbulkan tandatanya pula karena banyak sumber lain yang berasal dari lisan malah digunakan sebagai bahan. Yang penting ternyata dalam hasil penelitian tahap I dan tahap II tidak tercermin adanya perubahan-perubahan dalam perjalanan masa, padahal bahan-bahan yang digunakan itu berasal dari masa dan lingkungan yang tidak sama. Begitu pula melihat bahwa dalam penelitian tahap III, yang dijadikan sampel hanya 336 orang, kita bertanya-tanya apakah benar telah secara representatif mewakili alam pikiran orang Sunda yang jumlahnya pasti lebih dari 20 juta, meskipun peneliti telah berusaha mengajukan kuesioner kepada orang Sunda di kota maupun di pedesaan.

Keraguan itu diperkuat ketika kita membaca hasilnya yang menimbulkan tandatanya, misalnya apakah betul hanya terjadi sedikit pergeseran dan perubahan pada pandangan hidup orang Sunda yang dirumuskan dalam penelitian tahap I dan II dengan hasil penelitian tahap III? Apakah betul pandangan hidup orang Sunda tetap berakar pada tradisinya dengan hanya mengalami pergeseran dan perubahan sedikit pada hal-hal tertentu saja?

Misalnya bertalian dengan pandangan hidup tentang manusia sebagai pribadi, hasil penelitian tahap I dan II menyatakan bahwa a.l. “orang Sunda itu berani dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan ……berpikiran luas serta mencintai tanahair dan bangsa”. Padahal dalam kehidupan nyata di sekeliling kita sekarang, apakah kita melihat nilai-nilai tersebut dilaksanakan oleh orang Sunda? Mungkin ada orang-orang Sunda yang demikian, tetapi menurut pengamatan saya bukanlah merupakan nilai yang secara umum diperlihatkan oleh orang Sunda sehari-hari. Memang ada Tétén Masduki, ada Erry Riyana Hardjapamekas, dan beberapa orang atau beberapa puluh orang lagi, tetapi secara umum orang Sunda tidak bersikap seperti mereka. Kebanyakan merasa lebih baik memilih diam melihat kebenaran dan keadilan diperkosa. Umumnya menganggap bersikap pura-pura tidak tahu sebagai sikap yang bijaksana - alias tidak bersikap “berani dan teguh pendirian”. Nilai-nilai tersebut mungkin dijaring dari naskah kuna seperti Siksa Kandang Karesian yang ditulis pada tahun 1518, ketika kerajaan Sunda masih berdiri dan manusia Sunda masih merdeka. Tetapi setelah Tatar Sunda dijajah Mataram (sejak awal abad ke-16) dan kemudian oleh Belanda (sejak abad ke-18) dan Jepang (1942-1945), manusia Sunda menjadi manusia yang paling lama dijajah di Indonesia dan mentalnya sudah berubah menjadi mentalitas manusia jajahan, yang selalu ketakutan dan tidak berani mengemukakan pikiran sendiri karena “heurin ku létah” dan sebagai abdi dalem yang setia selalu melihat ka mana miringna bendo. Lebih mengutamakan keselamatan dan kedudukan pribadi daripada memperlihatkan sikap “berani dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan”.

Menurut Siksa Kandang Karesian orang harus menerima kritik dengan hati terbuka, tetapi kita tahu kritik dianggap tabu dalam masyarakat Sunda bahkan juga sampai sekarang. Orang yang berani mengeritik dianggap henteu Nyunda! Artinya telah terjadi pergeseran dari sikap terbuka terhadap kritik yang terdapat pada masa Siksa Kandang Karesian. Tetapi sejak kapan pergseran itu terjadi, tidak diketahui.

Peneliti agaknya tidak menangkap bahwa nilai-nilai yang dimuat dalam Siksa Kandang Karesian sudah banyak yang tidak diikuti lagi dalam kehidupan nyata orang Sunda sejak beberapa lama - mungkin beberapa abad. Hal yang dapat kita maklumi karena naskah Siksa Kandang Karesian tidak dikenal lagi oleh orang Sunda umumnya sejak beberapa abad.

Juga mengenai pandangan hidup orang Sunda tentang hubungan manusia dengan alam, kita misalnya dapat mempertanyakan tentang kesadaran untuk melestarikan alam yang harus “dirawat dan dipelihara dengan baik dan digunakan secukupnya saja”. Sudah lama kita melihat - lama sebelum pada masa reformasi orang Sunda meranjah hutan Sancang dan hutan lindung lain sehingga di Tatar Sunda sekarang hampir bisa dikatakan tidak ada lagi hutan - para pejabat orang Sunda di Bappeda memperkosa tanah subur dan sungai-sungai dengan menjadikannya sebagai kawasan industri. Suara yang mengingatkan akan bahaya yang bisa ditimbulkannya tidak pernah didengar. Nasihat Siksa Kandang Karesian tentang “makan sekedar tidak lapar, minum sekedar tidak haus, berladang sekedar cukup untuk hidup” sudah lama tidak diperhatikan. Orang Sunda sekarang kebanyakan sudah terpengaruh oleh faham kapitalistis yang serakah dan tidak pernah merasa kenyang dengan apa yang sudah didapat.

Nilai-nilai dalam pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah juga sudah berubah. Mengutamakan mutu hasil kerja misalnya sudah dikalahkan oleh keinginan menghasilkan sebanyak mungkin - dengan konsekuensi mutunya menurun. Nilai tentang hidup sederhana sekarang hanya dilaksanakan karena terpaksa. Dan kalau terpaksa semua orang juga bisa, walaupun hasratnya yang menonjol adalah mencapai kehidupan duniawi yang penuh gemerlapan. Kalau perlu tanpa memperhatikan larangan-larangan yang diturunkan dari leluhurnya. Juga nilai “tidak buru-buru menerima yang baru yang belum tentu baik dan tidak mudah meninggalkan warisan nenek moyang yang berharga” tidak kelihatan lagi. Sekarang semua orang seperti berlomba-lomba menerima bahkan merebut yang baru walaupun belum tahu baik buruknya dan tidak nampak usaha untuk mempertahankan warisan nenekmoyang yang berharga.

Pertanyaan-pertanyaan itu timbul karena memang kita sebagai orang Sunda, sebagai bangsa Indonesia, sedang mengalami perubahan sosial yang luar biasa. Perubahan yang mengguncangkan dan mencabut nilai-nilai warisan nenekmoyang yang karena perjalanan sejarah tidak dapat disampaikan secara baik dari generasi tua kepada generasi selanjutnya, baik secara lisan maupun secara tulisan. Misalnya nilai-nilai yang dikemukakan dalam Siksa Kandang Karesian, yang pada masanya menjadi pegangan orang banyak selama berabad-abad hanya secara fragmentaris saja disampaikan oleh generasi tua kepada generasi yang berikutnya. Sementara itu telah datang agama, budaya dan nilai-nilai baru dari luar yang merasuk ke dalam masyarakat baik yang di kota maupun yang di desa, baik yang termasuk golongan elit maupun yang termasuk golongan balaréa, dibawa oleh para saudagar, para penjajah, dan lain-lain. Semuanya itu mempengaruhi nilai-nilai yang dianut oleh orang Sunda dalam hidupnya dari masa ke masa. Sementara pewarisan nilai-nilai asli peninggalan nenekmoyangnya tidak berlangsung secara baik, sehingga orang Sunda sekarang seperti pareumeun obor.

Pabelan, 12 Agustus, 2006.

Konservasi Budaya

SERAYA berupaya untuk turut memperbaharui tradisi, Ajip juga berupaya untuk ikut memelihara atau menyelamatkan segi-segi yang dianggap baik dari tradisi. Dokumentasi dan publikasi carita pantun—salah satu bentuk sastra lisan Sunda—yang dilakukan pada dasawarsa 1970-an adalah salah satu contohnya. Sementara itu sejumlah karya kreatif karangan Ajip tampak memiliki kekayaan etnografis yang cukup baik semisal roman Perjalanan Penganten yang di dalamnya antara lain melukiskan ritus kelahiran dan inisiasi anak di Tatar Sunda. Di samping mencoba menerjemahkan karya sastera Sunda ke dalam bahasa Indonesia, semisal atas karya-karya Mohamad Ambri (Mengurbankan Nyawa dan Dasar Sial) dan sejumlah cerita pendek yang dihimpun dalam kumpulan cerpen Dua Orang Dukun, juga memprakarsai penerjemahannya ke dalam bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Prancis, ia pun berupaya menulis cerita berbentuk roman berdasarkan legenda yang hidup di tengah masyarakatnya, baik dari lingkungan Sunda maupun Jawa, seperti roman Purbasari Ayu Wangi, Mundinglaya Di Kusumah, Candra Kirana, dll. Demikian pula upaya Ajip dan kawan-kawan selama lebih dari delapan tahun untuk menyusun Ensiklopedi Sunda yang cukup komprehensif hingga buku tersebut terbit pada tahun 2000, merupakan salah satu bagian penting dari kerja budayanya yang berkaitan dengan “pewarisan nilai-nilai budaya Sunda di tengah banjir bandang globalisasi”—yang menjadi tema dari Konferensi Internasional Budaya Sunda I pada 2001.
Memang seringkali timbul rasa haru dari kenyataan bahwa ia, yang acapkali terkesan sendirian, seperti mencoba menyelamatkan puing-puing reruntuhan masa lalu yang dipandang masih punya harga, mencoba merekatkan kembali serpihan-serpihan yang tidak lagi lengkap itu, tanpa banyak orang yang memperdulikannya atau tertarik untuk terlibat dalam upaya yang sukar itu. Bahkan ada kalanya upaya Ajip dalam hal ini terkesan seperti perjuangan Don Quixote untuk menegakkan tugas mulia di muka bumi pada suatu zaman yang keliru. Hanya ada Sancho Panza, juga Rozinante, yang selalu menemaninya di sepanjang perjalanannya yang jauh itu. Namun, bagaimanapun gilanya upaya Ajip dalam bidang konservasi budaya, teristimewa menyangkut budaya lokal, upaya seperti itu tentu punya nilai yang tak tepermanai bagi kebudayaan masyarakatnya. Jikalau suatu kebudayaan, selain perlu memiliki orientasi terhadap hari depannya, juga perlu memelihara persepsi yang tepat mengenai masa lalunya sendiri, sejumlah agenda budaya Ajip yang dijalankannya selama ini kiranya telah menyediakan dasar-dasarnya. Dan jikalau antropologi berkepentingan untuk—-dalam perkataan Gilbert Ryle—-menyusun “lukisan mendalam” (thick description) mengenai kebudayaan suatu masyarakat pada suatu ruang dan waktu tertentu, maka cukup banyak buah jerih payah Ajip dan kawan-kawan yang dapat dijadikan bahannya.

Wawancara Khusus, Dinamika Kesenian Sunda Tidak Sama di Jawa Barat

Etnis Sunda memiliki kekayaan budaya yang tidak sedikit. Salah satu di antaranya ialah keragaman keseniannya. Realitasnya, dinamika kesenian Sunda tidaklah sama di semua tempat di Jawa Barat.

Berikut petikan wawancara Kompas dengan Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Arthur S Nalan SSen MHum.

Seberapa besar potensi kesenian tradisional Sunda di Jawa Barat?

Sebelum Banten menjadi provinsi sendiri, dari segi kuantitas, potensi kesenian tradisional Sunda banyak sekali, bisa mencapai 300- an bentuk dan jenisnya. Setelah Banten menjadi provinsi, tentu jumlahnya berkurang. Ragam kesenian yang ada ini ada yang masih aktif dimainkan oleh masyarakat, ada yang setengah aktif, dan ada yang sudah tidak aktif lagi, bahkan ada yang sudah punah. Kesenian yang setengah aktif tadi sewaktu-waktu masih bisa dimainkan meskipun dengan frekuensi pertunjukan yang sedikit. Adapun yang punah maksudnya kesenian itu tinggal nama saja karena sudah tidak ada lagi masyarakat yang memainkannya. Sebenarnya potensi kesenian Jawa Barat itu berbasis kerakyatan. Oleh karena itu, sepanjang rakyat menyadari pentingnya seni tradisional maka kesenian Sunda akan tetap ada.

Bagaimana langkah pemda dalam melestarikan kesenian tradisional ?

Pemerintah Jawa Barat saya nilai sudah cukup akomodatif terhadap dunia kesenian, apalagi Jawa Barat juga sudah memiliki strategi kebudayaan. Hanya saja tantangannya ialah seberapa jauh kebijakan ini diterjemahkan menjadi langkah konkret pengembangan seni dan budaya oleh pemerintah kabupaten/kota.

Sikap pemda terhadap seni dan budaya seperti apa?

Seharusnya setiap bupati dan wali kota sadar bahwa daerahnya punya potensi seni budaya. Kesadaran ini kemudian diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Saya prihatin ada yang pendapatan asli daerah (PAD)-nya tinggi, tapi alokasi untuk pengembangan seni budaya minim. Padahal, potensi seninya besar. Anggota DPRD pun sering kali berpandangan pragmatis. Mereka tidak berpikir bahwa melalui seni dan budaya daerah akan berdaya.

Bagaimana nasib para seniman kesenian tradisional di Jabar?

Nasib para seniman itu pasang surut dan sangat bergantung pada kebijakan pemdanya. Sebenarnya inilah dinamika berkesenian. Walaupun bukan hal yang utama, bantuan dana dari pemerintah masih dibutuhkan oleh seniman di daerah. Di wilayah tertentu yang kebutuhan seni masyarakatnya masih tinggi kesenian daerah tentu tetap hidup. Ini bisa dilihat di daerah pantai utara yang begitu dinamis. Namun, tentunya tidak semua wilayah di Jawa Barat bisa dinamis seperti itu. Yang menjadi kendala ialah masalah regenerasi. Pada beberapa orang seniman, regenerasi berjalan baik sementara yang kurang berjalan pun banyak. Misalnya saja, regenerasi penari ronggeng gunung di Ciamis.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kesenian tradisional masih mengandalkan kharisma tokoh senimannya sehingga ketika ia meninggal, pengaruhnya akan sangat besar. Sayangnya, ada perubahan cara pandang pada anak-anak seniman tradisional itu yang mulai menjadikan faktor ekonomi sebagai pertimbangan berkesenian

MEMPERTAHANKAN REOG ALA SUNDA


PDF


Print


E-mail



Thursday, 12 June 2008

Pagi itu, 1 Juni 2008. Para pria dan wanita dengan warna-warni baju khas kawula Sunda tampak memenuhi pelataran Monumen Perjuangan Rakyat yang terletak tepat di depan Gasibu. Masing-masing dari mereka memegang alat musik Dogdog, sejenis alat musik pukul tradisional Sunda. Dikomandoi oleh dua orang instruktur, 180 penabuh Dogdog itu serempak membunyikan alat yang dibawanya. Ketukan demi ketukan kemudian bergema saling sahut menyahut dalam susunan simphoni yang cukup sulit untuk diuraikan dengan kata-kata. Rekor itupun kemudian terpecahkan. Rekor memukul Dogdog serempak dan juga sekaligus terbanyak. Tercatat enam daerah turut serta menyumbangkan para pemain Dogdog dalam acara ini. Masing-masing adalah Kab. Garut, Kab. Subang, Kota Bandung, Kab. Purwakarta, Kab. Banjar, dan Kab. Bandung. Tak hanya menampilkan para pemain Dogdog, event yang satu ini juga dimeriahkan oleh 10 orang peniup terompet, 10 orang pemain gendang, 30 orang penari latar, dan 20 orang pembawa umbul-umbul.

ImageMungkin sebagian besar dari kita lalu akan bertanya-tanya penuh kebingungan, alat musik apakah sebenarnya Dogdog? Dogdog adalah alat musik pukul yang biasa digunakan dalam pagelaran Reog Sunda. Reog? Ya, seperti halnya Jawa Timur yang dikenal dengan Reog Ponorogonya, tanah Pasundan pun sebenarnya memiliki Reog. Hanya saja, jika di Jawa Timur Reog yang dimilikinya menggunakan Barongsai, tidak demikian halnya dengan Reog yang dimiliki oleh Jawa Barat. Reog ala Sunda hanya menggunakan alat musik sebagai medium berkeseniannya.

Dalam sambutannya, Kepala Disbudpar Jawa Barat, I. Budyana mengatakan bahwa pemecahan rekor ini bukan hanya sebatas pemecahan rekor MURI saja, tapi lebih kepada pelestarian dan regenerasi budaya yang ada di Jawa Barat. “Selain itu, melalui gelaran ini, Disbudpar Jawa Barat juga ingin mengapresiasi secara nyata hasil cipta karya masyarakat Jawa Barat ke dalam HAKI (Hak Kekayaan Intelektual),” terangnya kemudian.

Ia juga kemudian mengatakan bahwa untuk menindaklanjuti apa yang telah dimulai pada hari itu, Bandung juga akan menjadi tuan rumah Festival Reog Nasional pada Juni 2009. Seakan tak main-main dengan ucapannya, pihak Disbudpar bahkan berencana mengundang seluruh komunitas Reog di Jawa barat untuk memeriahkan festival yang rencananya akan diselenggarakan di Purwakarta tersebut.

Keinginan untuk memunculkan Reog Jawa Barat di kancah yang lebih luas tampaknya memang hal yang mendasari diadakannya kegiatan yang satu ini. Adapun keinginan untuk mendaftarkan bermacam kesenian Jawa Barat termasuk Reog dengan Dogdognya ke dalam HAKI dengan demikian sebenarnya didasari oleh adanya hasrat agar kesenian ini diakui secara nasional maupun internasional. Kita semua mungkin masih teringat dengan kasus Reog Ponorogo yang diklaim secara sepihak oleh Malaysia, pun demikian halnya dengan beberapa motif batik dan permainan Congklak. Yang cukup menghebohkan tentu saja adalah masalah lagu “Rasa Sayange” yang sempat memunculkan polemik berkepanjangan serta keretakan hubungan antara Indonesia dan Malaysia.

PBB akhirnya kemudian memang turun tangan dan membatalkan hak paten yang telah dikantongi Malaysia. Namun bukan tak mungkin kasus serupa akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Bukan tak mungkin pula jika kemudian Reog Sunda sebagai salah satu kesenian tradisional yang selama ini kurang mencuat bisa jadi akan diklaim oleh negara lain.

Tradisi, tak bisa dipungkiri, memang seringkali dianggap remeh. Kesenian rakyat yang dianggap lahir dari kebiasaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat adakalanya dibiarkan berjalan sendiri saja tanpa arahan yang jelas. Padahal tak bisa dinafikan, banyak dari kesenian tradisional yang dimiliki oleh bangsa ini telah berhasil mengangkat nama Indonesia di dunia internasional.

Lalu pada akhirnya, pertunjukan Reog dengan Dogdognya kemarin itu setidaknya merupakan langkah tepat yang harus diakui sangatlah tepat dilakukan untuk mempertahankan tradisi agar tidak lagi direbut oleh bangsa lain. Namun sebenarnya, langkah awal yang seharusnya lebih dulu dilakukan untuk mewujudkan itu adalah dengan memiliki kebanggaan terhadap tradisi yang kita punyai. Setelah itu barulah kita dapat berbicara mengenai kepemilikan dan pewaris sah dari sebuah tradisi. (Nunuw)



KEMBANGKAN KESENIAN TRADISIONAL MELALUI PASANGGIRI



Rabu, 13 September 2006

Dalam upaya mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisional Jawa Barat, Dinas Informasi Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor menggelar Pasanggiri Anggana/Rampak Sekar dan Degung Tingkat SD/SMP/SMA/Guru/Sanggar se Kota Bogor. Kegiatan yang berlangsung di SMKK Bogor diikuti 34 peserta yang dibuka resmi Kepala Dinas Informasi, Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor Dr.Yamin M Saleh mewakili Walikota Bogor. Dalam sambutannya Yamin mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu langkah nyata upaya Pemerintah Kota Bogor untuk terus mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisional Jawa Barat, terutama di kalangan generasi muda, â??Kami berharap melalui kegiatan ini, para pelajar SD, SMP, SMA dan masyarakat umum dapat memupuk rasa cintanya terhadap kekayaan budaya daerah, â?? katanya. Kita menyadari bahwa pada sisi budaya, masyarakat Jawa Barat saat ini sedang dihadapkan pada tantangan yang berat, yaitu mengikisnya kekuatan jati diri budaya Sunda, sebagai akibat dari derasnya desakan budaya global. Pada dasarnya kita memang tidak bisa menghindar dari proses akulturasi budaya blobal yang semakin menguat, karena saat ini kita memang sedang berkembang menjadi bagian masyarakat dunia yang semakin menyatu. Karena itu sudah semestinya apabila kita mampu memperkuat budaya Sunda sebagai jati diri masyarakat Jawa Barat. Sebab, bagaimanapun budaya Sunda adalah bagian dari kekayaan nasional. Untuk itu kita menyadari bangsa yang besar sangat ditentukan juga oleh seberapa besar masyarakatnya mengapresiasi kekayaan budayanya bisa tumbuh sebagai negara modern dan maju, tanpa menjadi kehilangan akar budaya mereka. Bahkan sudah semestinya menggali kekayaan budaya Sunda, sehinga pada gilirannya budaya Sunda mampu mewarnai bentukan budaya global yang kini masih terus berproses, â??ungkapnya. Sementara Kabid Kebudayaan Disparbud Kota Bogor Dra. Hj. Nurhadiaty mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah khususnya di Kota Bogor, â??Ini merupakan kegiatan yang positif sebagai rasa kepedulian Pemkot Bogor dan masyarakat, sehingga dapat mewujudkan kreativitas dan beraktivitas dalam bidang berkesenian. Lebih lanjut Nurhardiaty menambahkan bahwa kegiatan ini juga sebagai bentuk evaluasi yang telah dilaksanakan pada work shop pada bulan lalu yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 dan hasil dari pembinaan yang telah dilaksanakan adalah pembinaan guru-guru dan sanggar. Kegiatan yang diikuti 34 peserta akan berlangsung selama tiga hari 12 â?? 14 September 2006 mendatang, Sedangkan kriteria penilaian meliputi pengusaan lagu, teknik, dan harmonisasi.

PENILAIAN SENI DI KALANGAN MASYARAKAT

Oleh :
Dr. Rusli Yusuf, M.Pd***



I.Pendahuluan
Berbicara tentang pelestarian nilai budaya masyarakat Aceh, berkaitan dengan gerak sejarah yang menyangkut dengan jatuh bangunnya kebudayaan dan peradaban masyarakat Aceh yang berjalan sangat unik. Nilai budaya dan peradaban masyarakat dalam proses pengembangan nya mengalami siklus yang menarik pula untuk di kaji. Siklus pengembangan dan pelestarian budaya Aceh mengalami masa lakir (netal), tumbuh dan berkembang (growth) dan mundur, serta kehancuran, dimana proses ini berjalan sangat kontra-versial.
Membuka lembaran sejarah kebudayaan, peradaban dan pelestarian nilai budaya Aceh yang sangat panjang itu, dapat ditampilkan beberapa babakan kehancuran. Babakan kehancuran kebudayaan dan peradaban itu terkait dengan sistem nilai yang di praktikan pada masa kini. Babakan kehancuran budaya dan peradaban itu dapat dibagi secara garis besar adalah : (1) Perlawanan terhadap Portugis, (2) perlawanan terhadap Belanda dan pendudukan Jepang, (3) perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, (4) konflik fisik secara internal (perang Cumbok), (5) perlawanan terhadap pemberontakan G 30 S PKI, (6) gerakan Darul Islam (DI), (7) penanganan terhadap GAM, (8) pemberlakuan kebijakan Daerah Operasi Militer (DOM), (9) masa pemberlakuan Darurat Militer (A. Rani Usman, 2003 dan Al Chaidar, 1998), (10) masa MoU-Helsinki.

Dari babakan peristiwa kehancuran kebudayaan dan peradaban, tergambar bahwa masyarakat Aceh selalu mempertahankan prinsip-prinsip yang di “anggapnya benar” dan dengan spirit budaya mereka melakukan pembelaan terhadap harkat dan martabatnya. Pembelaan terhadap harkat dan martabat yang dilakukan dengan penuh “heroik” itu terkesan bahwa sistem nilai budaya masyarakat Aceh bersifat “bipolar”, di mana penempatan sesuatu persoalan pada dua kutub secara tegas, yaitu kutub benar di satu pihak dan kutub salah di pihak lain.
Dari bababkan kehancuran kebudayaan dan peradaban serta bipolarisasi sistem nilai budaya Aceh itu dapat dilukiskan beberapa “makna” yang perlu diarifi secara mendalam. Pertama, prosses penghancuran kebudayaan dan peradaban yang terfokus pada korban kemanusian dan kebendaan, sehingga masyarakat kehilangan kesempatan untuk berkarya. Artinya, kehancuran kebudayaan dan peradaban terjadi karena kehancuran kemanusiaan dan harta benda. Kedua, proses penghancuran kebudayaan dan peradaban yang diakibatkan resistensi rakyat Aceh terhadap pemerintah pusat (Darul Islam dan GAM), di samping hilangnya nyawa dan harta benda juga muncul rasa ketidakamanan, ketidaktentraman dan rasa takut. Munculnya perasaan ini mengakibatkan mereka tidak lagi menghasilkan karya budaya dan pemikiran untuk mencerahkan kehidupannya. Ketiga, kebudayaan dan peradaban Aceh selalu dibangun dengan kekerasan dan juga dihancurkan dengan kekerasan. Keempat, setiap babakan penghancuran kebudayaan dan peradaban, rakyat Aceh mampu bangkit kembali dari proses penghancuran itu.(A. Rani Usman, 2003).
Dari latar belakang di atas, makalah ini ingin menyorot tentang : (1) apa yang menjadi sistem nilai budaya masyarakat Aceh, (2) bagaimana sistem nilai budaya itu berubah, (3) bagaimana sistem nilai budaya itu dikembangkan dan dilestarikan dikalangan siswa, mahasiswa dan masyarakat.

II.Konsep Sistem Nilai Budaya Masyarakat Aceh
Membincangkan sistem nilai terkait dengan konsep kebudayaan. Kebudayaan lahir akibat kreativitas manusia, di mana kreativitas itu muncul karena mereka berinteraksi sesama manusia itu sendiri. Kebudayaan merupakan aspek ekspresi simbolik perilaku manusia, yang mempengaruhi aspek kehidupan sehari-hari. Kebudayaanlah yang membentuk manusia dan manusia juga yang mewujudkan budaya dengan menunjuk pada sifat interaktif dari keunggulan individual dalam mewujudkan budaya itu (Kitano dan Kirby, 1986), Kebudayaan merupakan seperangkat penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai-nilai insani (Backer, 1984). Artinya kebudayaan adalah hasil dari pengolahan nilai-nilai insani yang diekspresikan kepada manusia lain. Ekspresi itu berupa suatu simbol kemanusian yang dihasilkannya dari alam dan nilai-nilai itu dikembangkan sebagai kebutuhan spriritual.
Berbicara tentang sistim nilai budaya suatu masyarakat para antropolog sering mengunakan lima orientasi nilai budaya, yaitu : (1) konsepsi manusia tentang hidup, (2) konsepsi manusia tentang karya, (3) konsepsi manusia tentang waktu, (4) konsepsi manusia tentang alam, (5) konsepsi manusia tentang hubungan manusia sesama manusia (Koentjaraningrat, 2000).
Kerangka konsepsi orientasi nilai budaya di atas, menurut hemat saya dapat menjelaskan orientasi nilai budaya masyarakat Aceh dengan menambahkan orientasi nilai keagamaan. Diketahui bahwa nilai keagamaan (Islam) mengembangkan dua orientasi nilai dasar yaitu orientasi ketuhanan dan orientasi kemanusiaan atau hablun minallah dan hablun minan nas. Dari dua nilai dasar ini lahir tanggung jawab manusia dalam sistem nilai budaya masyarakat Aceh, yaitu : (1) tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, (2) tanggung jawab manusia terhadap sesama manusia, (3) tanggung jawab manusia terhadap lingkungan alam, (4) tanggung jawab manusia terhadap waktu, (5) tanggung jawab manusia terhadap dirinya (Abidin Hasyim, 1988).
Dalam sistem budaya masyarakat Aceh, hakikat manusia ditentukan oleh Allah. Kehidupan ini diciptakan dan diatur serta ditentukan oleh Allah. Nasib manusia ditentukan oleh Allah tapi manusia diberi kesempatan untuk berusaha. Masyarakat Aceh menganggap karya manusia digunakan untuk mempertahankan pemberian Allah, pada saat karyanya (martabat, harkat, negeri misalnya)terusik oleh dunia luar maka berkecendrungan untuk mempertahankan secara heroik. Pada saat budayanya terusik, mereka cenderung tidak menghasilkan karya baru, mereka lebih memilih berpolitik untuk mempertahankan hasil karyanya. Fenomena ini “terkesan” orientasi nilai budaya Aceh ke masa lalu. Orientasi nilai masa lalu dan masa depan (hasil). Alam dimanfaatkan oleh manusia untuk kepentingan manusia secara arif, artinya alam dan mahkluk lain diperuntukkan demi kemaslahatan manusia dengan cara memelihara dan melestarikannya. Konsepsi kelestarian alam dalam sistem nilai budaya Aceh dapat dikaitkan dengan konsep “boinah” (warisan orang tua). “Boinah” (Adnan Abdullah, 1988) ini harus dikelola dengan baik dan benar sehingga dapat diwarikan lagi ke generasi berikutnya (sustainable). Masyarakat percaya bahwa rezeki datangnya dari Allah melalui manusia karena itu mereka selalu berupaya memperbaiki hubungan manusia dengan manusia dengan baik sebagai aktualisasi diri (self actualization).

III. Perubahan dan Pelestarian Nilai Budaya
3.1. Prinsip Pelestarian Nilai Budaya
Nilai budaya masyarakat Aceh adalah patokan beperilaku dalam mengekspresikan dirinya dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkunganalam secara integral, yang bersumber pada agama, kebergaman keacehan, keindonesiaan dan global. Nilai budaya adalah suatu patokan berperilaku masyarakat dalam mengekspresikan sesuatu secara mendalam, bijaksana, berpikir melingkar, adil jujur, konsisten dan terbuka (Raja Itam Anwar, 2002). Nilai budaya Aceh merupakan nilai-nilai yang pernah hidup dan berkembang pada masa lalu perlu di gali dan dikembangkan untuk keperluan kekinian.
Nilai budaya yang bersumber pada agama dan keberagaman keacehan dapat dikembangkan dan dilestarikan dengan mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai berikut : (1) prinsip keluasan penyebaran (universality), (2) kegunaan praktis (utility), (3) prinsip distingtif (distinctiveness), (4) prinsip kemajuan (adab) dan, prinsip kesetaraan (equality). (Budhisantoso, 2002).
Dalam kaitan dengan prinsip universalitas, bahwa nilai budaya keacehan, seharusnya diartikan sebagai unsur yang sangat luas penyebarannya dan dapat dianggap sebagai unsur kebudayaan yang menunjukan persamaan (cultural similarity) dan karena itu sangat besar peluangnya untuk diterima sebagai unsur yang dapat memperkaya dan merangsang perkembangan budaya Aceh. Sebagai contoh adalah nilai-nilai budaya yang berlandaskan pada norma agama, sehingga seluruh masyarakat Aceh dapat menerimanya.
Dalam prinsip relevansi, nilai budaya harus mempunyai praktis (utility) dalam kehidupan yang bersifat majemuk. Prinsip distingtif (distinctiveness) dimana nilai budaya itu hendaknya juga diartikan sebagai unsur kekhususan ataupun yang mempunyai potensi nilai kebudayaan yang diidolakan sebagai jatidiri masyarakat Aceh yang membedakan dengan masyarakat lain, misal nilai-nilai budaya yang menghargai tinggi musyawarah untuk mencapai kesepakatan dalam menegakkan demokrasi.
Prinsip kemajuan (adab) menyangkut dengan nilai budaya yang hendaknya diartikan sebagai unsur-unsur kebudayaan yang membuka peluang atau memperlancar kreativitas masyarakat untuk mengembangkan penemuan dan rekayasa pembaharuan menuju adab. Karena itu nilai budaya itu tidak menutup kemungkinan penyerapan unsur budaya asing.
Prinsip (equality) menyangkut dengan penekanan arti pentingnya semagat kesetaraan di samping keanekaragaman dalam pengembangan nilai budaya keacehan.

3.2. Pendekatan Pembentukan dan Pelestarian Nilai Budaya
Pembentukan nilai budaya sehingga menjadi suatu sistem nilai budaya (proses internalisasi) dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu: (1) pendekatan sosial normatif, dimana seorang tunduk (konformis) pada suatu sistem nilai (nilai budaya masyarakat Aceh), disebabkan ia merasa takut terhadap penyimpangan sosial, celaan sosial dan kurang percaya terhadap penilaian sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan institusi mesjid dan meunasah sebagai pusat kontrol sosial, (2) pendekatan informasional di mana seseorang tundukm pada suatu sistem nilai(konformis) karena dipengaruhi oleh komunikasi persuasif dari orang (komunikator) yang memiliki pengetahuan dan terpercaya. Pengaruh sosial informasionalonal ini tergantung pada dua aspek situasi (a) keyakinan individu tentang seberapa baik informasional yang dimiliki oleh kelompok, (b) penilaian bebas individu itu sendiri (realitas sosialyang teramati masyarakat sebagai komunikasi persuasif), dan (3) pendekatan keteladanan, di mana seseorang konformis terhadap sistem karena individu melihat elitnya melakukan sesuatu dengan benar. Kalau kita setiap waktu maghrib masuk kamar tidak melakukan shalat, tapi anaknya disuruh shalat kemungkinan anaknya tidak pernah shalat. Kalau elit politik selalu menyelesaikan persoalan bangsa dengan kekerasan berkecendrungan akan diikuti oleh generasi berikutnya.
Ketiga pendekatan internalisasi itu, dapat bermakna terhadap perubahan pada sistem nilai budaya, melalui tiga komponen dasar yaitu kognitif, efektif dan evaluatif. Melalui pembinaan daya efektif diharapkan akan terbina kemampuan anak dalam menghayati aspirasi atau denyut jantung masyarakatnya, sedangkan melalui pembinaan konatif evaluatif diharapkan akan terbentuk komitmen mereka terhadap exsistensi nilai budaya suku bangsanya . Tampilan nilai budaya melalui sosial normatif, sosial informasionalonal dan keteladanan akan mempengaruhi pengetahuan, perasaan dan penilaian generasi muda dalam menyelesaikan sesuatu secara arif dalam menghadapi sesuatu persoalan yang kompliks.

3.3. Perubahan Dan Pelestarian Nilai Budaya Melauli Pendidikan
Pada hakikatnya manusia hidup dalam masyarakat, selalu berhubungan dengan lima wilayah dinamis yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan ( riwiyanto, p. 264 ).
Saya menyakini bahwa, nilai budaya sebagai suatu sistem-sistem selalu berada dalam proses perubahan, dengan demikian dapat menyulitkan upaya pelestariannya. Upaya pelestarian suatu sistem nilai dapat memonitor adanya perubahan, dan perubahan itu akan mendorong suatu nilai menjadi statis. Nilai yang statis menurut Hasballah M. Sa’ad, memberi ayoman dan rujukan untuk melestarikan prilaku, memotifasi dan akan berhadapan dengan proses perubahan yang terus menerus terjadi.
Perubahan sistem nilai budaya dikalangan siswa, mahasiswa dapat terjadi melalui proses pendidikan, yaitu: Pertama pendidikan nilai budaya dilakukan dengan menciptakan suasana dan iklim di sekolah secara keseluruhan yang kondusif bagi sosialisasi terhadap nilai-nilai budaya yang mau dikenalkan dan ditumbuhkan kesadaran akan pentingnya serta dipupuk penghayatannya dalam perilaku subyek didik. Ada nilai-nilai kemanusian universal berdasarkan paham kodrat manusia yang perlu diperkenalkan dan ditumbuhkan komitmen untuk mewujudkan dalam tindakan subyek didik. Di antara nilai-nilai itu, nilai-nilai budaya manakah yang akan diprioritaskan untuk diberi tekanan khusus di sekolah bersangkutan, tentunya terkait dengan kebutuhan yang ada dalam masyrakat tempat sekolah diselenggarakan. Misalnya, jika sekolah ingin menanamkan nilai budaya keadilan kepada para subyek didik karena nilai itu amat mendesak untuk diperjuangkan, dalam masyarakat, tetapi di lingkungan sekolah itu mereka terang-terangan menyaksikan berbagai bentuk ketidakadilan, maka di sekolah itu tidak tercipta iklim dan suasana yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai budaya.
Demikian pula jika berbagai bentuk kecurangan dan kebohongan yang tidak adil secara sosial tidak hanya dibiarkan terjadi, bahkan dilakukan oleh para pendidik sendiri di sekolah (seperti praktik jual- beli soal, mark-up nilai, pemaksaan pegangan buku pegangan siswa, diskriminasi perlakuan tehadap siswa berdasar agama, suku, kelas sosial, dan sebagainya), maka tidak mengherankan jika peserta didik dalam hidup sehari-hari melecehkan nilai-niali budaya yang sebenarnya amat diperlukan untuk kehidupan bersama yang sehat di tengah masyarakat. Dalam suasana komersialisasi pendidikan di sekolah seperti itu, peserta didik akan sulit menghargai nilai budaya keadilan. Sebaliknya, pesan tersembunyi yang mereka tangkap justru sebaliknya. Selain itu, suasana sekolah yang sama sekali tidak demokratis, justru sebaliknya kepala sekolah dan guru-guru banyak main perintah dan main kuasa, akan membuat peserta didik cenderung berbuat otoriter dan sewenang- wenang terhadap teman-teman dan orang lain yang dianggap bawahannya. Alih-alih menjunjung tinggi martabat sesama manusia sebagai sama derajat dan sama hak serta kesadaran akan kepemimpinan sebagai suatu bentuk pelayanan, pesan tersembunyi yang ditanggkap peserta didik justru, “ berlombalah menduduki kekuasaan tertinggi dan kamu akan dapat memperoleh apa yang kamu mau “. Dengan demikian suasana dan iklim yang ada di sekolah justru menggagalkan upaya pendidikan nilai yang akan dilakukan di sekolah itu.
Kedua, Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai-nilai budaya yang diajarkan akan dapat secar instinktif mengimbas dan efektif berpengaruh pada peserta didik. Ada ungkapan “ Action Speaks Louder Than Words “. Sebagai contoh, jika guru sendiri memberi kesaksian hidup sebagai pribadi yang selalu berdisiplin, maka kalau ia mengajarka sikap dan nilai disiplin pada peserta didiknya, ia akan lebih disegani. Akan tetapi imbas dan pengaruhnya akan lebih efektif lagi kalau terjadi interaksi intensif dan personal antara pendidik dan peserta didik. Pengajaran klasikal saja tidak akan mencukupi jika pendidikan dimaksudkan untuk membentuk watak baik dan perilaku yang positif dalam diri subyek didik. Guru kelas, wali kelas, guru BP, pamong dan guru-guru lain yang menaruh perhatian dan berhasil menjalin kontak personal dengan peserta didik, akan mampu mengubah sikap dan perilaku peserta didiknya kearah yang baik. Seperti sudah disinggung diatas, tidak jarang guru mnempunyai pengaruh lebih besar terhadap anak atau siswa dibandingkan dengan orang tuanya.
Ketiga, semua pendidik di sekolah, terutama para guru, perlu jeli melihat peluang yang ada, baik secara kurikuler maupun non/ ekstrakurikuler, untuk menyadarkan pentingnya sikap dan perilaku positif dalam hidup bersama dengan orang lain, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat. Juga perlu jeli melihat dan memanfaatkan peluang untuk melatih penghayatan berbagainilai budaya dan perilaku positif yang diperlukan agar hidup bersama dalam keluarga, sekolah dan masyrakat lebih manusiawi dan beradab. Guna menyadarkan pentingnya nilai kejujuran dan untuk melatih peserta didik menghayati nilai itu, misalnya seorang guru pada awal pelajaran menegaskan ketentuan bahwa jika ketahuan mencontek saat ulangan, maka hasilnya tidak akan diperiksa dan otomatis mendapat nilai kurang. Ada kepala sekolah yang bersikap lebih drastis dengan langsung mengeluarkan dari sekolah anak yang ketahuan mencontek.
Kebijaka-kebijakan seperti itu secara psikologis dapat memberi dampak positif bagi upaya pendidikan nilai budaya kejujuran di sekolah. Selain memberi sanksi bagi mereka yang melanggar, pemberian pujian dan penghargaan bagi mereka yang berhasil mengupayak perwujudannya secara psikologis juga dapat menjadi insentif atau positif reinforcement. Memang tetap perlu diwaspadai agar pemberian pujian dan penghargaan kepada subyek didik tidak menyebabkan menguatnya motivasi ektrinsik dan bukan motivasi intrinsik subyek didimdalam berperilaku baik.
Secara kurikuler, setiap bidang studi, kalau guru cukup jeli dan kreatif dalam cara mengajar, sebenarnya dapat ditemukan peluang untuk melakukan pendidikan nilai demi pembentukan sikap dan perilaku yang baik dari peserta didik. Seperti pernah dikemukkan Leo Tolstoy, unsur kependidikan dalam pengajaran sains, “terletak dalam pengajaran sains itu sendiri, dalm cinta guru kepada sains, dalam cinnta guru yang ditularkan kepada siswanya, dan dalam hubungan guru itu dengan para siswanya. Kalau anda bermaksud mendidik para siswa anda dengan sains, cintailah sains ( sebagai bidang studi yang anda ajarkan ) dan kenalilah baik-baik. Para siswa pun akan mencintai baik anda maupun sains yang diajarkan, dan anda dengan demikian mendidik mereka. “ hal yang sama juga berlaku untuk bidang studi lain, selain sains.

IV.Simpulan dan Rekomondasi

Pembentukan nilai budaya dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu: Pendekatan sosial normatif, pendekatan informasional dan pendekatan keteladanan. Pendekatan-pendekatan itu dapat diprkatekkan di lembaga pendidikan formal dan non formal.
Untuk menjaga kelestarian budaya dikalangan siswa, mahasiswa dan masyarakat secara umum, maka terdapat beberapa rekomendasi menurut hemat saya, yaitu: Pertama, Perlu adanya komitmen dari lembaga pendidikan formal, non formal dan in formal, terhadap penanaman nilai budaya melalui muatan nilai-budaya dalam kurikulum di tingkat satuan pendidikan masing-masing sesuai dengan kondisi rill lingkungan budaya pelajar. Sehingga transfer of culture itu dapat terjadi dalam setiap waktu. Kedua, lembaga formal pelestarian budaya Aceh harus lebih intensif dalam upaya menggali nilai-nilai budaya konstruktif yang mulai memudar dikalangan masyarakat. Sehingga development of culture community akan mampu melahirkan masyarakat civil cociety.

Daftar Pustaka
Al-Chaidar, dkk. “Aceh Bersimbah Darah”, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta; 1998
Aswar, H. Teuku Raja Itam. “Sejarah Perkembangan Kearifan Tradisional di Masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam”, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh; 2002
Bakker Sj. J. W. M. “Filsafat Kebudayaan”, Sebuah Pengantar, Yogyakarta; 1984
Carey, James W. “Communication as Culture”, Unwin Hyman, Inc USA; 1989
Hugh Miall, Oliver Ramsbotham Tom Woodhouse. “Resolusi Damai Konflik Kontemporer”, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta; 200
Ismail, H. Badruzzaman. “Mesjid dan Adat Meunasah Sebagai Sumber Energi Budaya Aceh” CV. Gua Hira’, Banda Aceh; 2002
Jalaluddin, Rahmat. “Rekayasa Sosial Reformasi atau Revolusi”, PN. Remaja Rosdakarya, Bandung; 1999
Kitano, M.K. dan D.F. Kirby. “Gifted Education a Comprehensive View” Boston, USA, Little Brown & Comp; 1986
Koentjaraningrat.”Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan”,Gramedia, Pustaka Utama, Jakarta; 2000
Nasikun. “Sistem Sosial Indonesia”, Jakarta, Rajawali; 1994
Prancis, Fukuyama. “The Great Disruption, Hakekat Manusia dan Rekonstitusi Tatana Sosial” (Edisi Indonesia), PN. Qalam, Yogyakarta; 2002
Wahyudi, Ruwiyanto. “Sistem Sosial Budaya Indonesia”, Dalan, Juwono Sudarsono, et-al, Reformasi Sosial Budaya Era Globalisasi, Wacha Widia Perdana, Jakarta; 1999



Budaya Tradisional
Upaya Pelestarian Belum Optimal

Yogyakarta, Kompas - Upaya pelestarian dan pengembangan budaya tradisional belum optimal. Karenanya, seluruh pihak diminta ikut terlibat dalam usaha pelestarian nilai-nilai budaya tradisional. Untuk mewujudkan usaha itu, segera dibentuk Himpunan Indonesia untuk Pemberdayaan Pengetahuan Ekspresi Budaya Tradisional Yogyakarta.

Hal itu diungkapkan peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta yang juga Ketua I Himpunan Indonesia untuk Pemberdayaan Pengetahuan Ekspresi Budaya Tradisional (Hippeb "Tra") Drs Tashadi, Kamis (4/5) di Yogyakarta. "Dengan pembentukan Hippeb "Tra" ini kami ingin ikut melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan budaya tradisional itu. Itu karena, budaya tradisional adalah karya agung bangsa," ujarnya.

Struktur organisasi

Dikatakan dia, secara resmi Hippeb "Tra" Yogyakarta belum berdiri karena kepengurusan belum dilantik oleh pengurus pusat yang ada di Jakarta. Pihaknya kini sedang mematangkan struktur organisasi sebelum benar-benar dapat terjun ke masyarakat. "Hippeb "Tra" pusat sudah berdiri awal tahun 2005. Ini adalah lembaga yang terbuka bagi siapa saja. Pengurus yang akan segera dilantik berasal dari budayawan, masyarakat umum, dan seniman," katanya.

Menurut Tashadi, budaya tradisional tidak hanya cukup dilindungi tetapi harus bisa dilestarikan. Ini karena dalam budaya tradisional terkandung nilai-nilai luhur pembentuk jati diri bangsa. "Ketika nilai-nilai ini hilang dan tidak lagi dimengerti oleh anak-anak kita maka mereka hanya akan memiliki nilai-nilai global, dan hilanglah jati diri bangsa ini," tuturnya.

Ia menuturkan, tanpa ada usaha pelestarian, budaya tradisional hanya akan menjadi monumen yang kehilangan makna. Budaya tradisional yang dimaksud, antara lain, berbagai kesenian, peninggalan budaya masa lampau seperti Candi Borobudur dan Prambanan lengkap dengan nilai- nilai di dalamnya. "Tanpa dikenalkan kepada generasi penerus, semua itu akan menjadi benda mati yang sekadar menjadi obyek wisata. Nasib bahasa Jawa pun akan demikian kalau tidak bersama-sama dilestarikan," ujarnya.

Sebagai langkah awal, pihaknya telah menyusun tiga bidang kerja yakni bidang pelestarian dan perlindungan ekspresi budaya tradisional, pengembangan dan pemanfaatan budaya tradisional, bidang dokumentasi dan publikasi masyarakat.
Sejumlah Kesenian Tradisional Lombok Nyaris Punah

Kamis, 22 Mei 2008 20:35.32 WIB Harry - Wisatanet.com

Berbagai jenis kesenian tradisional Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang sangat digemari masyarakat, kini terancam punah.

"Kesenian tradisional tersebut kini jarang dimainkan atau ditampilkan dalam berbagai kegiatan, termasuk dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan 17 Agustus," kata Kepala Taman Budaya NTB Lalu Agus Fathurrahman kepada wartawan di Mataram, Senin (19/5) lalu.

Berbagai kesenian tradisional yang terancam punah antara lain Cupak Gerantang, Cepung, Tawak-Tawak, Joget, dan Gandrung.

Kesenian tradisional tersebut tahun-tahun sebelumnya sering tampil ketika memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, namun sekarang hampir tidak pernah.
Dikatakan, di daerah itu cukup banyak budayawan dan pelukis, namun sama sekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah walaupun mereka pernah mendapat gelar juara nasional.

Lain halnya dengan olahraga, ketika meraih juara mereka mendapat hadiah dari sana sini. Budayawan Lombok hidupnya sangat menyedihkan karena tidak memiliki pekerjaan, mereka bekerja sebagai tukang pembelah batu bangunan seperti Amaq Raye, Amaq Marni, dan Amaq Wingki.

Sementara kesenian tradisional Cupak Gerantang merupakan salah satu kesenian tradisional Lombok yang cukup digemari masyarakat terancam punah.
Bahkan boleh dikatakan kesenian tersebut sudah tidak dimainkan lagi karena para pemainnya pindah ke kesenian Gendang Beleq.

Salah seorang pemain Cupak Gerantang, Yusuf (52) dari Dasan Agung, Mataram mengatakan, kesenian itu beberapa tahun lalu sering tampil hampir diseluruh pelosok Pulau Lombok.

Masyarakat senang dengan Cupak Gerantang, sehingga kalau tampil disuatu desa pengunjung sampai ribuan orang, pertunjukan dimulai sekitar pukul 21.30 hingga pukul 03.00 subuh.

Yusuf yang berperan sebagai Cupak atau orang yang rakus makan tersebut mengatakan, Cupak Gerantang sekarang hampir tidak pernah tampil karena kalah bersaing dengan kesenian lain.

Demikian juga para pemuda dan remaja saat ini kalau melihat kesenian Cupak Garantang seolah-olah dianggap lucu dan jadi bahan tertawaan, sehingga para pemain juga malas untuk tampil.

"Pembinaan dari pemerintah hampir tidak ada dan kita hidup secara mandiri," katanya.
Sumber: media-indonesia.com


Revitalisasi Nilai Tradisi Kesundaan

Artikel Pikiran Rakyat édisi 4 Juli 2004

Oleh YAYAT HENDAYANA

SEMANGAT retrospektif dari masyarakat Sunda terhadap kesundaannya terkesan marak belakangan ini. Antara lain dipicu oleh kenyataan kurang depannya penampilan urang Sunda dalam kompetisi kepemimpinan nasional. Urang Sunda kurang diperhitungkan dalam proses penyusunan kepemimpinan pada tingkat nasional. Urang Sunda menyadari posisinya yang (semakin) terpinggirkan. Kesadaran itu, yang kemudian diikuti oleh semangat retrospektif, tentu saja positif. Positif, apabila retrospeksi itu dilakukan secara jujur dan iklas dalam mengevaluasi kelemahan-kelemahan budaya yang menjadi penghambat kemajuan urang Sunda itu, untuk kemudian memperbaikinya.

Misalnya dalam hubungannya dengan nilai-nilai tradisi. Hubungan itu selalu bersifat sangat emosional. Seolah tak ada referensi lain selain emosi. Sehingga pemaknaan terhadap nilai-nilai tradisi menjadi bersifat tertutup serta sempit ruang gerak penafsirannya. Nilai-nilai tradisi, tanpa kecuali selalu ditempatkan secara "agung" dan "sakral". Maka nilai-nilai tradisi hanya menjadi sekadar teks yang tak punya konteks apapun dengan zaman dan kehidupan yang berkembang tanpa henti. Bukan mustahil, jika apa yang selama ini diagung-agungkan sebagai "nilai-nilai luhur tradisi" justru tidak cocok untuk diterapkan di zaman ini, melainkan hanya cocok diterapkan pada zamannya. Bukan hanya tidak cocok, bahkan mungkin justru nalikung, membelenggu diri sendiri, sehingga tak mampu bergerak, apalagi melangkah maju.

Agar tidak semata-mata bersifat emosional, hubungan dengan nilai-nilai tradisi itu sepatutnya diperbaharui. Perlu dilakukan langkah-langkah bertahap agar hubungan orang Sunda dengan nilai-nilai tradisinya menjadi lebih wajar, sehat, dan kreatif. Langkah-langkah itu ialah (1) inventarisasi, (2) redefinisi, dan (3) revitalisasi.

Inventarisasi

Selain yang nyata (konkret), tentu ada "nilai-nilai tradisi" yang maya (abstrak). Seringkali kita memosisikan paribasa dan babasan, petatah-petitih, bahkan juga rumpaka tembang dan lagu buhun, sebagai sumber dari nilai-nilai tradisi. Untuk membedakannya dengan jenis yang lain, "nilai tradisi" yang jelas sumber tertulisnya dalam konteks tulisan ini disebut sebagai nilai tradisi yang nyata. Sedangkan yang tidak bersumber dari teks tertulis, melainkan dari kajian terhadap pola-sikap, pola-pikir dan pola-tindak orang Sunda (lama), yang menjadi kearifan lokal, disebut nilai tradisi abstrak. Untuk menjadikannya nyata, nilai-tradisi itu perlu dideskripsikan, sehingga menjadi teks tertulis.

Oleh sikap emosional kita dalam menghubungkan diri dengan nilai-nilai tradisi, kita selalu patuh pada petuah generasi pendahulu kita bahwa "nilai-nilai tradisi" Sunda itu "agung" dan "luhur". Kepatuhan kita pada pertuah itu menyebabkan kita tidak lagi kritis. Tentu merupakan pikiran kritis dan realistis jika kita berpendapat bahwa apa yang diposisikan sebagai "nilai tradisi" itu ada yang luhur ada pula yang sebaliknya. Merupakan kewajiban kita yang hidup di zaman ini, untuk menginventarisasikannya secara cermat.

Inventarisasi yang dilakukan itu merupakan langkah awal untuk memasuki tahap berikutnya, yaitu memilah-milah mana yang "luhur", mana yang "setengah luhur", bahkan mana yang sama sekali "tidak luhur". Nilai-nilai kehidupan yang dikembangkan pada suatu kurun waktu tertentu, pastilah dipengaruhi oleh semangat zamannya. Nilai-nilai itu belum tentu cocok untuk diterapkan pada zaman yang lain. Bahkan bukan mustahil justru menghambat gerakmaju.

Untuk melakukan pemilahan itulah pentingnya inventarisasi. Dengan begitu kita akan dapat memberikan "catatan kaki" dalam mewariskan nilai-nilai tradisi itu kepada generasi berikut. Kita akan dapat mengatakan, "nilai tradisi" inilah yang perlu dipelihara karena merupakan pendorong kemajuan. Sedangkan "nilai tradisi" yang lain tak perlu lagi dipelihara dan dianggap "luhur", karena apabila diterapkan justru akan mempercepat proses pembodohan, atau peminggiran, orang Sunda.

Dalam kerangka pewarisan, tentu lebih bermanfaat bagi generasi mendatang jika hanya nilai-nilai yang benar-benar luhur yang diwariskan. Yang sama sekali tidak luhur yang menghambat kemajuan, sebaiknya tak diwariskan.

Dengan melakukan inventarisasi, yang kemudian diikuti dengan langkah pemilahan, tak akan ada lagi pihak-pihak yang menjadikan "keluhuran nilai-nilai tradisi" itu sebagai upaya akal-akalan untuk mempertahankan suatu kepentingan tertentu. Misalnya, "kewajiban" anak muda untuk memosisikan orang-tua pada kedudukan yang lebih atas, adalah "nilai tradisi" yang bisa saja merupakan akal-akalan orang tua untuk melanggengkan kekuasaannya. Jika dugaan itu benar, bisa dipahami mengapa posisi generasi muda Sunda acapkali "kurang depan".

Redefinisi

Begitu lama orang Sunda terbelenggu oleh kaidah yang ditanamkan para tetua, yang menyatakan bahwa "nilai tradisi" selalu "adiluhung", senantiasa "luhur". Tentu tak mudah untuk mengajak berpikir kritis bahwa di antara yang "luhur" itu tentu ada yang "setengah luhur", bahkan sama sekali "tidak luhur". Dengan begitu tentu tak mudah menghapus yang "setengah luhur" dan "tidak luhur" itu dari khazanah nilai-nilai tradisi.

Jika kita bersikukuh dalam sikap seperti itu, maka langkah kompromis yang bisa kita lakukan adalah membuat "definisi baru" atau tafsir ulang terhadap nilai tradisi yang "setengah luhur" dan "tidak luhur" itu sehingga menjadi "luhur". Langkah itu kita tempuh jika kita hanya butuh bunyi teksnya, sedangkan maknanya yang lama tidak kita perlukan lagi. Misalnya terhadap "nilai" bengkung ngariung bongkok ngaronyok. Betapa bagusnya bunyi teks itu. Betapa murwakanti-nya. Padahal secara makna tak menguntungkan sama sekali bagi upaya untuk membuat orang Sunda tidak kurung batok.

Bengkung ngariung bongkok ngaronyok, mungkin sangat bernilai pada zamannya. Tentu ada alasan-alasan tertentu mengapa sikap hidup orang Sunda pada waktu itu harus begitu. Jika kita merasa sayang membuang bunyinya yang "bagus" itu, sehingga akan tetap memakainya sebagai sebuah "nilai", maka kita perlu membuat tafsir ulang terlebih dahulu sebelum mewariskannya kepada generasi mendatang.

Melakukan tafsir ulang adalah upaya untuk membuat teks (nilai tradisi) itu mempunyai konteks dengan zaman kini. Zaman yang bersemangat global. Zaman yang tidak harus membuat pikiran membabi-buta bertahan dalam semangat kelokalan. Kita dituntut oleh zaman untuk menjadi Sunda-global, bukan cuma sekadar menjadi Sunda-lokal. Sunda yang berpikiran maju, bukan cuma sekadar Sunda yang berkutat dengan "nilai-nilai tradisi", tanpa terdorong untuk menatap "nilai-nilai masa depan".

Nilai-nilai tradisi adalah landasan berpijak untuk meraih nilai-nilai masa-depan. Kita tak boleh hanya terpaku pada orientasi ke masa lalu di saat kita dituntut untuk mempersiapkan diri menghadapi masa-depan. Kita mengenal sebuah nilai yang secara teks berbunyi, ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala sajeungkal. Sebuah pesan yang bermakna "tataplah masa depan dengan pandangan jauh, dan tengoklah masa lalu dengan pandangan yang dekat saja".

Jika selama ini kita selalu dipaksa oleh pikiran sempit kita untuk memosisikan nilai tradisi itu "adiluhung" secara umum, maka anggaplah hal itu sebagai sebuah kecelakaan sejarah. Lebih bodoh dari keledailah kita jika kecelakaan itu menimpa kita lagi di masa kini dan nanti.

Revitalisasi

Apalah artinya "nilai tradisi" (baik yang "asli" maupun hasil redefinisi) yang adiluhung itu, jika kita biarkan hanya sebagai teks semata, jika tak mengandung arti apa-apa bagi kehidupan hari ini dan masa-depan. Nilai tradisi tak akan berarti apa-apa, bila kita memosisikannya sedemikian rupa "sakral"-nya, sehingga sama sekali tidak boleh didekati dengan pikiran realistis.

Kita butuh kesadaran tinggi untuk membuat nilai tradisi itu bersifat implementatif. Nilai tradisi harus mampu menjadi (salah satu) acuan urang Sunda dalam menempuh kehidupannya. Juga dapat berfungsi sebagai acuan dalam menentukan kriteria kepemimpinan orang Sunda. Karena ketidakjelasan kriteria, seringkali menjadi bahan perdebatan, apakah munculnya seseorang dalam pergulatan kepemimpinan (nasional) layak disebut mewakili Ki Sunda atau tidak. Apakah dukungan orang Sunda kepadanya benar-benar "dengan hati" ataukah cuma sekadar "daripada tidak terwakili sama sekali".

Ada kecenderungan, kita tidak mengacu secara utuh kepada nilai tradisi itu, melainkan hanya secara parsial. Yang kita pilih pun hanya yang paling menguntungkan bagi suatu kepentingan tertentu. Mungkin tidak salah, tapi hasil akhir yang kita raih menjadi kurang mampu memuaskan banyak pihak.

Agar nilai tradisi itu dapat digunakan (applied), sehingga bermanfaat bagi kepentingan kehidupan, tentu diperlukan upaya revitalisasi. Upaya penyemangatan ulang itu perlu dilakukan agar nilai tradisi tidak hanya sekadar menjadi jampe pamake. Kita bangga karena kita mampu menghafalkan "nilai tradisi" itu di luar kepala, tetapi tanpa kemampuan untuk memanfaatkannya dalam kehidupan nyata.***

Pewarisan Budaya Sunda

Kategori: Karya Atep Kurnia| Dibaca: 267 kali | 23-02-2008 | 00:56:56

Oleh. Atep Kurnia

PAREUMEUN obor. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi generasi muda Sunda kiwari. Generasi muda Sunda sekarang nampak gelagapan dan tertatih-tertatih untuk mengenal dan memahami tata-nilai kesundaan.

Hal tersebut menurut hemat saya disebabkan karena proses pewarisan budaya yang selama ini berlangsung cenderung dipaksakan tanpa mencermati perubahan yang terjadi dalam segala aspek kehidupan masyarakat Sunda kiwari.

Sedangkan generasi tua Sunda umumnya tersita perhatiannya dengan panineungan-panineungan masa lalunya. Selain itu, banyak di antara mereka yang menganggap nilai-nilai tradisi Sunda masa lalu sebagai sesuatu yang serba luhur.

Hal ini tentu saja kurang bijak dilakukan untuk sebuah pewarisan budaya. Selain kurang tepat sasaran, hal tersebut tentu akan berbenturan dengan konteks generasi muda Sunda sekarang.

Sebab, bisa jadi nilai-nilai tradisi Sunda yang selama ini dianggap bernilai tinggi oleh generasi tua Sunda, sebenarnya mengandung unsur-unsur yang justru tidak bernilai luhur. Karena bisa jadi hal tersebut hanya sesuai dengan zamannya saja.

Selain itu, yang lebih dikhawatirkan adalah generasi yang mewarisi budaya Sunda yang berorientasi kepada orang tua nantinya justru akan menjadi generasi yang back to the past, nyoreang mangsa ka tukang.

Hal ini bisa jadi dapat menciptakan budaya Sunda yang mandeg. Padahal budaya bukanlah sesuatu yang baku dan statis, tetapi sebaliknya merupakan sesuatu yang terus bergerak dinamis dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Nilai dan Akses Informasi
Nilai-nilai tradisi Sunda dapat dibagi dua. Pertama, nilai tradisi Sunda yang terkandung di dalam explicit knowledge (pengetahuan yang tersurat), seperti peribahasa, dongeng, sisindiran dan naskah-naskah kuna.

Yang kedua, nilai tradisi Sunda yang bersumber dari tacit knowledge (pengetahuan yang tersirat). Pengetahuan ini terdiri dari pola pikir, sikap, dan kearifan orang Sunda di dalam menghadapi dan mengatasi masalah kehidupannya.

Pewarisan budaya Sunda tentu harus mengutamakan keduanya. Tetapi sayangnya hal tersebut nampak masih jauh dari harapan. Dari segi pengetahuan tersurat, tidak tersedianya atau kurangnya akses informasi untuk mengetahui dan mempelajari khazanah kebudayaan Sunda.

Buku-buku yang memuat pengetahuan kesundaan sedikit diterbitkan. Naskah-naskah Sunda kuna kurang yang meneliti. Dan tradisi-tradisi lisan banyak ditinggalkan orang. Sungguh kontras bila dibandingkan dengan akses informasi untuk mengenal budaya asing, terasa begitu dekat dan mudah diperoleh.

Demikian pula dengan tacit knowledge-nya, pengetahuan ini sepertinya tidak sampai kepada generasi muda Sunda. Bisa jadi karena adanya gap antara generasi tua dan generasi muda Sunda. Akibatnya, pewarisan budaya Sunda dari generasi tua ke generasi mudanya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Generasi tua Sunda terkesan mengawang-awang. Bahkan romantis. Mereka tampak enggan turun langsung melihat kondisi riil di lapangan. Mereka enggan untuk mencoba terjun langsung ke “kantung-kantung” pewarisan budaya, dalam hal ini arena generasi muda, misalnya mendatangi sekolah-sekolah dasar dan menengah.

Selain itu, mereka merasa cukup dengan hanya mengeluarkan uang untuk membiayai hal-hal yang bersifat seremonial belaka. Tanpa berusaha mencoba memikirkan cara yang lebih berkesinambungan.

Tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah tidak adanya inisiatif dari generasi muda untuk menyerap nilai-nilai kesundaan. Mereka tidak suka membaca buku Sunda. Mereka enggan mengkaji kearifan budaya Sunda yang terdapat di dalam tradisi lisan. Dan mereka tidak kreatif menimba khazanah tacit knowledge dari generasi tua Sunda.

SolusiMenurut Hendayana (2004), ada tiga langkah yang perlu dilakukan untuk mempertahankan hubungan orang Sunda dengan nilai tradisinya.

Pertama, inventarisasi. Kegiatan ini mencakup pemilahan nilai-nilai luhur yang cocok untuk menghadapi tantangan-tantangan yang datang menerjang kebudayaan Sunda. Dengan demikian, diharapkan orang Sunda - terutama generasi mudanya - memiliki bargaining position atau counter culture ketika datang tantangan.

Kedua, redefinisi. Menurut Hendayana “redefinisi” mengacu kepada “upaya untuk membuat teks (nilai tradisi) itu mempunyai konteks dengan zaman kini Sunda yang berpikiran maju, bukan cuma sekadar Sunda yang berkutat dengan “nilai-nilai tradisi”, tanpa terdorong untuk menatap “nilai-nilai masa depan.”"

Kegiatan ini berupa kaji ulang dan pemberian tafsir baru terhadap nilai-nilai kesundaan yang dirasa menghalangi gerak langkah orang Sunda. Oleh karena itu, ungkapan-ungkapan seperti caina herang laukna beunang atau bengkung ngariung bongkok ngaronyok haruslah ditinjau ulang, sejauh mana manfaat dan madaratnya.

Sedangkan yang ketiga adalah revitalisasi. Alwasilah (2006) memaknai revitalisasi sebagai “upaya terencana, sinambung, dan diniati agar nilai-nilai budaya itu bukan hanya dipahami oleh para pemiliknya saja, melainkan juga membangkitkan segala wujud kreativitas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam menghadapi berbagai tantangan.”

Selain itu, untuk memperkuat pemahaman generasi muda kepada budaya Sunda, penting sekali untuk mengintensifkan pengajaran bahasa Sunda kepada mereka.

Di dalam hal ini, tetap saja berpangkal pada peran orang tua. Orang tua atau generasi tua Sunda harus rela mengesampingkan ego mereka dan tetap memperkenalkan dan menjaga budaya Sunda.

Cara yang bisa ditempuh, misalnya selalu menggunakan bahasa Sunda kepada anak-anaknya di rumah. Cara ini berguna untuk menjaga agar tidak terjadi adanya gap antargenerasi dalam rangka mewariskan bahasa daerah.

Solusi kedua, peran sekolah. Di dalam hal ini, pengajaran budaya Sunda dan bahasa Sunda harus dianggap sangat penting dan mendesak. Faktor guru juga sangat penting diperhatikan. Para guru dituntut untuk lebih kreatif dengan mencari jalan agar pengajaran bahasa Sunda lebih efektif.

Demikianlah masalah yang dihadapi generasi muda Sunda sekarang. Saya rasa, peran orang tua dan pendidikan-lah yang bisa diharapkan dapat menumbuh-kembangkan bahasa dan budaya Sunda sehingga generasi muda dapat melangkah ke depan dengan langkah yang yakin. Seperti berjalan malam yang diterangi obor.
*Penulis, Penulis Lepas, Tinggal di Bandung

Permainan TradisionalBermain adalah aktivitas yang sangat menyenangkan apalagi untuk anak-anak. Apalagi ketika memainkan beragam permainan tradisional, bagi yang sudah pernah merasakannya pasti sepakat bahwa permainan tradisional sangat mengasyikkan.
Berbagai permainan tradisional yang sudah cukup dikenal antara lain congklak, bekel, lompat tali, gala ulung, hingga benteng-bentengan.
Permainan tradisional selain asyik untuk dimainkan juga sarat akan nilai-nilai yang luhur. Bertambah kagum mungkin ketika kita bisa membayangkan betapa pintar dan kreatifnya nenek moyang kita ketika menciptakan ragam aktivitas yang sangat menyenangkan tapi mempunyai nilai-nilai yang begitu mendidik. Seperti congklak misalnya, sebuah permainan kompetisi namun mengajarkan anak-anak untuk rajin menabung atau permainan benteng-bentengan yang selain dapat membuat fisik bugar juga menanamkan nilai-nilai kerja sama tim, kekompakan, dan berpikir strategis ketika harus menolong temannya yang ada di benteng musuh dan untuk memenangkan permainan.
Jumlah permainan tradisional di Indonesia bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Hal ini menunjukkan betapa kayanya nusantara kita dan mungkin sudah banyak orang yang mendengungkan betapa seharusnya kita berbangga untuk limpah ruahnya kekayaan budaya ini. Namun cukupkah dengan berbangga saja ketika ternyata permainan ini berada di tengah ancaman kepunahan?.
Saat ini menemukan anak-anak terutama di perkotaaan yang sedang memainkan permainan tradisional sudah menjadi hal yang langka. Mungkin menjadi hal wajar untuk daerah perkotaan dimana lahan kosong yang dapat digunakan untuk bermain semakin berkurang. Namun selain permasalahan itu, permainan yang kaya nilai ini ternyata juga kalah berkompetisi dengan berbagai permainan modern dan canggih yang mudah didapat melalui televisi, komputer, DVD player, play station baik portable maupun non-portable yang dapat di sewa, hingga Handphone satu warna.
Kekhawatiran dan keinginan untuk melestarikan permainan tradisional sudah timbul di masyarakat. Berbagai kegiatan pun dilaksanakan dalam rangka pelestarian itu seperti festival-festival rakyat. Namun sayang kegiatan itu mungkin hanya menjadi semacam "malam kenangan" karena selepas kegiatan itu orang-orang pun pulang ke rumah masing-masing dan kembali ke kesehariannya dan tetap anak-anak pun tak kunjung memainkan permainana tradisional tersebut. Seperti artefak budaya lainnya, permainan tradisional pun kini berada di tengah proses seleksi alam. Terancam punah karena sejauh ini kalah berkompetisi di pasar. Dan bukan tidak mungkin lama-kelamaan menjadi benar-benar punah dan hanya akan kita temui di sebuah museum permainanan tradisional.
Lalu pelestarian seperti apakah yang tepat untuk permainan tradisional ini?. Mungkin memang jawabannya seperti yang teman saya bilang, "Inovasi adalah kata kuncinya". Melihat tren fesyen batik belakangan lalu menunjukkan bahwa ketika batik bisa disesuaikan dengan model pakaian yang sedang tren maka batik pun menjadi hidup kembali, dipakai oleh siapa saja dimana saja.
Melakukan inovasi terhadap permainan tradisional dalam rangka pelestarian budaya sangat mungkin sekali untuk dilakukan namun upaya pelestarian ini akan menjadi terbatas ketika tidak didukung oleh dokumentasi yang lengkap. Oleh karena itu, langkah awal berupa pendokumentasian kekayaan budaya adalah hal yang penting untuk dilakukan dalam upaya inovasi dan pelestarian. Sehingga kita dapat memperoleh suatu deskripsi yang informatif untuk melakukan pengembangan permainan tradisional yang tidak hanya dapat membantu kita untuk menghidupkan kembali permainan tradisional itu, tapi juga menyampaikan dengan efektif nilai-nilai sejarah dan moral yang terkandung di dalamnya.
Akan sangat menarik ketika kita bisa mengawinkan sains dan teknologi dengan berbagai permainan tradisional dan kemudian menghasilkan suatu produk baru yang inovatif tanpa melupakan penanaman nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal dibalik permainan tersebut. Sehingga permainan tersebut tidak hanya hidup dalam keseharian tapi juga semakin meningkatkan pengetahuan anak-anak akan akar sejarahnya dan nilai-nilai luhur yang dapat diambil. Dengan kemungkinan mengawinkan teknologi dan budaya tradisional tersebut mungkin seorang anak di perkotaan dapat bermain congklak dengan anak lain di kota yang berbeda dengan sebuah aplikasi congklak online.



Eksplorasi Nilai Tradisi dalam Keraton [Opini]






Oleh Mulyo Sunyoto





Tak banyak anak muda masa kini yang meluangkan waktunya untuk menelaah akar budaya yang menjadi pondasi nilai-nilai hidup bangsanya.



Wajah budaya dan nilai-nilai modern yang pragmatis lebih mempesona dibanding nilai-nilai tradisi.



Padahal, berbagai karya seni mutakhir, seperti karya musikal komponis Jepang Kitaro, tak pernah hampa dari unsur etnik tradisi. Begitu juga dengan karya-karya pelukis Bali yang mempesona di mata pengamat seni rupa asing.



Keraton sebagai pusat nilai-nilai di masa silam tampaknya juga pantas direvitalisasi sebagai lembaga alternatif menghadapi serbuan nilai-nilai modern yang pragmatis-instan.



Menurut pemerhati budaya Jawa Permadi, keraton yang ada di Indonesia saat ini bisa menjadi benteng nilai-nilai luhur masa lalu yang dimiliki bangsa Indonesia yang tersebar di penjuru Nusantara.



"Menurut saya keraton di Jawa maupun di luar Jawa menjadi benteng terakhir dalam rangka globalisasi dalam arti menjadi penjaga nilai-nilai luhur masa lalu," katanya.



Banyak nilai-nilai tradisi yang pantas dipertahankan. Permadi mengambil Jawa sebagai prototipe nilai. "Jawa memang diakui seluruh dunia mempunyai keunggulan- keunggulan.



Baik moralitas maupun spiritualitas tapi sayangnya bangsa Indonesia saat ini kan berada di dalam zaman edan," tambah Permadi.



"Katanya siapa yang nggak ikut edan nggak kebagian, tapi seuntung-untungnya yang edan, masih untung yang ingat dan waspada," katanya mengutip lirik dari Pujangga Jawa Ronggowarsito.



Bagi penganjur nilai-nilai pragmatis instan, sejumlah keunggulan yang dimiliki tradisi Jawa, yang antara lain terungkap dalam semboyan etisnya, seperti "Sepi ing pamrih, rame ing gawe" ("sedikit pamrih, banyak kerja") tampaknya tidak mendatangkan daya tarik lagi.



Semboyan etis yang pernah diagungkan dalam sistem nilai Jawa di masa silam itu kini sudah banyak ditinggalkan orang Jawa sendiri. Akibatnya cukup dramatis.



Orang Jawa berbalik arah dan lebih mengutamakan filsafat "yang penting hasilnya, bukan prosesnya".



Mengutamakan hasil daripada proses pada akhirnya dapat menjerumuskan individu ke dalam aksi machiavelis.



Itu sebabnya Permadi mencoba mengembalikan sistem nilai tradisi ke posisi semula dengan meletakkan keraton sebagai institusi alternatif.



Dalam situasi inilah, katanya, kraton punya nilai sangat penting karena dalam keraton lah masih terdapat buku-buku kuno yang berisi ajaran-ajaran Jawa, yang menyimpan tradisi tradisi kuno.



Menurut dia, tradisi Jawa dan perilaku kejawaan yang memanusiakan manusia harus dijaga dan dipertahankan untuk menghadapi nilai-nilai dari luar yang destruktif.



Sekalipun dewasa ini keraton tidak terlepas dari pengaruh negatif yang berkembang dalam globalisasi, harapan untuk menjadikan keraton sebagai benteng terakhir masih belum sirna sama sekali.



"Oleh karena itu saya mengharapkan keraton di Nusantara ini tetap menjadi pusat budaya bangsa. Untuk keraton Yogya dan Solo bisa diupayakan menjadi pusat budaya Jawa yang tidak sekadar menjadi museum yang beku," katanya.



Di sanalah bisa dikembangkan nilai kejawaan yang sekarang ini kurang dieksplorasi. Permadi juga berpendapat bahwa zaman ini juga mengandung keanehan dalam arti masih ada sejumlah anak muda yang mulai mempraktikkan nilai-nilai kejawaan.



"Selain terjadi zaman edan tapi di sisi lain anak-anak muda mulai menggemari laku kejawen sehingga menurut saya saat ini keraton berkesempatan untuk mempengaruhi generasi muda secara lebih meluas untuk berlaku kejawen dalam artinya yang positif," tutur Permadi.



Secara keseluruhan, nilai-nilai Jawa memang telah ditinggalkan oleh orang Jawa. Dengan demikian muncullah istilah "orang Jawa yang kehilangan kejawaannya."



"Semua ini tak bisa dilepaskan dari berbagai perjalanan sejarah seperti hadirnya kolonialisme dan perkembangan globalisasi" demikian Permadi.





Spirit



Tampaknya spirit atau semangat yang mendasari nilai-nilai keraton bisa juga dihadirkan sebagai inspirasi pemerintahan modern yang dipraktikkan saat ini.



"Sebenarnya secara pribadi saya menghendaki supaya sistem kekeratonan ini benar-benara menjadi ilham bagi sistem pemerintahan Indonesia. Ini bukan sekedar nostalgia. Tapi betul-betul spirit keraton yang bisa diterapkan dalam segi-segi pemerintahan" kata Permadi.



Merujuk pada Keraton Yogyakarta, Permadi mengatakan, sangat ideal kalau misalnya Sultan sebagai penguasa keraton Yogya menerapkan nilai-nilai keraton dalam pemerintahan sebagai Gubernur.



Permadi menyadari bahwa idenya itu akan mendapat reaksi keras dari kalangan aktivis pro demokrasi yang hanya berpijak pada nilai-nilai demokrasi Barat semata.



Dia mengatakan, memang tidak mudah untuk mengintegrasikan nilai-nilai tradisi yang pernah hidup di keraton di masa silam dengan nilai-nilai demokrasi masa kini.



Antara nilai-nilai keraton dan demokrasi akan terjadi konflik kepentingan. "Di sini dibutuhkan keberanian seorang Sultan untuk mengimplementasikan nilai-nilai keraton dalam segi-segi pemerintahan," katanya.



Menurut Permadi, nilai-nilai tata krama dalam keraton mengagungkan pranata saling menghormat. Disamping itu, keharusan untuk mengerti posisi masing-masing individu merupakan nilai positif yang bisa menjadi spirit dalam pemerintahan.



Permadi mengakui bahwa saat ini banyak orang menafsiran tradisi budaya keraton sebagai sesuatu yang feodal. Orang sekarang memandang dunia priyayi tak ubahnya dengan feodalisme itu sendiri, katanya.



Padahal, katanya, pokok persoalannya terletak pada esensi dunia priyayi saat ini yang telah mengalami transformasi ke arah yang negatif.



"Dunia priyayi yang asli sudah luntur. Yang ada sekarang adalah dunia priyayi yang terpengaruh oleh penjajah Belanda," tutur Permadi. Sebenarnya konsep ningrat dan feodalisme itu sangat berbeda.



"Kalau ningrat, sekalipun itu raja juga tunduk pada 'unggah-ungguh' atau tata krama. Bapak raja memang harus tunduk pada raja kalau perlu dengan sangat hormat. Tapi raja itu pun harus menundukkan diri kepada bapaknya. Tidak boleh tidak," kata Permadi.



Dalam masalah pakaian, lanjutnya, apa yang dipakai raja itu tak boleh dipakai oleh sembarang orang. Itu bukan diskriminasi tapi tataran hidup karena raja juga tidak akan memakai pakaian orang lain.



"Bahkan kalau pangeran menggunakan pakaian raja dia sudah dianggap akan melakukan kudeta atau mbalelo sehingga bisa ditindak. Tataran -tataran demikian ini perlu untuk menertibkan keadaan dalam masyarakat. Jadi saya mengatakan perbedaan ningrat dan feodal, adalah amat jauh," ucap Permadi.



Permadi memberikan contoh bahwa di dunia ningrat, seorang abdi dalem yang diserahi keputren, diserahi putri raja untuk dididik harus menghormati anak didiknya itu. Sekalipun demikian, abdi dalem itu mempunyai kedudukan yang tinggi, artinya, anak-anak itu ada dalam asuhannya.



"Ini beda dengan konsep budak di Amerika zaman perbudakan yang anti humanis itu. Ningrat punya tatanan yang harus dipatuhi oleh semua kelompok termasuk oleh raja itu sendiri. Raja tak bisa melanggar aturan itu," katanya.



Dunia ningrat masih memberikan tempat terhormat pada sang abdi dalem, tapi dunia perbudakan sama sekali tidak menganggap sebagai manusia terhadap para budak-budak itu.



Dunia ningrat yang asli antara lain memuat konsep "ngenger", artinya, keluarga ningrat atau priyayi diwajibkan untuk mendidik keluarga atau kerabatnya, terutama yang miskin, untuk dididik tingkah lakunya dengan jalan hidup satu atap dengan keluarga priyayi itu.



"Jadi ningrat itu mengandung banyak nilai positif. Jangan dilihat dengan kacamata demokrasi barat yang lahir dalam konteks masyarakat yang berbeda," katanya. Novel "Para Priyayi" karya Umar Kayam agaknya bisa dijadikan salah satu rujukan bagaimana nilai-nilai humanisme telah dijadikan pegangan hidup oleh seorang ningrat. Dengan kata lain, ide dasar novel itu merupakan juksta posisi atas sejumlah gagasan yang diungkapkan Permadi.

Pelestarian Kebudayaan dengan Giatkan Pariwisata


Oleh
John JS

Jakarta – Nilai-nilai tradisional, kearifan budaya lokal atau keunikan potensi budaya Nusantara, menurut Sekjen Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Wardiyatmo, bisa digali dari berbagai kegiatan pariwisata. “Pariwisata bisa ikut serta melestarikan kebudayaan,” imbau Wardiyatmo, menjelang buka puasa bersama Forum Wartawan Budpar di Hotel Grand Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (16/9).
Oleh karena itu, Depbudpar dalam perannya memajukan pariwisata berpatokan pada posisi strategis Indonesia selaku anggota Dewan Direksi di PATA (Pacific Asia Travel Association) melalui program pemasaran bersama.
Dalam kerja samanya selama ini, Indonesia memperoleh bantuan teknis dari PATA dalam pengembangan pariwisata di daerah. Selain itu, kata Wardiyatmo, kita menjadikan PATA selaku organisasi yang membantu Indonesia dalam menyikapi isu-isu negatif sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai daerah tujuan wisata.
Di bidang kebudayaan, lanjutnya, Depbudpar bekerja sama dengan Unesco dalam memperjuangkan usulan kekayaan budaya Indonesia di forum internasional, serta usulan perlindungan warisan budaya nasional yang menyangkut pengakuan dunia terhadap hasil ekspresi budaya Indonesia termasuk batik, wayang dan keris.
Di samping itu, Depbudpar atas nama pemerintah menjadikan WIPO (World Intellectual Property Organization) sebagai mitra dialog. WIPO merupakan salah satu forum internasional utama yang membahas aspirasi negara berkembang untuk melindungi kekayaan intelektual tradisional dari tindakan pencurian dan komersialisasi oleh pihak asing seperti motif batik dan resep jamu.
Salah satu aktivitas strategis yang sampai saat ini masih berlangsung adalah pembahasan mengenai upaya pembentukan konvensi internasional mengenai perlindungan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Pada awal Desember nanti, Bali akan menjadi tuan rumah penyelenggara “International Conference on Intellectual Property and the Creative Industries” yang diprakarsai oleh WIPO.

Museum: Sektor Publik
Di kesempatan lain, Dirjen Sejarah dan Arkeologi Menteri Budaya dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat, di The Tee Box Cafe, Jl Wijaya II Jakarta Selatan, Jumat (19/9), mengatakan bahwa memang diperlukan koordinasi antara museum-museum yang ada. Hari didampingi Direktur Arkeologi Bawah Air Surya Helmi juga mengungkapkan tentang penemuan kapal tua yang bersejarah karena ditemukan juga arca di dalamnya, di lepas pantai Rembang. Isi di kapal itu, menurut Hari, kini berada di Kepala Desa Punjul Harjo, Rembang.
Menurutnya, untuk kepemilikan, ada benda cagar budaya dan ada benda yang bukan cagar budaya. Ada benda antik yang sudah ke mana-mana dan tak jelas latarnya, ada yang buatan atau baru, semacam replika.
“Ini berbeda misalnya dengan temuan di Rembang Kediri Kalau kepemilikan orang per orang bisa dihibahkan atau jual beli. Namun, di UU Cagar Budaya telah ditentukan pendaftaran, diwajibkan untuk menyebutkan adanya cagar budaya,” ujar Hari.
Namun, dia mengatakan bahwa hak pribadi tetap dihormati sekali pun si penemu telah melaporkan cagar budaya itu karena kewajibannya sebagai warga negara. Kejadian dibawanya cagar budaya dari Trowulan menuju Yogyakarta kemudian ditahan di Boyolali adalah akibat tanpa adanya pelaporan. “Jadi kalau mau dialihkan ke luar negeri, mau dijualbelikan ke bandara, itu bisa kita tangkap,” paparnya.
Hari mengatakan museum beda dengan galeri. Museum itu memberi informasi, nonprofit, yang diberikan adalah pendidikan pada masyarakat. Selama ini, cagar-cagar yang ada berada di bawah koordinasi 10 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebudayaan dan Pariwisata yang tersebar di beberapa wilayah Nusantara. Ada 1.643 juru pelihara di Indonesia yang bisa menjaga, namun perlu dijaga kesejahteraannya.
Museum, bagaimanapun, menurut Hari adalah “sektor publik” yang wajib dijaga oleh semua pihak termasuk masyarakat dan pemerintah. Namun, di luar data dari Depbudpar, kabarnya jumlah museum nyatanya berkurang dari 286 menjadi 275 museum.
Selama ini, koordinasi antarmuseum, untuk komunikasi atau jaringan lewat leaflet jarang dilakukan. Selama ini baru ada tujuh jaringan museum – itu pun untuk Visit Indonesia 2008 yang dicanangkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yaitu Museum Nasional Jakarta, Museum Bank Mandiri Jakarta, Museum Batik Danarhadi Surakarta, Museum Geologi Bandung, Museum Sejarah Jakarta, Museum Sepuluh November Surabaya, serta House of Sampoerna.
Tentu saja itu pun karena dukungan swasta lewat Corporate Social Responsibility (CSR). Padahal, Indonesia kita adalah negara yang kaya dengan sejarah. Semoga dengan Visit Indonesia, pengelolaan museum dapat semakin baik.









Pelestarian Seni Tradisional, Perlu Dukungan Kebijakan Sosial Politis


PDF


Print



02-06-2008

Sarasehan Pengembangan Media Pertunjukan Rakyat Tradisional se Jawa –Bali
YOGYAKARTA- Direktur Kelembagaan Komunikasi Sosial Depkominfo Dr. Udi Rosadi. MS. mengemukakan bagaimana kesenian tradisional/ pertunjukan rakyat yang hidup di masyarakat bisa didayagunakan dalam konteks penyebarluasan informasi. Karena sampai saat ini masih terjadi perdebatan bahwa seni pertunjukan tersebut harus pakai pakem, sehingga ketika dimuati pesan-pesan ada kekhawatiran akan mengancam hakekat atau isi dari pertunjukan rakyat sendiri.

Hal demikian disampaikan Dr. Udi Rosadi MS pada pengantar Sarasehan Pengembangan Media Tradisional Sabtu pagi (31/5) di Hotel Cakra Kembang Jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta yang diselenggarakan Kementerian Menkominfo bekerjasama dengan Panitia Daerah Provinsi DIY Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional tahun 2008.
“Seni Pertunjukan Tradisional harus mempunyai nilai-nilai atau pesan-pesan dalam pertunjukan tersebut. Pesan dan nilai tersebut bisa saja nilai pribadi, nilai individu, nilai kelompok kecil, nilai masyarakat sampai representasi nilai negara. Agar ada nilai hubungan/kepentingan rakyat dengan negara bagaimana seni pertunjukan rakyat ini bisa digunakan untuk itu, tetapi tidak sama sekali mempolitisir untuk intervensi dalam kepentingan-kepentingan politik atau merusak pakem pertunjukan tradisional itu sendiri”, kata Udi Rosadi
Sementara itu Dr. Ibnu Hamad praktisi dari Universitas Indonesia menyampaikan makalah dengan judul “Memahami Media Pertunjukan Rakyat” dalam sarasehan tersebut menyatakan bahwa untuk memahami Media Pertunjukan Rakyat perlu dibicarakan dahulu Media Tradisionalnya, Sedangkan untuk memahami Media Tradisional perlu dibicarakan dahulu seni Pertunjukan Rakyat karena keberadaan dan perkembangan media tradisional tak dapat dilepaskan dari kehidupan seni tradisional. Kehidupan media pertunjukan rakyat sebagai media tradisional menurut Ibnu Hamad sangat bergantung pada eksistensi seni pertunjukan rakyat itu.
“Sekalipun terjadi globalisasi, yang dicirikan dengan perkembangan ICT, media tradisional tetap potensial, karena pada dasarnya penggunaan tekhnologi memiliki asumsi yang sesuai dengan kebutuhan”, kata Dr. Ibnu Hamad, Praktisi dari Universitas Indonesia tersebut .
Sehubungan dengan hal tersebut dalam mengemas seni pertunjukan rakyat harus kreatif dengan memanfaatkan unsur-unsur kesenian rakyat seperti cerita/legenda rakyat sebagai naskah cerita, Nyanyian rakyat sebagai unsur hiburan, tarian rakyat sebagai daya tarik pertunjukan, banyolan untuk menyegarkan suasana pertunjukan dan pakaian adat untuk kostum.
“Dan yang tak kalah pentingnya dalam pertunjukan rakyat harus tetap memperhatikan etika dan estetika, karenanya pelaksanaannya harus diserahkan kepada seniman setempat, sebab dengan demikian media pertunjukan rakyat yang terbentuk bukan saja bermanfaat tetapi juga indah”, tambah Dr. Ibnu Hamad.
Sedangkan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA.,PhD. mengemukakan bahwa bentuk-bentuk kesenian rakyat yang selama ini tumbuh berkembang dan dilestarikan oleh masyarakat merupakan bagian dari bentuk-bentuk warisan budaya nenek moyang masa lampau. Kesenian ini diasumsikan masih lestari sampai kini tidak saja karena dukungan para pelaku dan kerabatnya saja tetapi juga dukungan penonton yang terdiri dari pemerhati dan penikmat seninya. Bahkan menurut Rektor ISI dapat dikatakan juga karena adanya campur tangan penguasa dalam berbagai bentuk aturan normatif, penyediaan fasilitas dan sarana kebijakan sosial politis bernegara yang diberlakukan bagi tujuan pelestarian dan tujuan komersial sebagai komoditas pariwisata dan tidak memungkiri bahwa banyak dari jenis seni pertunjukan rakyat tradisional yang sudah semakin langka ini dikhawatirkan sudah tidak eksis lagi alias sudah punah.
Usai paparan dari kedua nara sumber dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab dengan peserta sarasehan yang berasal dari pelaku seni, pemerhati serta tokoh seni yang beasal dari DIY, Jateng, Jabar, Jatim, DKI, dan Bali.




KESENIAN TRADISIONAL MERUPAKAN KEKAYAAN BANGSA
Friday, January 18, 2008

Oleh: M. Ajisatria Suleiman

Kegusaran masyarakat terhadap Malaysia akibat pemanfaatan tanpa ijin atas kesenian tradisional Indonesia seperti lagu rasa sayange pada jingle pariwisata Malaysia, klaim atas Reog Ponorogo, dan berbagai kasus lain sudah sewajarnya disalurkan melalui jalur hukum. Pemerintah Indonesia sebagai pemegang hak cipta berdasarkan hukum harus segera mengumpulkan bukti yang menyatakan bahwa kesenian tersebut sudah sejak lama merupakan kesenian tradisional Indonesia dan kemudian melayangkan gugatan terhadap otoritas yang berwenang di pengadilan Malaysia. Namun sesungguhnya apabila melakukan refleksi yang lebih dalam, permasalahan perlindungan hukum terhadap kesenian tradisional sebagai kekayaan intelektual memiliki dimensi yang lebih luas dari sekedar menggugat klaim hak cipta oleh pihak asing.

Kesenian tradisional adalah aset bangsa yang sangat berharga baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun budaya. Sebagai aset ekonomis, kesenian tradisional terbukti memiliki nilai komersil yang tinggi dengan banyaknya apresiasi dari dunia internasional. Namun lebih penting lagi, kesenian tradisional adalah warisan budaya yang memiliki arti penting bagi kehidupan adat dan sosial karena di dalamnya terkandung nilai, kepercayaan, dan tradisi, serta sejarah dari suatu masyarakat lokal. Beberapa kesenian tradisional misalnya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan belaka, namun di dalamnya terkandung penghormatan terhadap arwah leluhur dan nilai-nilai magis religius lainnya.

Hak kekayaan intelektual (HKI), khususnya hak cipta, menjadi instrumen perlindungan hukum utama atas kesenian tradisional Indonesia. Harus diakui bahwa mekanisme hak cipta memang belum sempurna dalam mengakomodasi perlindungan dan pemanfaatan yang layak bagi karya tradisional. Hak cipta merupakan hak yang dimiliki oleh individu atas ciptaannya, namun tidak mengatur mengenai hak tradisional yang dimiliki secara kolektif oleh suatu komunitas. Banyak suku di Indonesia mewarisi secara turun temurun suatu kesenian adat tradisional, sehingga pemegang hak atas kesenian tersebut bukan orang perseorangan melainkan komunitas tersebut secara keseluruhan.

Di sisi lain, sebagai suatu konsep hukum yang berasal dari kebudayaan barat, secara tradisional sesungguhnya masyarakat Indonesia tidak memahami filosofi dasar HKI. Dalam penelitian yang dilakukan di beberapa suku di Sasak dan Lombok (Sardjono: 2006, 119), ditemukan bahwa masyarakat adat ternyata tidak menganggap pengetahuan tradisional yang mereka praktekan sebagai ”miliknya.” Mereka rela apabila ada pihak lain yang menggunakan pengetahuan tersebut meskipun tanpa persetujuan terlebih dahulu karena beranggapan bahwa semakin banyak digunakan maka semakin bermanfaat pula pengetahuan itu.

Apabila seluruh unsur masyarakat di Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan potensi ekonomi kesenian tradisional sekaligus menghormati hak-hak sosial dan budaya bangsa, kondisi demikian tidak dapat dibiarkan. Beberapa langkah perlu dilakukan dengan menitikberatkan upaya pada pemberian kebebasan bagi masyarakat adat atau seniman tradisional itu sendiri dalam memilih pemanfaatan yang layak bagi ciptaannya. Dalam hal ini terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh seluruh unsur masyarakat sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing sehingga tidak dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah.

Pertama adalah memberikan pemahaman kepada masayarakat adat dan para seniman tradisional mengenai arti penting kesenian tradisional. Apabila mereka sudah mengetahui hak-haknya yang dilindungi oleh hukum, maka kemudian mereka dapat memiliki pemahaman yang layak dan kebebasan untuk menentukan sendiri pemanfaatan ciptaan mereka.

Dalam melakukan program edukasi demikian, dibutuhkan unsur masyarakat yang dapat berbaur dengan masyarakat setempat. Untuk memberikan pemahaman terhadap komunitas adat, diperlukan pemahaman atas sistem sosial mereka sehingga dapat menjangkau pemimpin adat sebagai pengambil keputusan tertinggi. Oleh karena itu, lembaga swadaya masyarakat (LSM), tokoh budaya, dan elemen masyarakat sipil lainnya memegang peranan vital dalam mewujudkan strategi ini.

Kedua adalah memanfaatkan kesenian tradisional secara optimal dengan menghormati hak-hak sosial dan budaya masyarakat yang berkepentingan. Salah satu faktor rendahnya kesadaran hukum masyarakat akan pentingnya perlindungan atas kesenian tradisional adalah kurangnya minat terhadap kesenian itu sendiri. Tidak jarang kesenian tradisional Indonesia lebih diapresiasi oleh pihak asing dibandingkan oleh masyarakat Indonesia. Beberapa karya adaptasi atas kesenian tradisional Indonesia justru dilakukan oleh seniman asing dan ternyata mendapat sambutan yang positif.

Seluruh pemangku kepentingan pada industri kesenian, produser musik contohnya, harus berpartisipasi dalam mendorong perkembangan kesenian tradisional. Di sisi lain, pelaku industri ini juga harus memberikan kompensasi yang layak sebagai wujud perlindungan hukum atas seniman tradisional. Sebagai pihak swasta, langkah ini dapat dikategorikan sebagai program kepedulian sosial (corporate social responsibility).

Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat terdapat perusahaan bernama Shaman, Inc. yang menjalankan usaha pengembangan teknologi dan pemasaran atas obat-obatan tradisional yang diramu oleh penyembuh tradisional (dukun) di Amerika Latin. Mereka mengembangkan dan menjual produk obat tradisional dengan memberikan royalti yang layak kepada penyembuh tradisional tersebut. Pelaku industri seni dapat mengadopsi mekanisme yang sama terhadap kesenian tradisional.

Ketiga adalah melakukan dokumentasi yang komprehensif. Dokumentasi yang memadai atas kesenian tradisional Indonesia berfungsi sebagai mekanisme perlindungan defensif untuk menanggulangi penyalahgunaan (misappropriation) instrumen HKI terhadap pengetahuan tradisional Indonesia di luar negeri.

Dokumentasi ini yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh advokat-advokat Indonesia sebagai dasar pembuktian bahwa suatu kesenian yang didaftarkan atau dimanfaarkan di luar negeri adalah tidak orisinal sebagaimana dipersyaratkan dalam hukum hak cipta internasional. Dalam kasus lagu “rasa sayange” misalnya, apabila Indonesia memiliki dokumentasi yang mendukung lagu tersebut sebagai lagu tradisional Indonesia yang sudah dipraktekan sejak lama, maka sudah didapatkan dasar gugatan yang memadai. Dokumentasi ini dapat berupa rekaman, manuskrip, atau laporan penelitian.

Proses dokumentasi harus dilakukan dengan melibatkan segenap elemen akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang hukum, kesenian, musikologi, antropologi, jurnalisme, budaya, dan unsur lain yang terkait. Untuk menekan biaya dokumentasi, partisipasi masyarakat juga harus dibuka seluas-luasnya sehingga data dan informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber.

Pada akhirnya, setiap langkah yang dilakukan membutuhkan dukungan pemerintah sehingga tercipta upaya yang komprehensif, sistematis, dan berkelanjutan. Pelaksanaan edukasi hukum atas kesenian tradisional dan kemitraan antara pelaku industri seni dengan masyarakat tradisional harus berada dalam pengawasan pemerintah. Sementara itu, pemerintah juga harus menjadi ujung tombak proses dokumentasi dan pengajuan gugatan terhadap setiap pihak asing yang menyalahgunakan kesenian tradisional Indonesia. Tujuan akhir dari seluruh langkah ini tentu saja adalah meningkatkan daya saing bangsa sekaligus mengembangkan harkat dan martabat sosial budaya Indonesia, baik pada tingkat domestik maupun internasional.



Tipe Dokumen Tesis Penulis SUBIYANTO, No. Panggil T.PU SUB t-128 URN etd-0808106-131659 Judul Tradisi budaya muludan di Cirebon dalam perspektif budaya pancasila : studi naturalistik tentang nilai-nilai budaya tradisional sebagai upaya pengembangan pendidikan umum Gelar Magister Pendidikan Jurusan Pendidikan Umum/Pendidikan Nilai Pembimbing

Tanggal Sidang 1999-01-02 Sipat Pengaksesan unrestricted Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keyakinan bahwa pendidikan, terutama Pendidikan Umum, harus mempersiapkan suatu cara untuk mengembangkan jati diri peserta didik. Hal ini berarti pendidikan harus berakar pada kebudayaan bangsa mampu menjalankan misinya sebagai penegmbang, transformasi dan sekaligus terapi budaya, sedangkan sekolah sebagai wahana memperknalkan dan menganalisis kebudayaan.

Dengan pendekatan naturalistik dan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi, penelitian ini mengkaji tiga permasalahan, yaitu nilai-nilai yang dianut dan diyakini masyarakat dalam tradisi muludan, faktor-faktor yang menjadi penyebab berkembangnya nilai-nilai tersebut dan peranan nilai-nilai tersebut dalam konteks perkembangan dan perubahan masyarakat. Data-data yang dibutuhan diperoleh dari panitia peringatan muludan (kerabat dan petugas keraton), masyarakat pengunjung, para ulama, budayawan, cendikiawan, aparat pemerintah dan generasi muda.

Dari hasil penelitian terungkap bahwa tradisi muludan memiliki sistem nilai tertentu yang dapat menggambarkan pandangan hidup dari masyarakat Cirebon. Sistem nilai yang dianut dan diyakini masyarakat dalam tradisi muludan bersifat diametral, dimana di satu sisi berkembang nilai-nilai Islami, tetapi juga berkembang nilai-nilai mistik.

Merujuk pada kerangka sistem nilai menurut Kluckhohn, maka nilai-nilai yang berkembang adalah hakekat hidup, hakekat karya, persepsi tentang waktu, hakekat hubungan dengan alam dan hakekat hubungan antar manusia. Merujuk pada kerangka sistem nilai menurut Spranger, maka nilai-nilai yang berkembang adalah nilai pengetahuan, nilai ekonomi, nilai estetika, nilai sosial, nilai politk dan nilai religi. Merujuk pada kerangka sistem nilai menurut Philip H. Phenix, maka makna-makna yang berkembang adalah makna symbolics, makna empirics, makna esthetics, makna synnoectis, makna ethnics dan makna syniptics. Sedangkan bila merujuk pada kerangka sistem nilai dasar dari Pancasila, maka nilai-nilai yang berkembang adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan.

Dianut dan diyakininya nilai-nilai tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor keluarga, masyarakat, pemerintah dan pendidikan.

Tradisi muludan, secara sosio kultural maupun sosio ekonomi memiliki tujuan positif, yaitu menanamkan nilai-nilai Islam dan menjadikannya sebagai panutan dalam segala aspek perilaku umat Islam. Sehingga, seandainya masyarakat mampu menangkap misi dan esensi yang sebenarnya dari peringatan itu, terlepas dari pro dan kontranya, nilai-nilai dalam peringatan ini memiliki peranan yang sangat berarti bagi perubahan dan perkembangan kehidupan sosial. Tetapi yang terjadi selama ini, peringatan tersebut masih sebatas tradisi keramaian dan romantisme kejayaan keraton atau mempertahankan tradisi yang ada dan memberi kesempatan kepada pedagang kecil memperoleh penghasilan sehingga belum mampu mendorong masyarakat ke arah perubahan dan perkembangan.

Memperhatikan dan menyimak hasil-hasil penelitian tersebut di atas, maka pada bagian akhir penulisan ini penulis sampaikan beebrapa rekomendasi, sebagai berikut:

1. Untuk menghilangkan, atau paling tidak meniminimalkan, dampak penyimpangan aqidah dalam pelaksanaan tradisi muludan, maka:

a. Pemerintah tidak hanya melihat tradisi ini sebagai komoditi pariwisata atau wahana memperkenalkan budaya semata-mata, melainkan juga harus disertai dengan tanggung jawab pembinaan terhadap masyarakat, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat sebagai bagian dari hidupnya.

b. Pihak keraton selaku penyelenggara tradisi muludan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para ulama untuk turut terlibat dalam memberikan pembinaan kepada masyarakat, tidak hanya sekedar menghadiri perayaan tradisi muludan.

c. Departemen Agama selaku mitra pihak keratoon dalam perayaan tradisi muludan lebih mengoptimalkan keterlibatannya dalam tradisi tersebut melalui memperbanyak kegiatan tabligh yang beisi penjelasan tentang misi dan esensi peringatan Maulud Nabi pada saat tradisi tersebut dilaksanakan, sehingga tidak hanya sekedar turut memeriahkan acara muludan.

2. Peranan sekolah, masayarakat dan keluarga dalam memperkenalkan dan menganalisis nilai-nilai suatu kebudayaan daerah sekitarnya dirasakan sangat penting. Peranan sekolah dapat dilakukan melalui optimalisasi materi muatan lokal (mulok) dan optimalisasi mata pelajaran mata pelajaran sosial budaya. Peran masyarakat melalui optimalisasi peran serta pesantren-pesantren atau majelis-majelis taklim dalam membina dan mengarahkan masyarakat, sehingga memiliki pemahaman dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Sedangkan peranan keluarga membina dan mengarahkan anggota-anggota keluarganya tentang nilai-nilai kebudayaan di lingkungan sekitarnya, sehingga anggota keluarga memiliki kepekaan dan kritisme terhadap suatu moralitas putra-putrinya. Karena dari keluargalah seorang anak pertama kali mengenal nilai, norma, dan moralitas, mengenal baik dan buruk, mengenal pengetahuan dan keterampilan-keterampilan dasar, dan sebagainya. Oleh karena itu, mengenal pengetahuan dan keterampilan-keterampilan dasar, dan sebagainya. Oleh karena itu, harapan perubahan dan perbaikan masyarakat terutama terletak dalam keluarga masing-masing.

3. perlu dipikirkan bersama oleh instansi-instansi terkait supaya suatu pembinaan dan penanggulangan yang arif dan bijaksana untuk mengatasi masalah dan fenomena maraknya anak-anak kecil dan orang tua (yang terlantar) yang memanfaatkan momentum tradisi muludan untuk meminta sedekah.

4. berkaitan dengan ketiga rekomendasi tersebut, maka perlu diteliti lebih lanjuttentang beberapa hal, antara lain :

a. peranan lembaga-lembaga nonformal dan informal, seperti majelis taklim, pesantren dan keluarga, dalam memperkenalkan sekaligus menganalisis nilai-nilai kebudayaan setempat bagi masyarakatnya sehingga diperoleh pemahaman masyarakat yang benar terhadap kebudayaannya.

b. Optimalisasi peran dan fungsi muatan lokal (mulok) di sekolah dalam mengkaji kebudayaan-kebudayaan setempat, sehingga peserta didi memperoleh bekal dalam menyikapi suatu fenomena yang berkembang di masyarakatnya secara tepat.




(Khusus Warga Negara Indonesia) : Kesenian Tradisional Kita Akan Segera Punah?


Dec 9, '07 6:10 PM
for everyone

Keprihatinan itu kian menguat, dan semakin hari makin mengkristal dalam benak. Melihat satu persatu kesenian adiluhung kita berguguran, punah ditinggalkan oleh pengikutnya dengan alasan perkembangan jaman. Apakah kita semua akan terus menyaksikan serpihan-serpihan budaya kita hilang musnah terhembus oleh budaya lain yang jelas-jelas tidak sejalan dengan pola budaya kita sendiri?

Tayangan bulletin siang RCTI pukul 12.00 WIB hari Minggu kemarin (9/12) membahas tentang keserumpunan antara kita bangsa Indonesia dengan saudara sedarah kita Malaysia, dimana disana ditayangkan kesenian-kesenian Indonesia yang ditampilkan di Malaysia, dan tetap mencantumkan seni tersebut berasal dari Indonesia, serta dijelaskan banyaknya orang asal Indonesia yang membanjiri Malaysia sejak masa silam dan membawa serta hasil budayanya, contohlah misalnya Budaya Minangkabau yang diterapkan di Negeri Sembilan, Jaran Kepang dan Reog alias Barongan yang dilestarikan di Johor dan Selangor, Model busana Aceh yang nampak pada busana daerah Perak, dan banyak lagi yang akarnya dari sini tapi kemudian menjadi bagian dari masyarakat Malaysia sendiri.

Bukan maksud saya membela, tetapi dalam sejarahnya kita sebenarnya pernah menjadi satu wilayah dengan Malaysia, dan menurut Menteri Pariwisatanya sendiri (yang juga suami mantan bom seks Indonesia 80’an Enny Beatrix, dan sekarang namanya Datin Anggraeni Adnan) berkata memang jelas-jelas budaya yang banyak diterapkan di Malaysia ini berakar dari Indonesia. Entah, kenapa kian memanas saja konflik antara kita berdua ini. Padahal dimata saya pribadi, Malaysia memperkenalkan budaya-budaya dari Asia, sebagai pembentukan citra dirinya sebagai Truly Asia. Maksudnya, agar orang tidak perlu susah-susah ke negara-negara Asia lainnya untuk melihat misalnya tari India, atau Cina, cukup ke Malaysia saja. Sekali lagi bukan saya membela…

Tapi sebenarnya kita sebagai bangsa Indonesia sendiri perlu berkaca dari semua kejadian tersebut. Coba anda lihat sendiri apa yang terjadi?

Kesenian tradisional kita sendiri justru tidak mendapat perhatian dari bangsa kita sendiri. Saya sependapat dengan apa yang disampaikan di RCTI kemarin siang. Berapa banyak sanggar budaya yang gulung tikar karena sepi peminat? Berapa banyak seniman-seniman yang hidupnya susah karena diabaikan? Berapa banyak lagi seni-seni yang seharusnya bisa menjual malahan dianggap kampungan, norak, ketinggalan jaman nantinya? Sementara penghargaan terhadap seni budaya Indonesia yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan itu? Mana?

Terlebih pada generasi muda sekarang, hanya segelintir yang masih berminat pada seni budayanya sendiri. Ramai-ramailah mereka memilih mengikuti trend dari luar yang dianggap keren dan gaul, sementara jika ditanya tentang kesenian khas daerahnya sendiri, mungkin sebagian besar akan menjawab kurang lebih mene ketehe. Malah yang memprihatinkan, anak muda yang masih menyukai seni tradisional dianggap kampungan, dan tidak gaul…bagi saya, ungkapan itu bukan kemajuan, melainkan kemunduran yang ekstrim. Menyitir kalimat terakhir tayangan di RCTI, siapa yang salah? Generasi muda? Ataukah orangtuanya yang tidak mengajarkan nilai-nilai budaya tersebut? Pertanyaan yang hanya kita yang bisa menjawabnya.

Jadi, kita jangan sekedar marah-marah saja manakala kesenian kita dikenalkan oleh bangsa lain. Kita seharusnya juga harus melakukan langkah yang sama, kesenian kita jumlahnya ribuan yang saking banyaknya sampai mungkin memori otak kita tidak cukup untuk mengingat satu persatu. Kenalkan seni budaya kita yang beragam itu. Selamatkan dari kepunahan, atau apa anda ingin kalau suatu saat kita harus belajar gamelan bukan di Solo, melainkan ke Belanda atau malah Malaysia? Apa tidak malu nanti?

Sekali lagi, ini bukan bermaksud untuk membela siapa-siapa, tetapi tak lebih dari berbagi pikiran untuk mengingatkan bangsa kita sendiri agar sadar dengan segala potensi budaya yang selama ini dilupakan dan dininabobokan oleh budaya moderen yang tidak semuanya baik untuk diri kita. Ayo, bangkit! Bangkitkan lagi budaya-budaya kita yang nyaris punah ini dan jaga terus kelestariannya. Karena inilah kesempatan kita untuk menarik banyak wisatawan ke negeri kita, mau kan sukseskan tahun kunjungan wisata Indonesia yang sebentar lagi dimulai?

Mumpung belum terlambat…atau saksikan budaya-budaya kita punah tanpa bekas, dan hanya jadi cerita legenda belaka yang nantinya juga akan terhapus dari memori anak cucu kita atas nama modernitas dan kemajuan jaman.

Kalau tidak sekarang, kapan lagi?


DNR